Monday, April 27, 2015

Hadapi Tantangan dan #BeraniLebih Pintar

Monday, April 27, 2015 Posted by rizka farizal No comments
Setelah lulus S1, terbesit dibenakku untuk melanjutkan S2. Beruntungnya ibu mendukung impianku. Aku sempat memastikan lagi kepada ibu. "Ibu yakin sanggup menyekolahkanku? Masih ada adek yang masih kuliah S1", kataku. "Insya Allah sanggup", kata ibuku. Sejak ayah meninggal, ibuku menjadi single parent dan tumpuan keuangan keluarga. Meskipun ibu seorang dosen tapi aku sempat ragu melanjutkan S2 karena kondisi keuangan keluarga. Memang ada program beasiswa. Namun, nilai S1 yang nge-pas menurunkan semangatku untuk bersaing mendapatkan beasiswa.

Setelah mendapat restu ibu, Aku mempersiapkan diri menghadapi tes. Belajar TOEFL dan TPA. Alhamdulillah, aku diterima menjadi mahasiswa S2 pada program studi dan PTN yang sama dengan S1 dulu.

Huh, paling lanjut kuliah karena belum bekerja

Ucapan itu sering terlontar kepadaku. Tidak hanya satu orang tapi banyak orang. Awalnya, aku sedih. Memang sih sebelum mendaftar S2, aku sempat mengikuti rekrutasi 1-2 perusahaan. Kebetulan juga aku belum berjodoh dengan perusahaannya. Bukan berarti aku kuliah S2 karena iseng dan tidak terkesan pengangguran. Justru aku kuliah S2 karena merasa kurang cukup dengan perbekalan ilmu saat S1. Mungkin juga Tuhan sependapat denganku. Tuhan mentakdirkanku gagal rekrutasi ke perusahaan supaya aku istiqamah dengan impianku sebelumnya, yaitu melanjutkan S2.

Tidak peduli ucapan orang lain kepadaku. Lebih baik membuktikan keseriusanku dengan belajar tekun. Toh, menuntut ilmu bermanfaat bagiku. Selain menjadi lebih pintar juga bernilai ibadah. Hmm, apa mereka takut melihatku #BeraniLebih pintar?

Memangnya keluargamu sanggup membiayai kuliah?

Seperti yang diceritakan sebelumnya bahwa aku kuliah S2 dengan uang pribadi. Ada orang yang ragu dengan kesanggupan finansial keluargaku. Alhamdulillah, Tuhan memudahkannya. Aku meringankan ibu membayar SPP sejak awal semester perkuliahan. Meskipun tidak 100% membiayai kuliah sendiri, tapi masalah SPP dapat teratasi lewat tambahan rejeki berikut:

Semester 1: dapat honor penelitian dosen 
Semester 2: honor asisten laboratarium + uang THR dari keluarga besar 
Semester 3: tabungan hasil berhemat selama beberapa bulan 
Semester 4: menang lomba blog

Uang memang bukan segalanya. Tapi uang merupakan alat untuk melangsungkan kehidupan, termasuk pendidikan. Apabila niat menuntut ilmu itu baik, maka Tuhan akan mencukupi rejeki umat-Nya lewat jalan yang tidak disangka-sangka. Sehingga, keraguan untuk membayar SPP setiap semester dapat terpenuhi dengan kerja keras mendapatkannya. Meskipun harus mengorbankan tenaga 2X, yaitu: belajar di kelas dan bekerja.

Memangnya kamu dapat bersaing dengan temanmu?

Aku tergolong anak yang berkemampuan biasa saat S1. Dosenpun tidak mempertimbangkanku. Malah dosen lebih sayang dengan memberikan pujian dan kepercayaannya kepada teman-temanku. Tapi itu tidak membuatku minder bersaing dengan teman-teman. Aku belajar tekun. Tanpa tugas dari dosen, aku tetap membaca referensi kuliah dan mengerjakan soal latihan. Alhasil, nilaiku S2 meningkat drastis. Lebih tinggi dari beberapa orang temanku. Bahkan, saat sidang kelulusan ada dosen yang bilang, nilaiku sangat fantastis. Alhamdulillah, selain berniat menjadi perempuan yang #BeraniLebih pintar, aku pun memperoleh nilai IPK tinggi.

Kata orang, "Hidup itu seperti roda yang selalu berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Tak selamanya seseorang berada di bawah. Suatu saat pasti akan berada di atas dengan mengerahkan semua kemampuan yang dimilikinya". Dan aku berhasil membuktikannya.

Twitter: @rizka2701
Facebook: Rizka

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment