Wednesday, September 10, 2014

Tembok Koto Gadang Bukan Tembok China

Wednesday, September 10, 2014 Posted by rizka farizal 12 comments
Saat libur lebaran lalu, selain ke Danau Maninjau, Puncak Lawang aku juga sempat ke Tembok Koto Gadang yang terletak di perbatasan Bukittinggi dan Kabupaten Agam. Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan di Bukittinggi, aku baru pertama kali loh ke Koto Gadang. Maklumlah sejak didirikan tahun 2013, aku belum pernah ke Bukittinggi dan mengunjungi Tembok Koto Gadang. *kesian yah.

Tembok Koto Gadang membelah dinding Ngarai Sianok

Untuk menuju Tembok Koto Gadang, aku, Nadya, mami, dan Elsa melewati objek wisata Panorama dan Lobang Jepang terlebih dahulu. Lanjut terus dari sana akan menemukan perempatan jalan di Bantolaweh. Kami pun belok kiri dan langsung menuju Tembok Koto Gadang. Tak sampai 5 menit melewati jalan yang landai dan dikelilingi pepohonan, Kami pun berhenti di parkiran persis di belakang Lobang Jepang. Lokasi parkir dengan Tembok Koto Gadang tidak berdekatan. Karena itu, kami harus berjalan kaki satu putaran jalan untuk menuju gerbang Tembok Koto Gadang. *langsung siapin tenaga untuk menelusuri Tembok Koto Gadang.

Monumen di gerbang Tembok Koto Gadang

Tembok Koto Gadang yang memiliki panjang 1.7 meter diresmikan tanggal 26 Januari 2013 (*sehari sebelum ultahku donk) oleh Menkominfo Tifatul Sembiring. Konon katanya Tembok Koto Gadang milik pribadi Tifatul Sembiring. Tembok Koto Gadang yang memiliki desain seperti Tembok China versi mini membentang di Ngarai Sianok dan menjadi penghubung Bukittinggi dengan Kabupaten Agam. Bisa jadi Tembok Koto Gadang merupakan simbol persaudaraan yang menghubungkan 2 daerah tersebut.

Jalan setapak menuju Tembok Koto Gadang

Sudah lebih 10 menit menuruni jalan setapak, Kami masih belum menemukan Tembok Koto Gadang. Lelah. Kami pun beristirahat di pondok yang menjual karupuak kuah gadang jo mie. Aku pun langsung membeli karupuak kuah gadang jo mie. Saat menyantapi karupuak kuah, aku teringat masa kecil dulu yang sering membeli karupuak kuah jo mie. Hmm, raso karupuak kuahnyo nda barubah.

Karupuak kuah gadang jo mie

Tiba-tiba rintik gerimis pun muncul saat Kami masih di pondok. Meskipun demikian, beberapa pengunjung yang melintasi jalan setapak tetap semangat menerjang rintik gerimis. Lebih dari 5 menit, gerimis belum juga reda. Kami pun sepakat untuk tetap melanjutkan perjalanan menuju Tembok Koto Gadang. Karena hanya membawa 1 buah payung, Kami meminta kresek kepada penjual di pondok. Aloha! Aku pun menggunakan kresek di kepala.

Bertopi kresek dengan muka ngga karuan :((

Kami melewati jalan setapak dengan perlahan. Di tengah perjalanan, aku menanyakan lokasi Tembok Koto Gadang kepada penjual di sekitarnya. "Bu, bara jauah lai Tembok dari siko?" tanyaku menggunakan Bahasa Minang. "Tembok Chino? Dakek lai nyo. Kiro-kiro 100 meter lai", jawab penjual setempat dengan menggunakan Bahasa Minang. Wuah, ternyata Tembok Koto Gadang lebih dikenal Tembok China di sini.

Bentuk Tembok Koto Gadang memang mirip dengan Tembok China. Tapi Tembok Koto Gadang dengan Tembok China itu berbeda. Sebagai penduduk Indonesia, seharusnya Kita tetap menyebutnya Tembok Koto Gadang agar Tembok Koto Gadang bisa dikenal ke mancanegara. Kalau bukan Kita siapa lagi? Kita dapat membandingkannya dengan Jam Gadang. Jam Gadang itu mirip dengan Big Bang di Inggris. Tapi Kita selalu membanggakan Jam Gadang ke mancanegara. Alhasil Jam Gadang yang menjadi icon kota Bukittinggi pun terkenal ke mancanegara.

Akhirnya setelah berjalan menyusuri jalan setapak sambil memandangi pesona Ngarai Sianok, Kami pun menemukan Jembatan merah yang menghubungkan sungai dan dinding Ngarai Sianok. Jembatan merah terbuat dari kayu sehingga pengunjung akan merasakan goyangan seperti gempa mini saat melewati jembatannya. Supaya jembatan tidak roboh, pengunjung yang melewati jembatan merah dibatasi sebanyak 10 orang. Karena itu, pengunjung harus mengantri sebelum melewatinya.

Jembatan merah yang menuju Tembok Koto Gadang

Setelah melalui goyangan di Jembatan Merah, kami pun tiba di Tembok Koto Gadang. Tembok Koto Gadang ini memiliki banyak anak tangga sehingga banyak orang juga yang menyebutnya Janjang Koto Gadang. Dari Tembok Koto Gadang, Kami bisa melihat pesona indahnya Ngarai Sianok dengan sungai yang mengalir, pepohonan yang rindang, dan hawa yang sejuk. *Ya Allah indah nian Ngarai Sianok, sejuk lagi.

Nadya terpesona dengan Ngarai Sianok


Tak sampai menyelusuri banyak anak tangga hingga ke puncak tangga tertinggi, Kami pun memutuskan untuk pulang. Selain sudah lelah, cuaca yang masih gerimis menjadi halangan untuk tetap menaiki anak tangga.

Anak tangga Tembok Koto Gadang

Perjalanan pulang lebih melelahkan daripada perjalanan datang. Kalau sebelumnya Kami datang menelurusuri jalan setapak dengan menurun, sekarang harus melewati jalan setapak dengan menanjak. Apalagi sebelumnya Kami juga telah berjalan sekitar 15-20 menit. Wajar donk kami kelelahan dengan nafas terengah-engah saat balik pulang.

How to get there?

Tembok Koto Gadang terletak di Ngarai Sianok, perbatasan Bukittinggi dan Koto Gadang. Jika menaiki kendaraan pribadi, belok kiri saat menemukan perempatan Bantolaweh. Kemudian parkir persis di belakang Lobang Jepang. Saat itu, biaya parkiran tidak sampai Rp 10.000. Jika menggunakan transportasi umum, naiklah angkot merah yang mangkal di pasar bawah. Tanyalah kepada sopir angkot yang menuju Sianok. Sedangkan jika jalan kaki, tinggal turun melewati anak tangga dari Pical Sikai kemudian langsung tiba di parkiran mobil. Nggak akan berjam-jam kok jalan kakinya. Lumayanlah bisa trecking dan berolahraga. ;))
Reaksi:

12 comments:

  1. asiiik, mau dong ditraktir transport jalan-jalan ke sini.Pas banget aku lagi baca novelnya Asma Nadia yang Assalamualaikum Beijing. :) Bayanging Asma ama Zhongwen jalan di sini hehehe

    ReplyDelete
  2. Wah... saya baru dengar tentang keberaadaan Tembok Koto Gadang ini. Memang belum pernah ke Sumatra sih, tapi seharusnya tempat wisata macam ini juga dipublikasikan dengan baik ya jadi bisa cukup terkenal minimal untuk orang Indonesia sendiri.
    Smoga suatu saat bisa menjelajah Sumatra, termasuk ke Bukittinggi dan mengunjungi Tembok Koto Gadang ini. :)

    ReplyDelete
  3. Kunjungan balik ke blog mbak Rizka. Wow..baru tau ada 'The Great Wall' versi Sumatera barat. Keren abnget!
    Btw, tapi ada sampahnya ya mbak, heheee...

    ReplyDelete
  4. Keren banget ya Tembok Gadangnya, pemandangannya indah banget....Indonesia memang negara yang mempunyai beranekaragam keindahan alamnya yang membuat semua mata takjub memandangnya. Untuk apa harus jauh-jauh ke luar negeri, kalau negeri sendiri kaya akan keindahan alamnya...bener kan mbak......TFS ya

    ReplyDelete
  5. waaah keren nih! Masih di Bandung kan, Kak? Sesekali ajak pita pulang kampung ke sana :D
    semoga selalu sehat ya! :)

    ReplyDelete
  6. wah itu kerupuk gede banget .. enak ga ? haha

    ReplyDelete
  7. wah keren banget ya tembok gadangnya, kjadi pengen kesana :) aku beberapa tahun yg lalu ke padang tapi ga sempet kemana-mana cuma nyempetin beli oleh-poleh aja, pengennya keliling ke tempat wisatanya tapi ga keburu ^_^ kapan ya kesana lagi trs sambil jalan2

    ReplyDelete
  8. wah keren banget :) kapan ya bisa kesana

    ReplyDelete
  9. foto tembok koto gadangnya hampir mirip gunung api purba di yogyakarta, salam kenal ya

    ReplyDelete
  10. Numpang lewat ya gan :)

    http://idr-poker.blogspot.com/

    http://beritaolahraga108.blogspot.com/

    http://lihatberitaakurat.blogspot.com/

    http://liatberitabola.blogspot.com/

    http://beritaolahraga1081.blogspot.com/

    http://infobolakakiterbaru.blogspot.com/

    http://beritasportsterpercaya.blogspot.com/

    http://seputarberitabola108.blogspot.com/

    http://beritaterbaruseputarolahraga.blogspot.com/

    http://agen-bola-sbobet-jagad303.blogspot.com/

    ReplyDelete
  11. Aku juga pernah kesini kak, tempat nya bagus bgt :D

    Download film gratis

    ReplyDelete