Wednesday, January 28, 2015

Resolusi Hijau 2015: Urban Farmer

Wednesday, January 28, 2015 Posted by rizka farizal 5 comments
Bulan Januari identik dengan bulan resolusi. Maklum januari adalah bulan pertama dalam satu tahun. Orang-orang yang mempunyai visi biasanya membuat resolusi sebagai target yang harus dicapai dalam waktu setahun. Termasuk aku sendiri. :D

Ada hal yang berbeda dengan resolusi tahun 2015. Pada tahun ini, aku tidak hanya membuat resolusi standar seperti dapat kerja yang sesuai keinginan, menjadi blogger profesional ataupun menikah dengan seseorang yang sesuai di hati. Hahaha. Tahun 2015, aku mempunyai Resolusi Hijau 2015. Kenapa aku menambahkan Resolusi Hijau 2015? Karena aku sadar akhir-akhir ini sering banjir, tanah longsor, air bersih semakin terbatas serta terjadinya global warming. Aku ingin meminimalisir semua musibah tersebut dengan "The Nature Conservancy Program Indonesia", melindungi alam dan melestarikan lingkungan Indonesia.

Sebenarnya sudah banyak usahaku untuk melestarikan lingkungan dari tahun-tahun sebelumnya. Aku membiasakan diri untuk menolak kantong plastik. Kalaupun terpaksa, cukup menggunakan satu kantong plastik dengan bahan yang mudah ditelan bumi. Aku juga terbiasa mencatat dengan menggunakan gadget untuk menghindari kertas yang menumpuk. Jika ada pilihan bahan bacaan menggunakan hardcopy atau softcopy, aku lebih memilih softcopy. Hemat kertas kan? Kebiasaan lainnya adalah dahulu aku lebih senang berjalan kaki ke kampus. Di samping bermanfaat untuk kesehatan, jalan kaki juga dapat mengurangi polusi udara dari kendaraan bermotor. Oh iya, satu lagi kebiasaanku adalah membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Bahkan, aku sampai bela-belain untuk menyimpan sampah pada saku atau tas sampai menemukan tempat sampah.

Tahun 2015, aku ingin lebih mencintai lingkungan. Karena itu, aku menambahkan Resolusi Hijau 2015 dengan menjadi petani kota atau yang lebih kerennya disebut urban farmer. Aku ingin menjadi urban farmer bukan karena urban farmer sedang tren atau terdengar seksi akhir-akhir ini. Bukan. Bukan itu. Banyak alasanku untuk menjadi urban farmer:

Pertama, aku ingin menjaga keseimbangan ekologi. Sebagai penduduk kota Bandung, aku merasakan peningkatan suhu udara pada siang hari. Padahal Bandung terletak di dataran tinggi yang identik dengan kota yang sejuk. Dengan menjadi urban farmer, aku berharap bisa menurunkan suhu udara di perkotaan khususnya kota Bandung. Dengan menanam tumbuhan seperti sayuran, buahan atau bunga, tentu akan menambah pasokan oksigen. Sehingga penduduk perkotaan juga dapat menghirup udara segar dan menyejukan mata, bukan?

Indahnya kebun sayuran kangkung dan salada (doc: koleksi probadi)

Kedua, aku ingin memberikan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain. Seperti diketahui bahwa urban farming itu tidak sulit. Penduduk perkotaan dapat memanfaatkan lahan kosong dan terbatas menjadi produktif dengan berkebun. Berkebun dapat dilakukan dengan menggunakan pot, polybag, hidroponik, vertical garden atau rooftop garden. Aku ingin memberikan edukasi bahwa berkebun dapat dilakukan oleh semua lapisan masyarakat baik anak-anak, remaja maupun dewasa. Aku ingin memberikan ilmu berkebun yang sederhana. Seperti menanam sayuran yang paling sederhana (kangkung), menggunakan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) agar dapat mengurangi sampah dan berkebun pun lebih hemat. Prinsip 3R dapat digunakan dengan memanfaatkan sampah organik untuk dijadikan composting (pupuk kompos) dan memanfaatkan sampah anorganik seperti botol bekas untuk dijadikan pot tanaman.

Cara menanam kangkung:
  1. Masukan tanah dan campurkan dengan pupuk organik
  2. Lubangi tanah sekitar satu ruas jari
  3. Masukan benih kangkung
  4. Gali tanah
  5. Siram dengan air

Cara membuat pot dari botol bekas:
  1. Ambil botol bekas
  2. Lubangi bagian bawah untuk mengalirkan air
  3. Beri warna pada botol bekas supaya terlihat cantik
  4. Gantungkan botol bekas dengan tali (optional)

Cara membuat pupuk kompos:
  1. Masukan sampah organik berupa sisa-sisa makanan ke dalam wadah
  2. Campurkan sampah organik dengan sekam bakar. Kemudian aduk rata selama 30 menit.
  3. Tuangkan cairan EM4 sebanyak 2 ml untuk kesuburan tanah
  4. Campurkan glukosa sebanyak 2 sendok
  5. Ukur suhu dengan menggunakan termometer sampai menunjukan angka 40 – 45 derajat Celcius
  6. Tutup wadah yang sudah diolah dan simpan pada tempat teduh untuk memudahkan penguraian mikroogranisme.

saat aku berkebun bersama siswa TK
saat aku berkebun bersama masyarakat

Ketiga, aku ingin membiasakan pola hidup sehat. Pola hidup sehat dapat diperoleh dengan mengkonsumsi makanan sehat. Nah, dengan berkebun aku dapat mengkonsumsi makanan yang sudah jelas diketahui sumber makanannya. Aku dapat menggunakan bahan organik tanpa bahan kimia mulai dari pupuk sampai pencegahan hama (pestisida nabati). Tentu lebih sehat bahan organik daripada bahan kimia, bukan? Selain itu, penggunakan bahan organik juga lebih hemat daripada bahan kimia.

Cara membuat pestisida nabati:
  1. 1 siung bawang merah dan 1 siung bawang putih diiris sampai tipis
  2. Rendam bawang dan 1 sendok teh bubuk cabe ke dalam air
  3. Tuangkan 1 sendok sabun cair ke dalam botol yang berisi air
  4. Diamkan selama lebih kurang 1 jam
  5. Gunakan filter seperti kain furing untuk menyaring larutan ke dalam sprayer
  6. Semprotkan pestisida nabati ke tumbuhan

Selain dapat mengkonsumsi makanan sehat, berkebun juga bermanfaat bagi tubuh. Bisa dibilang berkebun itu olahraga versi sangat sederhana. Dengan berkebun dan merawat tanaman tentu badan akan bergerak dan mengeluarkan keringat. Nah, keringat atau metabolisme tersebut akan menyehatkan tubuh.

Keempat, aku ingin menjaga kestabilan ekonomi. Seperti diketahui bahwa pasokan pangan, sayuran dan buahan banyak diperoleh dari pedesaan. Padahal dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta jiwa tidak akan cukup memenuhi ketahanan pangan penduduk Indonesia (khususnya perkotaan) apabila hanya mengandalkan pasokan dari pedesaan. Tak heran kebutuhan pangan negara Indonesia diimpor dari luar negeri seperti Thailand dan Vietnam. Padahal Indonesia itu negara yang luas dan subur. Semua masyarakat dapat mencukupi kebutuhan pangannya sendiri dengan berkebun. Berkebun tidak membutuhkan waktu yang sangat lama. Cukup dua bulan, hasil kebun (seperti kangkung, bayam, pakcoy, caisim dll) dapat dipanen kemudian dimasak sendiri. Bahkan menikmati makanan dari hasil panen yang ditanam sendiri itu rasanya sungguh lezat dan nikmat.

Ekspor Impor Pertanian Indonesia Menurut Sub Sektor, Januari- Juni 2014
sumber: deptan.go.id
indahnya kebersamaan saat menikmati makanan hasil panen

Adapun resolusiku untuk mewujudkan urban farmer adalah:
  1. Berkebun organik (sayuran, buah, apotek hidup dan herb) pada tempat tinggal sendiri (Bandung) dan orang tua (Bukittinggi). 
  2. Aktif dalam kegiatan berkebun di kota baik yang melibatkan masyarakat maupun pelajar. 
  3. Mengkampanyekan urban farmer pada media sosial.

Demikianlah Resolusi Hijau 2015. Aku berharap dapat terus mewujudkan urban farmer. Sehingga tercipta The Nature Conservancy Program Indonesia. Salam urban farmer!

Referensi:
http://www.bdgberkebun.com/2014/11/bbb-3-minggu-3-pembuatan-pupuk-bokashi.html
Reaksi:

5 comments:

  1. beres berkebun langsung makan bareng kek gitu ? mauuu ikutaaan dong :D

    ReplyDelete
  2. aduh seneng banget tuh makan bareng di daun.... hmmmm ngiler nih jadi inget masa dikampung halaman ^_^

    ReplyDelete
  3. Ini program yang keren banget, Ka ^^b

    ReplyDelete
  4. sangat menarik sekali nih, makasih banyak udah share

    ReplyDelete