Tuesday, August 19, 2014

Memandangi Pesona Danau Maninjau dari Puncak Lawang

Tuesday, August 19, 2014 Posted by rizka farizal , 4 comments
Piknik merupakan kegiatan fun yang sangat menarik dan dapat me-refresh pikiran. Piknik juga bermanfaat untuk memperat silaturrahim. Hmm, rasanya sudah lama urang Rambai tidak berpiknik bersama. Karena itu, urang Rambai berencana piknik sehari setelah lebaran Idul Fitri.

Pagi itu, urang Rambai tengah bersiap-siap untuk piknik. Sebelum berangkat Kami telah melahap sarapan mie goreng, lemang, kue bolu koja, dll. Persiapan perut Kami sudah lumayan full menjelang piknik.

Ada piknik tentu ada bekal makanan. Kami pun telah mempersiapkan menu piknik yaitu lontong, toucho (again), rendang, ayam, minuman sekardus, dan snack. Hmm, melihat penampakan makanannya saja sudah lapar duluan.

Kami berangkat jam 10.00 WIB. Awalnya Kami berencana piknik dengan menggunakan 3 mobil. 1 mobil untuk urang Rambai yang di Panurunan. Semua bagasi sudah penuh dengan makanan, minuman, tikar, dll. Sekitar 5 menit perjalanan, tiba-tiba keluarga di Panurunan telepon bahwa mereka tidak jadi piknik bersama. Om Dan yang menyetir mobil terdepan pun langsung berhenti di tepi jalan diikuti 2 mobil di belakangnya. "Neli sekeluarga ndak jadi pai. Den nda pai pulo doh. Nio kawanan amak di rumah", kata Om Dan yang baru turun dari mobil. Alhasil 1 mobil kembali pulang. Tiba-tiba mami berkata, "Kayaknyo magic jar lupo dibawo. Japuiklah magic jar di rumah, Dan. Kami tunggu di pasa Maninjau". Wuah ternyata Kami lupa membawa magic jar yang berisi nasi. Masa iya makan lauk tanpa nasi? Zzzz

Di pasar Maninjau, mami dan tante Mar membeli piring dan snack sembari menunggu Om Dan yang akan membawa magic jar. Tak lama kemudian Kami berangkat menuju lokasi piknik yaitu Puncak Lawang.

Untuk menempuh Puncak Lawang dari Maninjau harus melewati kelok 44. Kelok-kelok yang sangat ekstrem di Sumatera bahkan Indonesia. Iya, kelok 44 yang dibuat dari jaman Belanda memiliki jalan yang lumayan sempit dan hanya bisa dilewati oleh 2 mobil dari 2 arus. (1 arus, 1 mobil). Setiap keloknya pun memiliki tikungan yang tajam dan sempit. Karena itu sopir yang melewati kelok 44 harus skillful. *Sopir pemula sebaiknya jangan coba-coba deh. Tak hanya sopir yang skilfull, kondisi mobil pun juga harus diperhatikan.
Sumber gambar: http://i1.trekearth.com/photos/66635/lingka_maninjau.jpg
Sering terjadi kecelakaan gak di kelok 44? Pastilah. Untuk menghindari kecelakaan sudah dibuat peraturan saat melewati kelok 44 yang terpampang sebelum kelok 44 dan 10 kelok setelahnya. Peraturannya adalah pengendara dari atas (arah Bukittinggi menuju Maninjau) WAJIB berhenti sebelum tikungan dan mempersilakan pengendara dari bawah menaiki tikungan terlebih dahulu. Pengendara dari bawah pun juga harus membunyikan klakson saat akan menaiki tikungan kelok 44. Ada dua makna dari peraturan tersebut: 
  • Dari segi kesulitan berkendara: jelas bahwa menaiki tikungan tajam lebih sulit daripada menuruni tikungan tajam. Sehingga, pengendara dari bawah lebih leluasa menaiki tikungan kelok 44.
  • Dari segi harfiah: tersirat makna bahwa di atas (kuat) harus memberi jalan di bawah (lemah). Orang yang kuat harus melindungi yang lemah. Orang yang kaya harus menyantuni orang miskin. Cocok sekali kan falsafah bahwa belajar dari alam? Iya, peraturan kelok 44 sangat dalem maknanya yaitu etika.
Sayangnya, banyak pengendara yang tidak mematuhi peraturan kelok 44 saat Kami piknik kemaren. Iya, aku tau sedang lebaran, banyak mobil yang melewati kelok 44, banyak yang buru-buru supaya cepat sampai di tujuannya. Tapi tetap harus tau ETIKA donk.

Tidak seperti perjalanan kelok 44 yang sudah lebih 20 tahun aku lewati. Perjalanan melewati kelok 44 saat itu membuat jantungku seperti mau copot, pikiranku sudah seperti mau meninggal, mulutkupun sudah komat-kamit saat melewati kelok 44. Tak hanya aku, tante Yana dan tante Mar juga tidak bisa menahan kesabarannya. Kami sempat heboh dan menegur pengendara yang tidak berhenti dan mempersilakan pengendara dari bawah untuk berjalan dahulu. Kekesalan pun menjadi saat pengendara yang Kami tegur malah melawan Kami. Betul-betul pengendara yang tidak beretika dan buta. *maaf. Bukannya peraturannya sudah dipajang kan? "Jika ada sopir travel pasti sudah ditunju pengendara yang tidak mau berhenti dari atas", kata tante Mar yang ikut kesal dengan banyaknya pengendara yang tidak mau berhenti dari atas. Akupun tetap mengomel setiap pengendara yang tidak mau berhenti dari atas. "Ya sudah Kita berhati-hati saja. Capek juga dengan pengendara tersebut. Diingatin malah marah", kata mami yang ingin menenangkan suasana saat itu.

Satu per satu kelok pun terlewati. Sekitar kelok 40-an, tiba-tiba ada mention twitter yang terlihat di layar HP ku. "Kak, elsa ke Maninjaunya hari ini. Ini lagi di jalan", tulis Elsa yang me-mention kepadaku. Aku pun langsung memberi tahuku mami, om, tante, adik, dan sepupu yang semobil denganku. Kami pun mengajak Elsa, ayah, bunda, dan adik-adiknya yang dari Bukittinggi langsung menuju Puncak Lawang. Asik makin rame deh pikniknya.

 
Lagu kelok 44 by Elly Kasim

Kurang lebih 40 menit Kami melewati kelok 44. Kerangka Ambun Tanai yang seperti Burj Al Arab pun sudah terlihat. Kami pun berhenti di Ambun Tanai. Baru di Ambun Tanai, Kami sudah disuguhi pemandangan Danau Maninjau yang seperti lukisan di kanvas. Kami pun langsung mendokumentasikan keindahan Danau Maninjau yang cuacanya sangat mendukung saat itu.

Danau Maninjau dilihat dari Ambun Tanai
Foto bersama di Ambun Tanai
Dari kiri ke kanan: Ante, Tika, Tante Mar, Nadya, aku, Azizah, Fira, Fathiya, Mami, Tante Yana, Dilla, Ima

Tidak berlama-lama di Ambun Tanai, Kami langsung menuju Lawang Park yang lokasinya tidak sampai 10 menit dari Ambun Tanai. Setelah bayar retribusi dan parkir, Kami pun langsung turun dari mobil. Tikar dan snack pun dikeluarkan. "Kok nasi lauk ndak diturunkan pulo?", celutukku yang saat itu sudah mulai lapar. "Awak makan di Puncak Lawang sajo beko", jawab Mami.

Peta Puncak Lawang

Lawang Park juga menyuguhkan pemandangan elok Danau Maninjau. Langit pun cerah saat itu. Sehingga Kami bisa mengabadikan foto-foto yang sesuai harapan di sana. Walaupun sebenarnya aku sedikit kecewa karena adventure yang dipampang di Baliho pintu masuk tidak ada saat itu. Katanya sih adventure tersebut hanya ada pada hari-hari tertentu. *hiks. Bosan berfoto dan berkeliling, aku dan adikku pun duduk bersama keluargaku yang telah duduk-duduk santai di atas tikar. Sambal nyemil snack aku bergosip dengan adikku. Kami pun sempat terbesit ke suatu tempat rahasia di sekitar sana. *bocorin gak yah tempat tempat rahasia tersebut? Tak berapa lama kemudian Elsa dan keluarganya dari Bukittinggi sampai di Lawang Park. Kami pun menyambutnya dengan senang. Dan berfoto-foto (lagi). Kami juga sempat sholat di musholla. Musholla yang lumayan bersih.  


Narsis di Lawang Park


Puas di Lawang Park, Kami pun berangkat menuju destinasi terakhir yaitu Puncak Lawang. Puncak Lawang merupakan lokasi destinasi tertinggi. Sehingga, Kami harus melewati jalan yang menanjak. Tak sampai 10 menit, Kami telah melihat deretan mobil-mobil yang parkir di atas bukit. Ternyata Puncak Lawang sudah sangat dipadati pengunjung saat itu. Khawatir tidak mendapatkan tempat parkir di pintu masuknya, Kami parkir di tepi jalan yang saat itu masih ada lahan untuk parkir. Kami pun turun dan membawa barang-barang perbekalan piknik.

Pikirku Kita bisa berpiknik di lokasi yang tidak jauh dari tempat parkir. Gak taunya, kata keluargaku yang sudah pernah ke Puncak Lawang sebelumnya harus masuk dari pintu masuk. Kami pun berjalan sambal menenteng barang-barang. Nafas sudah terengah-engah, keringat sudah mulai bercucuran, kaki pun sudah lelah berjalan melewati tanjakan. Tapi pintu masuk Puncak Lawang masih belum kelihatan. Hoshhh.

Akhirnya pintu masuk Puncak Lawang sudah kelihatan. Sayangnya, Kami harus menaiki puluhan (apa sudah lebih 100 yah?) anak tangga dari pintu masuk ke Puncak Lawang. Sudah sampai di ujung tangga, Kami tidak mau mencari tempat yang pe-we. So, begitu ada tempat kosong dari ujung tangga, Kami langsung membentangkan tikar dan membuka makanan. "Satu buah magic jar yang berisi penuh nasi sepertinya tidak cukup untuk Kami semua", pikirku yang duduk sambil melihat nasi yang makin lama makin sedikit. Aku pun berkata kepada adekku "Nadya, wak makan pake lontong sajo nah". Adikku pun sepertinya berpikir sama denganku. Dia pun menjawab: "yuk, kak". Urang rambai pun sangat menikmati makan saat itu. Iya, pemandangan yang menarik, cuaca yang adem, dan makanan yang lezat sangat pas dinikmati saat itu.

Usai makan, Kami membereskan wadah-wadah makanan. Sepupu-sepupuku ingin membeli es krim yang mangkal di pintu masuk. Mereka pun membelinya untuk cucu-cucu nenek. Beberapa sepupuku membagi-bagikan es krim kepada aku dan sepupuku yang lain. Eng ing eng, setelah dibagi ternyata adekku tidak kebagian. Poor you, Nadya! Dilla, sepupuku kaget dan mengulangi menghitung jumlah cucu-cucu nenek. "1, 2, 3,…., 7 sudah benar. Kok masih kurang yah?" kata Dilla sambil menghitung cucu-cucu nenek. Beruntungnya si adekku santai saja tidak kebagian es krim. You have grown into mature, sis. *tepuktangan

Hari makin sore, langit makin mendung, perut sudah kenyang, pemandangan Danau Maninjau tidak jauh beda dengan yang dilihat di destinasi sebelumnya. Aku sudah tidak bersemangat lagi berfoto-foto di Puncak Lawang. Meskipun, kelebihan Puncak Lawang adalah deretan pinus-pinus yang tersusun rapi.
Sepupu-sepupu berfoto di Puncak Lawang
Dari kiri ke kanan: Rama, Dayat, Andin, Dilla, Elsa, Fathiya, (depan: Azizah), Fira

Tiba-tiba mami ingin ke kamar mandi di Puncak Lawang. Ternyata kamar mandi yang lengkapnya itu letaknya di dekat pintu masuk. Alhasil, mami harus turun ke bawah menuruni anak tangga. Tak lama kemudian mami kembali dengan nafas yang masih terengah-engah. "Pulang wak liah nah", kata Mami yang baru sampai di atas dengan nafas yang masih terengah-engah. Kami pun membereskan dan mengangkut barang-barang piknik.

Satu per satu dari Kami menuruni anak tangga. Om itam, om syamsir, dan sopirnya ante sudah turun duluan dan langsung pergi ke tempat parkir. Sambil menunggu mobil yang harus antri ke pintu masuk, Kami melihat pengunjung yang bermain flying fox. Kami pun sempat tertawa dengan salah satu pemain lebay dengan teriakan kencang saat hendak bermain.

Tak lama kemudian mobil kami sudah tiba di pintu masuk. Kami pun langsung pulang ke Maninjau yang harus melewati kelok 44. Harap cemas, jantung berdegup, dan mulut komat-kamit ku pun kembali. Persis saat menaiki kelok 44. Hughft. Eits, meskipun kelok 44 itu ekstrem tapi pemandangan dari kelok 44 itu sangat indah. Tak lain karena pesona Danau Maninjau. Menurut aku sih Danau Maninjau merupakan danau terindah di Sumatera Barat. Karena danau lain seperti danau kembar (Danau Di atas dan Danau Di bawah) memiliki ukuran danau yang kecil, Danau Singkarak memiliki lebar yang kecil dan panjang yang terlalu panjang, sedangkan Danau Maninjau memiliki body yang seimbang (ukuran panjang dan lebar yang pas). Seperti Dilla, sepupuku yang sempat menuliskan status di facebook Bangga sekali menjadi orang Maninjau dengan diakhiri emoticon smile dan love. Aku pun juga sangat sangat sangat bangga menjadi orang Maninjau. Meskipun hanya sebuah kampung tapi pesona keeksotisannya membuat banyak pengunjung ke sana. Kata siapa kampung itu sepi dari mobil? Danau Maninjau juga sering macet loh saat lebaran dan tahun baru.

Traveler info!
  1. Puncak Lawang terletak di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. Puncak Lawang berada di atas ketinggian 1.210 mdpl. Dari sana, Kita dapat melihat pemandangan Danau Maninjau yang indah. Jika dari Bukittinggi, perjalanan ke Puncak Lawang kurang lebih 50 menit. Kemudian belok kanan sebelum kelok 44. Gerbangnya persis di depan gerbang Ambun Pagi. Jika dari Maninjau, perjalanan ke Puncak Lawang kurang lebih 40 menit. Dari Maninjau, harus melewati kelok 44. Setelah selesai kelok 44, langsung belok kiri. 
  2. Perjalanan dari Maninjau ke Puncak Lawang melewati kelok 44 yang ekstrem. Karena itu kondisi mobil harus diperhatikan dan sopir pun harus skillful. Selain itu, penumpang yang belum terbiasa dengan kelok-kelok harus menyediakan kresek. Jaga-jaga jika mabuk di jalan. 
  3. Setiap destinasi di Puncak Lawang, baik Ambun Tanai, Lawang Park, maupun Puncak Lawang membayar HTM 5 ribu/orang dan 5 ribu/mobil.
Reaksi:

4 comments:

  1. Wow, itu tikungan tajam sekali >_<. Tapi sampai di tujuan pemandangannya indah. Alhamdulillah :).

    ReplyDelete
  2. wahhh seru ya kak perjalanan wisata nya, salam kenal dari kota medan ya kak.

    ReplyDelete
  3. Numpang lewat ya gan :)

    http://idr-poker.blogspot.com/

    http://beritaolahraga108.blogspot.com/

    http://lihatberitaakurat.blogspot.com/

    http://liatberitabola.blogspot.com/

    http://beritaolahraga1081.blogspot.com/

    http://infobolakakiterbaru.blogspot.com/

    http://beritasportsterpercaya.blogspot.com/

    http://seputarberitabola108.blogspot.com/

    http://beritaterbaruseputarolahraga.blogspot.com/

    http://agen-bola-sbobet-jagad303.blogspot.com/

    ReplyDelete