Tuesday, August 12, 2014

Idul Fitri 1435 H "Urang" Rambai

Tuesday, August 12, 2014 Posted by rizka farizal 1 comment
Allahu Akbar Allahu Akbar 
Laa ilahaillaahu Allahu Akbar 
Allahu Akbar wa lillah ilham

Siluet berwarna jingga kian tampak dari balik bukit. Perlahan sang mentari mulai menampakkan dirinya. Deburan ombak Danau Maninjau diiringi dengan gema Takbir yang berkumandang menambah kesyahduan pagi itu. Akhirnya lebaran Idul Fitri yang dinanti pun tiba. Semua muslim menyambutnya dengan antusias. Demikian juga dengan urang Rambai. Lebaran 1435 H sangat berkesan bagi urang Rambai. Hampir semua keluarga dari perantauan mudik ke Maninjau. Sudah lebih 4 tahun Kami kehilangan perayaan memorable ini. Tak lain alasannya karena kesibukkan masing-masing. Syukur Alhamdulillah, tahun ini Kami bisa merayakan hari kemenangan Idul Fitri dengan kebersamaan.

Begini nih "urang" Rambai saat Lebaran Idul Fitri

Urang Rambai
Satu per satu dari kami bangun menjelang shubuh. Dengan memanfaatkan 3 buah kamar mandi, kami berwudhu untuk melaksanakan sholat shubuh. Setelah itu, lantunan irisan pisau, gemericik suara kuali, dentingan pecah belah, kibasan sapu menjadi keriweuhan pagi menjelang sholat Ied. Iya, kami telah berbagi tugas sebelum berangkat ke masjid. Sekali-kali kami melirik jam dinding yang tergantung. "Capeklah saketek beko ndak dapek shaft di Masjid", kata mami yang mulai panik. Aku pun bergegas merapikan diri, memakai baju lebaran, dan menyemprot sedikit parfume sebelum meluncur ke Masjid.

Sholat Ied di Masjid Ummil Qura’

Menurut jadwalnya Masjid Ummil Qura memulai sholat Ied jam 7.45 WIB. Jam 7.00 WIB, urang Rambai sudah siap meluncur ke Masjid Ummil Qura dengan menggunakan mobil. Maklumlah jarak rumah ke Masjid lumayan jauh dengan berjalan kaki.

Tak sampai 10 menit, kubah masjid tua yang unik dengan tembok berlengkung-lengkung antar pilar di pinggir Danau Maninjau telah tampak. Iya, Masjid Ummil Qura memang merupakan masjid yang unik dan antik. Masjid ini memiliki 4 lapis atap berbentuk persegi bagian bawah, 2 lapis atap berbentuk payung bagian tengah, dan sebuah tusuk sate dengan lambang bulan sabit bagian puncak.

sumber foto dari sini

Dua orang pemuda sudah menyambut kami di pintu masjid dengan berlembar-lembar uang bagaikan kasir di Restaurant. Masjid Ummil Qura cukup membuat stand di pintu masjid untuk meminta infaq kepada jamaah. Tak perlu mengedarkan celengan infaq dan berjalan mengelilingi jamaah sebelum atau sesudah sholat Ied. Kreatif kan?

Setelah masuk masjid, ¼ baris shaft perempuan yang masih kosong langsung kami tempati. Eits, itu untuk urang Rambai yang muslimah, gak tau deh yang muslim. Tak lama kemudian, panitia masjid berdiri di atas mimbar memberitahukan kondisi masjid dan pelaksanaan sholat Ied termasuk jumlah takbir dan bacaannya. Tetiba si tadek nyelutuk “Kak, kata ustadz waktu pengajian di Kantor kemaren bacaan takbir subhanallah walhamdulillah wallahu akbar sebenarnya tidak harus begitu. Karena tidak ada di dalam hadist. Benar gak sih?” Aku pun langsung menjawab “waduh baru denger juga yah. Googling deh habis sholat. Saat ini lebih baik kita membaca bacaan yang sudah lazim saja dulu”.

Seorang imam berdiri di depan dan semua jamaah pun akhirnya berdiri untuk memulai sholat Ied. Rakaat pertama sebanyak 7 takbir dengan bacaan surat Al A’la sebelum ruku’. Rakaat kedua sebanyak 5 takbir dengan bacaan surat Al Ghasiyah sebelum ruku’.

Usai sholat, Khatib pun berdiri di mimbar untuk memberikan Khutbah Idul Fitri. Khatib memberikan materi seputar penduduk muslim Gaza yang tidak bisa merayakan Idul Fitri seperti di Indonesia. Baku tembak senjata dan ratusan korban merupkan THR lebaran dari Israel untuk Gaza. Siapa sih yang tidak bersedih melihat penduduk muslim Gaza, Palestina? Semoga Allah SWT selalu melindungi penduduk Palestina. Selain membahas Palestina, Khatib juga mengkritik kebiasaan bermewah-mewahan saat lebaran. Kata Khatib, "seseorang yang menyambut lebaran bermewah-mewahan dengan menggunakan jam tangan dari Swiss, parfume dari Paris, sepatu dari Italy, tas dari Inggris, baju dari wol, celana dari cotton merupakan orang-orang yang merugi. Karena esensi lebaran adalah kembali ke fitrah dengan meningkatkan ibadah kepada-Nya". Jlebbb!
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S Al-'A`raf : 31)
Khatib menutup Khutbah dengan berdo’a. Jamaah langsung sungkeman dan bermaaf-maafan setelahnya. Orang pertama yang aku sungkem sudah pastilah Mami.

Berziarah ke pusaro (makam)

Usai sholat Ied, kami langsung pergi ke pusaro. Tak sampai 5 menit menaiki mobil dari masjid, Kami tiba di makam abo, bunda, neneknya mami yang pusaronya berderet di samping SD. Bagiku abo dan bunda adalah orang yang berkesan. Sewaktu masih hidup, abo sering mengajakku dan adikku jalan-jalan sore saat pulang kampung. Abo sering menasihatiku dan yang tak pernah aku lupa nasihatnya untuk menjaga mami saat alm papi selesai dikubur. Jika menerima rapor, abo selalu menanyakan nilai agamaku. Untung nilai agamaku dulu berkisar antara 8 dan 9. *bukan pamer yah. Dan yang paling berkesan adalah saat lebaran abo memberikan THR kepadaku karena puasaku gak bolong. *langsung mewek kalau mengingat moment dengan abo. Demikian juga dengan bunda. Sewaktu hidupnya, bunda sering menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Bahkan, sebelum handphone booming, bunda bela-belain kirim telegram selamat ulang tahun ke sekolahku. Bunda adalah orang yang objektif, berani memberikan apresiasi saat benar dan berani menegur saat khilaf. Aku sering ditegur karena mandinya lamaaaaaa banget padahal kamar mandi saat itu hanya 1. *mewek lagi deh

Berziarah ke pusaro
Setelah berdo’a dan membersihkan pusaro, kami melanjutkan ke pusaro papi. Pusaro papi terletak dekat rumah nenek muda. Sekitar 5 menit dari pusaro abo, kami tiba di pusaro papi. Mami tidak bisa menahan air matanya saat melihat pusaro papi. Saat ini, mami telah berhasil menyekolahkan anak-anaknya sehingga anaknya (hampir) berhasil. *mamiku adalah supermom. Tadek sudah sarjana pada November 2013 dan telah bekerja di salah satu perusahaan BUMN bidang konstruksi. Aku sudah magister pada Juli 2014. Selangkah keberhasilanku sudah terwujud. Hopefully, it’s can make him proud for me. Semoga mengunjungi pusaro papi berikutnya, aku makin sukses. Aamiin.
Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur (wafat) di jalan Allah itu telah mati, bahkan mereka itu hidup (di alam lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka itu mendapatkan kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Alah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan kehidupan mereka itu) di sisi Tuhannya dengan mendapat rizqi. (Q.S Ali Imran: 169)
Karena pusaro papi dekat rumah nenek muda, kami pun singgah sebentar ke rumah nenek muda. Sebelum pulang, aku sempat menyicip pudding di rumah nenek muda. Hehe.

Sungkeman dengan keluarga

Sebelum ke luar masjid, mayoritas urang Rambai sudah sungkeman. Namun, beberapa urang Rambai ada yang tidak sholat Ied karena alasan syar’i. Nenek yang makin menua tidak bisa sholat ke Masjid lagi. Tek mimi yang mempunyai balita tidak mungkin meninggalkan anaknya di rumah dengan nenek. Ima dan Dilla yang lagi tidak sholat juga tidak ke Masjid. Karena itu, Kami mengulang sungkeman di rumah. Harapannya adalah sungkeman bukan sekadar bersalaman. Tapi saling memaafkan atas kekhilafan masing-masing.
Cucu-cucu urang Rambai mengucapkan Taqaballahu minna wa minkum *kata orang cucu-cucu urang Rambai cantik-cantik. Kata orang loh bukan kata aku. qiqiqiqi


Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.S Ali Imron: 159).
Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar (Fathul Bari 2/446): "Dalam Al Mahamiliyat dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata: Para sahabat Nabi SAW bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya: Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)".

Menyantap menu lebaran

Menyantap menu lebaran merupakan kekalapan urang Rambai saat lebaran. Menyantap makanan saat lebaran ibarat seorang napi yang baru ke luar dari penjara. Seorang napi akan terbebas dari kurungan jeruji dan menikmati sejuknya udara di luar penjara. Suasananya persis dengan menyantapi makanan lebaran setelah sebulan berpuasa. *lebay ya?
Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang (pepatah Arab)
Ketupat yang merupakan menu (lumayan) wajib saat lebaran pun disajikan di rumah nenek. Sebagai pelengkap ketupat, nenek membuatkan kami sayur toucho. Menu lainnya pun tak kalah menggiurkan. Ayam gulai dengan nanas, rendang yang menghitam, sop buntut dengan tulang besar, pangek ikan membuat saliva makin meleleh. Berhubung kami tinggal di tepi Danau Maninjau, tentu makanan hasil danau juga disuguhi saat lebaran. Rinuak, bada, dan pesi yang dikreasikan beraneka ragam tak kalah menariknya dengan makanan "restaurant". Sebagai appetizer, urang Rambai menyajikan kue bolu koja, lamang jo tapai, lamang pisang, duren. Sedangkan desert berupa buah-buahan. Ondeh mandeh batambuah kami makan dek nyo. Kata mami "seperti perbaikin gizi". Hehe.
Francisca A Tjakradidjaja, dokter spesialis gizi berkata perlunya menjaga pola makan dengan menerapkan prinsip gizi seimbang saat lebaran. Prinsip gizi seimbang diterapkan dalam hal jumlah, komposisi, dan waktu makan. Menurut Francisca sayur dan buah sering terlupakan saat Lebaran. Padahal salad buah kaya kandungan vitamin dan memiliki serat tinggi. Waktu makan juga harus disesuaikan. Bila berkunjung saat jam makan besar dapat mengonsumsi makanan utama seperti nasi. Tetapi bila berkunjung di luar jam itu, hindari makanan berat. Pilihlah makanan ringan seperti buah. Bila mengonsumsi kue manis, sebaiknya tak lagi meminum yang manis seperti sirup. Sebaiknya minum air putih atau teh pahit. Mengonsumsi sirup hanya menambah kadar gula yang berpotensi merugikan kesehatan. Air putih memiliki banyak manfaat, di antaranya memperlancar pencernaan. (sumber: infonitas.com)

Bagi-bagi THR

THR sudah lama dibudayakan urang Rambai. Tak hanya anak-anak, orang tua seperti nenek, mami, tante dan om pun juga dapat THR. Bedanya THR untuk orang tua langsung ditransfer ke rekening masing-masing beberapa hari menjelang lebaran. Sedangkan anak-anak dikasih saat lebaran. *map yah buka kartu. Hehe.
Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad)
Seiring berjalannya waktu, urang Rambai pun kian banyak yang dewasa. Sehingga, sepupuku dan adekku yang telah bekerja ikut memberikan THR kepada sepupu lainnya yang masih sekolah/kuliah. Bersyukurnya lagi urang Rambai itu murah mengeluarkan uang. Tak heran sepupuku yang masih sekolah/kuliah dapat menambang hingga mencapai 7 digit rupiah (*menambang merupakan istilah di kampungku terhadap anak-anak yang mengumpulkan THR). Urang Rambai berharap bagi-bagi THR tetap menjadi budaya sampai anak, cucu, cicit, dst. Esensi bagi-bagi THR bukan menunjukkan seberapa besar kekayaan yang diperoleh tapi menunjukkan seberapa besar kepeduliaan, perhatian, dan kebersamaan antara saudara-saudara urang Rambai. Bagaimanapun kami memiliki satu nenek moyang yang dulunya tinggal di Rambai.
Nenek mengumpulkan THR cucu-cucu yang belum datang
Not all of us can do great things. But we can do small things with great love. (Mother Teresa)
Berkunjung ke rumah keluarga
Berkunjung merupakan budaya lebaran sejak dahulu. Urang Rambai pun juga melakukkannya. Mami, aku, dan tadek biasanya mengunjungi keluarga alm Papi di Lubuk Basung. Setelah sholat zuhur, kami berangkat ke Lubuk Basung bersama om hitam, tante yana, dan ante. Tadinya juga mengajak sepupu lain tapi merekanya pada gak mau. Perjalanan Maninjau ke Lubuk Basung menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Jalannya pun tidak terlalu ekstrem sehingga kami sangat nyaman. *tentu tidak ada yang mabok. Selama perjalan, beberapa kali sekelompok pemuda dengan berpakaian anah (pocong dan gorilla) menjegat kami dan meminta sedekah. Kami tidak menghiraukan mereka. Bukannya pelit tapi males menghadapi orang yang suka meminta-minta. Tangan di atas tak akan pernah turun tahta ke bawah. Ngapain juga minta-minta. Lebih baik bekerja dengan cara yang halal, toh?

Danau Maninjau kian menghilang, berganti dengan pepohonan kemudian berganti dengan perumahan yang diselingi sawah dan pohon. Tak terasa rumah nenek Lubuk Basung pun mulai terlihat. Kami disambut oleh amak (kakak Papi). "Wuah, katonyo ndak pulang kampuang? Kok pulang juo akhirnyo?" celutuk amak. Ternyata kedatangan Kami tidak begitu disambut antusias. Hiks. Tak berapa lama kemudian nenek ke luar dari kamar. Aku sedikit kaget melihat nenek yang kian menua dan uzur. Apalagi nenek juga sakit saat itu. I hope I can help her soon. Aamiin. Amak mempersiapkan makanan untuk Kami. Kami pun makan. Meskipun menu makanannya menggiurkan tapi aku sengaja mengambil makanan sedikit untuk menjaga keseimbangan komposisi makan. Iya, aku akan makan lagi pulang rumah nenek. Setelah makan, menyicipi kue lebaran, dan bagi-bagi THR kami pun berpamitan dengan nenek dan amak. Kami juga singgah sebentar di rumah Pak Uo (kakak Papi). Kemudian kami balik ke Maninjau. Eits, sebelum ke Maninjau kami singgah juga di Sate Harmoni. *makan lagi makan lagi.

Dalam perjalanan, ante menelpon urang Rambai yang tinggal di rumah nenek Maninjau. Kami berencana mengunjungi rumah mama/Ma Uo Eli di Panurunan, Maninjau bersama-sama. Belum sampai di Panurunan, kami singgah di Gasang untuk membeli pesi (kerang mini yang dibumbui sop).

Tiba di Panurunan, kami langsung menuju rumah mama. Ternyata sepupuku dari rumah nenek Maninjau sudah tiba duluan di sana. Beberapa di antara Kami shock melihat penampilan mama. Pakaian mama saat itu memang sedikit berbeda dari biasanya. Dress yang berwarna gelap dipadankan dengan blazer berwarna senada tak ubahnya seperti pakaian hijabers saat ini. Sayangnya, kerudung yang digunakan adalah bergo seperti anak MDA (*kata Dylon, sepupuku sih). Berbagai komentar pun muncul saat itu. "Wuah ma uo Eli mustinya pakai kerudung model Henna", sahut Dilla sepupuku. Tadek juga menambahkan "baju ini pasti dibelikan Kak Sari, menantu mama ya?". Mama pun membalasnya dengan senyum. Tak lama setelah itu, Aufar sepupuku yang masih balita datang dengan Tek mimi dan om Edo. Aufar langsung terdiam saat pertama melihat kami. Mungkin dibenaknya saat itu "Kok orangnya ini lagi ini lagi padahal Aufar sudah naik mobil dari rumah nenek ke sini". Dia pun juga memamerkan sepatu barunya yang masih bersih dan belum dipijakkan ke tanah. Haha namanya juga anak kecilll.

Lebaran di rumah mama/ Ma uo Eli

Matahari pun makin bergerak ke arah barat. Rona orange senja pun kian terlihat. Kami pun akhirnya pulang ke rumah nenek Maninjau.
The only rock I know that stays steady, the only institution I know that works is the family (Lee Iacocca)
Demikianlah agenda lebaran urang Rambai hari pertama. Kami pun masih bersemangat melakukan agenda keesokan harinya yaitu mengunjungi objek wisata. Nantikan cerita berikutnya pada postingan selanjutnya.
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah SWT, tidaklah dapat kamu menghitungnya. (Q.S Ibrahim: 34)
Reaksi:

1 comment:

  1. waah... lengkap deh ulasan lebarannya hehehe...
    Maaf lahir batin ya...
    Masjidnya terlihat benar2 tua dan antik :)

    ReplyDelete