Tuesday, August 12, 2014

Rakik-rakik, Tradisi Kemeriahan Malam Takbiran di Danau Maninjau

Tuesday, August 12, 2014 Posted by rizka farizal 2 comments
Takbir berkumandang, bedug bertalu-talu, kembang api bersinar, obor menyala memeriahkan malam takbiran di Indonesia. Masyarakat Indonesia biasanya memeriahkan malam takbiran di daerahnya masing-masing. Setiap daerah punya tradisi menarik untuk memeriahkan malam takbiran. Demikian juga dengan kampung nenekku di Maninjau, Sumatera Barat. Daerah yang terletak disekeliling Danau Maninjau punya tradisi menarik sehingga menambah eloknya pesona Danau Maninjau.

Adalah rakik-rakik, sebuah tradisi malam takbiran yang telah berpuluh-puluh tahun diadakan setiap malam takbiran di Danau Maninjau. Konon kata Wali Nagari Maninjau Meliardi, tradisi rakik-rakik telah ada sejak jaman Belanda yaitu belasan tahun sebelum kemerdakaan Indonesia. Menurut sejarahnya, dahulu kala saat malam Lailatul Qadr, bapak-bapak beri’tikaf di masjid, ibu-ibu beribadah dengan menyalakan obor di rumah, pemuda-pemuda bermain sampan di Danau. Kemudian muncullah ide untuk mengkombinasikan kebiasaan sampan, membuat rumah di atas sampan, dan membuat obor untuk penerangnya. Ide itulah yang kemudian menjadi rakik-rakik [1].

Mungkin ada yang roaming dengan kata rakik-rakik. Well, rakik-rakik merupakan Bahasa Minang dari rakit-rakit. So, arti rakik-rakik adalah merakit bambu dan menambah aksesoris lampu obor serta lampion. Dewasa ini, rakik-rakik dihiasi dengan telong (rakik-rakik kecil yang tergantung di samping rakik utama). Rakik-rakik dimeriahkan dengan badia batuang (semacam meriam bambu) untuk menambahkan keriuhan malam takbiran. Suara badia batuang sangat keras sehingga malam yang sunyi bergema di selingkaran Danau Maninjau. Apalagi sekarang ditambah dengan kembang api. Rakik-rakik ini diiringi dengan atraksi tambua (tambur / rebana ukuran besar) dan lantunan takbir yang berkumandang. Kebayang donk meriahnya Danau Maninjau saat malam takbiran?

Rakik-rakik dibangun jauh hari sebelum malam takbiran. Bahkan, sebelum bulan Ramadhan. Dana yang dikeluarkan untuk membuat rakik-rakik lumayan besar yaitu 7-8 jutaan. Dananya diperoleh dari swadaya masyarakat dan donatur dari urang rantau [2].

Dahulu, setiap nagari disekeliling Danau Maninjau mempunyai rakik-rakik. Rakik-rakik pun dilombakan antar nagari. Sayangnya, sekarang hanya 3 nagari yang masih membudayakan tradisi ini yaitu Nagari Maninjau, Tanjung Sani, dan Sigiran. Faktor dana merupakan alasannya. Sehingga, rakik-rakik yang dulunya dilombakan pun sekarang tidak dilombakan lagi.

Pada lebaran Idul Fitri 1435 H, nagari Maninjau memiliki 3 rakik-rakik yang dibuat oleh Jorong Baruah Kampuang (Barkam), Jorong Kububaru, dan Jorong Gasang. Jorong Barkam mengambil konsep design bangunan utama seperti Tabuik dengan telong masjid, rumah gadang, rangkiang. Jorong Kububaru memiliki design bangunan utama rumah gadang dengan telong rangkiang dan masjid. Sedangkan Jorong Gasang memiliki design seperti perahu naga. Aku sempat bingung dengan design Jorong Gasang yang memiliki design perahu naga. Hello, rakik-rakik kan memeriahkan malam takbiran bukan gong xi fa cai. #tepokjidat

Rakik-rakik jorong barkam

Rakik-rakik Jorong Kububaru

Bupati Agam, Indra Cati ikut memeriahkan rakik-rakik Idul Fitri 1435 H. Sekitar jam 23.00 WIB, bapak bupati bersama rombongan menaiki rakik-rakik Jorong Barkam. Dengan diiringi gema takbir, tambua, badia batuang serta kembang api, rakik-rakik berlayar hingga ratusan meter dari tepian hingga ke tengah Danau Maninjau. Danau Maninjau yang sunyi menjadi semarak. Cahaya dari rakik-rakik pun memberikan sinar yang indah di malam hari. Penontonnya pun ikut terkesima dengan keindahan rakik-rakik. Penontonnya tak hanya masyarakat sekitar dan urang rantau yang mudik tapi banyak juga bule yang ikut menyaksikan rakik-rakik. Maklum saja rakik-rakik ternyata sudah masuk dalam halaman kitab suci traveler sekelas Lonely Planet [3]. Tak heran kan banyak bule yang menyaksikan rakik-rakik? Wuah, keren banget dah kampuang halaman nenek moyangku.


Kembang api di atas rakik-rakik

Setelah beberapa jam berlayar menyaksikan pesona malam hari Danau Maninjau dengan rakik-rakik dan ikut membunyikan badia batuang, rakik-rakik yang dinaiki bapak bupak bupati makin menepi ke bibir danau. Semua rakik-rakik dari jorong dan nagari lain berakhir di Masjid raya Kububaru. Akhirnya festival rakik-rakik Idul Fitri 1435 H selesai.

Masjid Raya Kububaru sebagai lokasi finish rakik-rakik

Aku berharap tradisi rakik-rakik tetap dilestarikan di Danau Maninjau. Tidak hanya melestarikan tradisi tapi juga dapat menarik wisatawan baik lokal maupun internasional. Salam!


Referensi:
[1] dan [2] http://www.antarasumbar.com/artikel/602/rakik-rakik-sebuah-tradisi-di-malam-takbiran.html
[3] http://books.google.co.id/books?id=4GMBFsaFNN4C&pg=PA438&dq=rakik+maninjau&hl=id&sa=X&ei=Z0rpU83ILJbq8AXT14Ao&ved=0CCAQ6AEwAQ#v=onepage&q=rakik%20maninjau&f=false

Sumber Gambar:
Semua foto berasal dari koleksi pribadi sepupu Saya @dylonst
Reaksi:

2 comments:

  1. begitu indah budaya yg kita punya dan foto2nya keren banget

    ReplyDelete
  2. Nah ini jauh lebih baik dari pada pawai dng kendaraan bermotor di jalan raya.

    ReplyDelete