Thursday, May 28, 2015

Maninjau, Danau Ribuan Keramba

Thursday, May 28, 2015 Posted by rizka farizal 2 comments
Kesan Maninjau, Sumatera Barat bagiku bukan hanya kampung halaman tempat nenek buyutku lahir. Bagiku Maninjau adalah danau tektonik dengan pemandangan terindah. Apalagi jika melihat Danau Maninjau dari kelok 44, makin elok pemandangannya. Tak hanya pemandangan, Danau Maninjau juga kaya akan hasil perikanan. Banyak hasil danau yang hanya ada di Maninjau, seperti: pesi (kerang versi mini), ikan bada (ikan sebesar telunjuk), rinuak (ikan sangat mini berukuran sekitar 1 cm). Semua hasil danau tersebut menjadi sumber lauk pauk penduduk dan oleh-oleh bagi wisatawan. 

Sadar akan potensi perikanan Maninjau, banyak penduduk yang mencari penghasilan dari perikanan. Bermula dengan pesi, ikan bada dan rinuak kemudian penduduk setempat mencari peluang bisnis untuk budidaya perikanan. 

Adalah keramba jaring apung yang biasa disebut penduduk setempat dengan "karamba" menjadi bisnis budidaya perikanan di Maninjau. Keramba adalah sarana pemeliharaan ikan berbentuk persegi yang terapung di air. Jenis ikan yang biasa dibudidayakan adalah nila. Keramba Danau Maninjau memiliki kerangka bambu (batuang) dengan media jaring dan kerangka besi dengan media pelampung berupa drum plastik. Untuk keramba batuang dibutuhkan 18 batang batuang sedangkan keramba besi dibutuhkan 16 drum. Ukuran keramba keseluruhan 6x6 meter dengan luas jaring 5x5 meter.


Budidaya keramba dimulai dengan sterilisasi benih. Caranya dengan merendam dalam larutan Kalium Pemanganat selama 15-30 menit. Setelah itu, tebarkan benih pada sawah pembibitan. Setelah 1 bulan pembibitan, tebarkan bibit ikan (biasanya berukuran 1 inchi) ke keramba. Sebaiknya penebaran bibit dilakukan pagi hari supaya ikan tidak kaget atau mati akibat perbedaan suhu. Lama budidaya ikan keramba sekitar 3-4 bulan sampai ikan siap panen. Selama pemeliharaannya, berikan pakan berupa pelet selama 3 kali/hari: pagi, siang, malam.


Budidaya keramba Maninjau sangat menguntungkan. Penduduk tidak khawatir dengan sempitnya lahan tanah karena budidaya keramba dilakukan di danau. Modal budidaya keramba juga tidak terlalu mahal. Budidaya keramba tidak hanya untuk konsumsi pribadi/keluarga tapi juga dapat dijual dengan laba yang lumayan. Penjualannya sampai ke luar Maninjau bahkan luar provinsi Sumatera Barat seperti Riau dan Jambi.

Melihat potensi bisnis budidaya keramba Maninjau, banyak pengusaha luar yang tertarik. Saat ini, budidaya keramba justru lebih banyak milik pengusaha luar Maninjau daripada penduduk setempat. Bahkan, keramba sudah over capacity. Jumlah ideal keramba Maninjau 3.000 petak. Saat ini, jumlah keramba sudah lebih 30.000 petak.

Masalah over capacity mengakibatkan berkurangnya keindahan wisata Danau Maninjau. Selain itu, mengakibatkan berlebihnya jumlah pakan yang masuk ke danau. Karena terlampau banyaknya pakan yang ditebar, ikan pun tak sanggup memakannya. Sehingga seperlima dari pakan yang tidak dimakan ikan (sekitar 18.000 ton) mengendap di dasar danau sebagai sedimen kimia. Sisa pakan mengakibatkan peningkatan kadar fosfat dan nitrogen sehingga menimbulkan ledakan organisme mikro yang dapat menguras sumber daya oksigen. Para peneliti menyebut kondisi tersebut "ekosistem air danau mati"[1]. 

Masalah lain dari keramba Maninjau adalah peristiwa alam berupa angin atau hujan yang membuat danau berombak dan membuat sedimen pakan menyebar ke permukaan. Peristiwa tersebut disebut tubo belerang. Tubo belerang mengakibatkan kematian masal ikan sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap.

Upaya Memajukan Budidaya Ikan Keramba Danau Maninjau

Untuk mengatasi masalah budidaya keramba, perlu dilakukan upaya sebagai berikut:

  1. Petani memberikan pakan organic yang tidak merusak lingkungan dan tidak memberikan pakan ikan berlebihan. Untuk mengurangi pengendapan di dasar danau, petani dapat menyedot tumbukan pakan yang mengendap. Petani juga harus memiliki break time dengan tidak menebar benih. Disarankan pada musim hujan (bulan Oktober-Januari). Selain itu, perlu melakukan panen secara dini agar tidak menimbulkan over capacity.
  2. Petani harus mengatur kedalaman dan jarak antar keramba dengan bibir danau. Petani juga dapat membuat model keramba alternatif seperti keramba jaringan berlapis. Sehingga pakan yang tidak dimakan ikan pada lapisan atas dapat dimakan ikan pada lapisan bawah. 
  3. Pemerintah harus menegakkan peraturan yang dibuatnya sendiri, yaitu Perda No.5/2014 tentang Pelestarian Danau Maninjau. Pemerintah harus membatasi jumlah keramba. Sebaiknya budidaya keramba hanya untuk penduduk setempat dan tidak perlu pengusaha luar Maninjau. Penduduk setempat juga perlu dibatasi jumlah kerambanya. Selain itu, lokasi keramba perlu ditertibkan untuk kenyamanan wisatawan ke Danau Maninjau. Sebaiknya lokasi keramba terletak dekat hutan yang jauh dari wisatawan. 
  4. Perlunya kerja sama dengan lembaga/perusahaan perikanan/akuakultur yang peduli dengan kelestarian ekologi dengan memberikan pelatihan kepada petani tentang budidaya perikanan seperti CP Prima. CP Prima adalah perusahaan akuakultur terkemuka di Indonesia yang bergerak di bidang pakan dan makanan olahan. Sejak berdiri April 1980, CP Prima sudah memproduksi dan memasarkan pakan budidaya perikanan, benur, probiotik dan produk udang untuk pasar ekspor dan dalam negeri. CP Prima juga mengevaluasi kinerja dan kontribusi di bidang sosial dan menetapkan praktik yang ramah lingkungan di seluruh proses operasional[2].

Referensi:


Reaksi:

2 comments: