Tuesday, September 01, 2015

Hidup Berkecukupan dengan Penghasilan Minim? Bisa, Asalkan...

Tuesday, September 01, 2015 Posted by rizka farizal 8 comments
Selepas lulus kuliah magister, Aku bekerja sebagai dosen. Aku memutuskan menjadi seorang dosen setelah galau memilih pekerjaan antara dosen atau pegawai. Aku juga sempat diingatkan senior, "Kamu yakin mau jadi dosen? Dosen itu pekerjaannya banyak tapi penghasilannya kecil. Bahkan penghasilannya bisa 10% dari teman-teman yang bekerja di perusahaan". Dipikir-pikir memang benar reminder dari senior aku itu. Pekerjaan dosen itu berat. Dosen tidak hanya mengajar di kelas, tapi juga melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Belum lagi dengan syarat pendidikan, seorang dosen minimal harus berpendidikan S2. Masa iya, sudahlah pekerjaannya berat, jenjang pendidikannya tinggi tapi penghasilannya rendah di bawah UMR. Meskipun demikian, aku tetap bertahan menjadi dosen. Biarlah penghasilannya sedikit, yang penting aku bisa menabung untuk akhirat, dengan memberikan ilmu yang bermanfaat kepada anak didikku.

Jika berpikir secara realistis, aku memang tidak akan bisa hidup dengan penghasilan dosen yang minim (hanya 1.6 juta). Dalam sebulan, aku mempunyai kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi. Seperti:

Makan 3X/hari: 30.000 x 30 hari = 900.000
Bayar listrik dan air kosan: 200.000
Bayar pulsa dan internet: 150.000
Kebutuhan pribadi (alat mandi, pembalut, dll): 250.000
Transportasi/bulan: 100.000
Total: 1.600.000

See, penghasilan aku hanya cukup memenuhi kebutuhan bulanan. Dengan penghasilan tersebut, secara realistis aku tidak akan bisa berhura-hura di mall, karaoke, makan di restoran mewah, traveling. Jangankan beli smartphone, makannya saja sudah paket hemat. Jangankan beli lipstick 500 ribu, beli lipstick 50 ribu saja tidak sanggup.

Lalu, apa solusinya? Minta tambahan uang lagi kepada orangtua? Jujur, aku sudah malas meminta tambahan kepada orangtua. Meskipun orangtua aku masih mau membantu finansial, tapi aku tidak enak hati harus merengek meminta tambahan uang lagi. Sudah cukuplah orangtua membiayai finansial aku sampai pendidikan S2. Sekarang saatnya aku mandiri secara finansial. Aku ingin melatih mengelola keuangan supaya kelak tidak gagap saat berkeluarga, menjadi istri dan seorang ibu. Kalau bukan sekarang, kapan lagi bijak mengelola keuangan. Betul ngga?

Rajin bersedekah adalah solusi pertama menambah rejeki

Aku sangat percaya dengan keajaiban sedekah. Karena pengalamanku selama ini, sedekah malah menambah rejeki. Yap, aku sering mendapat rejeki yang tidak disangka-sangka melalui sedekah. Aku pernah bersedekah, beberapa jam kemudian aku melihat pengumuman kompetisi blog dan aku menang. Hadiah kompetisi blog itu 5X dari sedekah yang baru aku sedekahkan. Pernah juga saat pertama kali berqurban sewaktu kuliah dulu. Dua bulan setelah berqurban, aku dikasih umrah gratis. Masih banyak keajaiban sedekah lainnya yang aku rasakan. Karena itu, sampai saat ini aku tidak pernah khawatir dengan kondisi finansial. Meskipun penghasilan minim, tapi selalu bersedekah, Insya Allah ada rejeki tambahan yang datangnya tidak disangka-sangka.

Cerdik mencari penghasilan tambahan 

Dengan penghasilan bulananku yang minim, mau ngga mau aku harus mencari tambahan income untuk memenuhi kebutuhan finansial. Aku pernah mendengar quote Ridwan Kamil, "pekerjaan yang menyenangkan itu adalah hobi yang menghasilkan uang". Aku pun memanfaatkan hobi dan bakat untuk produktif. Saya hobi berkebun. Dengan berkebun, aku tidak hanya menjaga lingkungan tapi juga dapat menghemat biaya keuangan. Aku tinggal panen sayuran kemudian makan sayur. Lumayan hemat uang dan sehat.

Aku juga hobi menulis blog. Kemudian aku memanfaatkannya supaya menulis blog itu produktif. Aku sering mengikuti lomba blog dan job review. Alhamdulillah, dari hobi blog tersebut, aku bisa mendapatkan smartphone baru, tambahan uang belanja, buku, souvenir, dll. Aku bersyukur meskipun penghasilan bulanan aku minim, tapi aku masih bisa menabung dan bertahan hidup berkat hobi nge-blog.  

Sumber: Sun Life Financial

Bijak mengelola keuangan

Bagi aku, orang yang keuangannya cukup itu bukanlah orang yang berpenghasilan tinggi tapi orang yang mampu mengelola keuangannya sehingga bisa hidup berkecukupan. Untuk apa penghasilan banyak tapi hidup berfoya-foya, tidak ada tabungan dan kemudian berhutang. Banyak loh kita lihat kisah nyata orang yang mudanya kaya raya namun tuanya miskin dan banyak hutang.

Aku juga pernah dinasihati tanteku, "kita tidak perlu menjadi orang kaya raya, yang penting itu menjadi orang yang berkecukupan. Kalau mau beli rumah, ada uang yang cukup untuk membayar DP dan menyicil uang. Kalau mau beli kendaraan, ada anggaran cukup untuk membelinya. Kalau mau traveling keliling nusantara atau ke luar negeri, ada uang yang cukup. Pokoknya ada uang yang cukup untuk memenuhi keinginan. Percuma saja menjadi orang yang kaya raya, punya banyak rumah mewah, kendaraan mewah dan harta milyaran. Toh, uang itu tidak akan dibawa saat mati". Nasihat tante tersebut selalu aku ingat. Aku pun berupaya mengelola keuangan supaya dapat hidup berkecukupan.

Oleh karena itu, aku pun mempunyai tips bijak mengelola keuangan.

1. Membuat cashflow pemasukan dan pengeluaran yang rapi

Setiap bulannya aku selalu merencanakan anggaran bulanan. Aku membuat anggaran dengan kelompok-kelompok:

Kelompok belanja bulanan: uang makan, uang belanja bulanan di supermarket, biaya listrik dan air
Kelompok uang tak terduga: sakit, dll
Kelompok uang tabungan

Kelompok belanja bulanan dan tak terduga aku pisahkan dan disimpan dalam amplop. Sedangkan kelompok uang tabungan, aku pisahkan dalam rekening tabungan yang berbeda. Rekening tabungan tersebut tidak ber-ATM. Supaya aku bisa menabung dan tidak tergoda dengan discount dan sale besar-besaran yang dapat memanfaatkan kartu debit.

2. Berhemat 

Sumber: Sun Life Financial

Aku selalu menerapkan pepatah hemat pangkal kaya. Cara berhematku adalah berjalan kaki ke kampus, masak sendiri, berkebun, memanfaatkan WiFi gratis, dll.

3. Mempertimbangkan skala prioritas
 
Saat ini, prioritas keuanganku adalah memenuhi kebutuhan bulanan. Oleh karena itu, aku berupaya memenuhi kebutuhan bulanan terlebih dahulu. Prioritas lainnya adalah menabung untuk masa depan yang lebih cerah. Oleh karena itu, aku berupaya mengontrol keungan untuk tidak berbelanja yang tidak dibutuhkan, tidak berbelanja yang hanya memenuhi nafsu saja. Tapi berbelanja sesuai kebutuhan bukan keinginan.

4. Tidak menganut paham BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita) 

Sumber: Sun Life Financial

Untuk menghemat keuangan, aku berupaya untuk tidak menganut paham BPJS. Aku bermain-main ke mall atau pusat perbelanjaan sekali seminggu atau sekali dua minggu. Kalaupun ke pusat perbelanjaan aku selalu menghindari store yang dapat merangsang aku mengeluarkan uang tabungan. Hal itu aku lalukan supaya tidak tergoda dengan belanja yang tidak dibutuhkan. Pokoknya aku harus bisa menghindari jiwa sosialita supaya dapat berhemat.

5. Berinvestasi masa depan

Sumber: Sun Life Financial

Aku ingin masa depan yang cerah dan mapan. Karena itu aku berupaya untuk mewujudkan masa depan yang cerah. Menurut aku, solusi untuk masa depan cerah adalah dengan berinvestasi. Karena investasi tidak akan mengurangi tabungan tapi malah menjaga tabungan. Berinvestasi itu banyak caranya, seperti: investasi emas, investasi tanah, investasi pendidikan dan asuransi.
So, sudah jelaskan bahwa kunci hidup berkecukupan itu adalah bijak mengelola keuangan. Meskipun penghasilan dari profesi utama itu minim, asalkan mengelola keuangannya jago, masih bisa kok hidup berkecukupan. For your information, meskipun penghasilan utamaku minim, aku tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan bulanan tapi juga masih bisa memiliki tabungan yang lumayan dan sesekali menikmati kesenangan hidup seperti: makan di tempat mewah, traveling, dll. Yuk, kelola keuangan dengan bijak!!!