Friday, August 29, 2014

Philips Home Lighting Store Bandung Buka di Banceuy

Friday, August 29, 2014 Posted by rizka farizal 9 comments
Lampu listrik adalah salah satu kemajuan teknologi yang berpengaruh di dunia. Kita patut berterimakasih kepada Thomas Alva Edison. Berkat ribuan kali percobaannya, Thomas Alva Edison akhirnya berhasil menemukan lampu pijar. Karena penemuannya tersebut dunia tidak gelap di saat malam dan mendung di siang hari.

Dewasa ini, lampu listrik tidak hanya lampu pijar seperti yang ditemukan oleh Thomas Alva Edison. Ada juga lampu pijar, lampu TL, lampu halogen, dan lampu LED yang booming saat ini. Model lampu pun sudah beragam bentuk seperti bentuk bola, bentuk lilin, bentuk jamur, dan bentuk lucu-lucu yang beredar saat ini (tokoh animasi, lampu hias). Tak hanya jenis dan model, warnanya pun tidak hanya putih. Ada jingga, merah, hijau, dll.

Terus Terang PHILIPS Terang Terus

Adalah slogan lampu Philips yang sudah lamaaaaa aku dengar. Iya, perusahaan lampu legendaris Philips memang sudah dari tahun 1891 didirikan di Belanda. Sudah lebih seabad Philips menerangi dunia dengan kualitas yang excellent. Tahun 1940, Philips membuka perusahaannya di Indonesia. Saat ini, Philips Home Lighting sudah mempunyai 17 store di Indonesia dan 2 diantaranya terletak di Bandung. Philips Home Lighting Store Bandung yang pertama diresmikan tahun 2012 di IBCC Jl. Ahmad Yani. Sedangkan store kedua, baru diresmikan tanggal 24 Desember 2014, di Jl. Banceuy No. 66 Bandung. Jl. Banceuy dipilih karena letaknya strategis dan dekat dengan konsumen. Jika sering melewati Jl. Banceuy pasti banyak ditemukan store-store yang menjual lampu Philips, kan?
Narsis doeloe

Grand opening Philips Home Lighting Store Banceuy dihadiri oleh Indah Susanti (Product Manager Consumer Luminaire), Ryan Tirta Yudhistira (Director Marketing Management Philips Lighting Commercial PT Philips Indonesia), dan Pramudijono (PT Pramtama Surya Perkasa Mandiri) selaku partner distribusi Philips. Indah Susanti berkata "Store Banceuy akan memberikan pelanggan one-stop shopping yang unik tentang solusi pencahayaan Philips yang inovatif". One stop shopping meliputi 3 hal, yaitu:
  • Inspiring. Philips ingin memberikan inspirasi pelanggan saat pandangan pertama melihat store Banceuy. Kenyamanan store dan produk yang ditawarkan dapat menarik pelanggan untuk mengunjunginya. 
  • Exploration. Philips berharap pelanggan dapat bereksperimen pencahayaan sendiri. Karena Philps Banceuy menyedikan tempat bereksperimen dan mencobakan lampu-lampu. Sehingga, tidak ada complaint dari pelanggan setelah membeli. 
  • Specify. Philips Banceuy memberikan konsultasi pencahayaan kepada pelanggan. Philips juga memberikan tips-tips pencahayaan yang baik.
Narasumber saat Grand Opening
Saat grand opening, Indah Susanti memberikan tips-tips memilih tata cahaya kepada peserta. Karena pencahayaan sangat berpengaruh baik dari segi produktivitas dan suasana hati.
Tips-tips Pencahayaan ala Indah Susanti
  • Pencahayaan dapat meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas manusia. Contoh: saat gelap banyak orang yang molor-molor bekerja sehingga manusia tidak menjadi produktif.
  • Pencahayaan dapat memunculkan kreativitas. Contoh: lampu yang ada pada pesawat dapat diatur yang dapat membuat kenyamanan penumpang sehingga penumpang bisa beraktivitas dan istirahat.
  • Pencahayaan yang baik adalah pencahayaan yang berlapis. Pencahayaan tidak dari lampu utama tapi dari lampu dekorasi. Contoh: desain lampu meja makan disesuaikan dengan bentuk meja makan sehingga menimbulkan keromantisan. Jika meja makan berbentuk kotak maka lampunya juga kotak.
  • Pencahayaan di kamar mandi sebaiknya memilih lampu yang terang di pagi hari dan agak redup (general light) di siang hari.
  • Pemilihan warna lampu dapat mempengaruhi suasana hati. Warna merah memberikan suasana semangat. Hindari warna biru dan hijau karena warna tersebut mempengaruhi warna pada kulit. Jika kulit gelap maka akan semakin gelap. Philips telah membuat model lampu untuk anak-anak yang bekerja sama dengan Disney. Philips juga memberikan 16 warna yang bisa mempengaruhi imaginasi anak-anak.
  • Perlunya perencanaan penerangan sebelum membangun supaya tidak ada problem dengan aliran listrik dan penempatan saklar listrik. Sehingga, dapat meminimalisir pembongkaran bangunan kemudian hari.

Ryan Tirta Yudhistira menambahkan "Peran cahaya tidak hanya untuk penerangan tapi juga mood lighting". Beliau juga mencontohkannya pada ruangan ICU. "Simulasi pencahayaan materi di ICU memberikan efek bagi pasien sehingga pasien lebih cepat peka", tutur Ryan.

Selain itu marketing produk pencahayaan tidak hanya sekadar penerangan tapi juga kenyamanan. Hal itu ditegaskan Pramudijono. "Visi memasarkan produk pencahayaan tidak sekadar penerangan tapi kenyamanan", tegas Pramudijono.

Lampu LED sebagai Inovasi Lampu Mutakhir

Lampu LED (Light-emitting Diode) merupakan lampu yang sedang booming saat ini. Lampu yang mulanya digunakan untuk gadget sekarang dapat digunakan di gedung, rumah, dan jalan raya. Philips sebagai perusahaan lampu terkemuka juga telah memiliki inovasi lampu LED.

Menurut Indah Susanti, lampu LED Philips mempunyai banyak kelebihan. "Lampu LED Philips hemat energi hingga 90% tahan lama daripada lampu konvensional, ramah lingkungan karena tidak mengandung merkuri dan UV, serta lampu LED memiliki cahaya bernuansa putih alami yang terang dan nyaman di mata", ungkap Indah Susanti. Indah Susanti juga berkata, "Hubungan pencahayaan dengan energi adalah saat menggunakan lampu LED 5 Watt dan lampu pijar 25 Watt memiliki energi yang sama". Lampu LED Philips memiliki kelebihan lain yaitu memiliki garansi selama 2 tahun, promo cicilan 0% dari Bank Mandiri, dan cahaya terangnya dapat bertahan hingga 15 tahun. Hal tersebut diungkapkan Ryan Tirta Yudhistira, "Lampu LED dapat terang hingga 15 tahun dan dapat diuji coba dengan alat repeater". Sehingga, lampu LED dapat hemat energi dan dapat mengurangi subsidi listrik negara. Keren kan?

Setelah bincang-bincang dengan narasumber, grand opening Philips Home Lighting Store Banceuy pun diresmikan dengan menyalakan lampu sirine oleh Pak Ryan Tirta Yudhistira dan Pramudijono. Acara pun ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Pak Ryan Tirta Yudhistira dan Pramudijono (lagi).

Usai acara grand opening, peserta diajak melihat produk di Philips Home Lighting Store Banceuy yang berada di lantai dasar. Peserta juga dapat membeli produk Philips yang sedang discount dari tanggal 24 Agustus sampai 7 September 2014. Discount-nya untuk semua orang loh bukan hanya peserta grand opening. Lucunya lagi, ada mesin di depan store yangmana mesinnya dapat dipeluk kemudian memberikan hadiah. *Mesinnya saat grand opening sih, nggak tau juga sampai tanggal 7 September masih nongol di store.
Produk-produk Philips Home Lighting Store Banceuy

Wuih teh Tyan meluk sapa tuh?

How to get there?
Philips Home Lighting Store Banceuy terletak di Jl. Banceuy No. 66. 5 menit dari Pasar Baru dan 7 menit dari Alun-alun Bandung. Informasi lebih lanjut, silakan kunjungi facebook Philips Lighting Indonesia, twitter @Philips_ID atau consumen care 0800-10-LAMPU (52678).

Thursday, August 28, 2014

Pre-opening Pameran Buku Bandung 2014

Thursday, August 28, 2014 Posted by rizka farizal 2 comments
Buku buku buku

Para bookholic pasti suka dengan tumpukan plus aroma buku. Apalagi ada pameran buku. Pasti deh disempet-sempetin ke pameran bukunya. Betul?

Sayangnya tidak semua orang suka membaca buku. Males baca buku teballah. Ngantuklah. Nggak ada waktulah. Apalagi dengan banyaknya media hiburan yang lebih variatif saat ini. Pasti banyak orang yang lebih memilih menonton daripada membaca. Betul?

Nah, melihat kondisi seperti itu Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jawa Barat berencana mengadakan Pameran Buku Bandung 2014 tanggal 29 Agustus – 4 Sepetember 2014 di Landmark Convention Hall, Jl. Braga No.19, Bandung. Pameran Buku akan mengusung tema "Manuju Bandung GILA Membaca dan Menulis (Towards Reading & Writing Society)". Jika membaca temanya sudah pasti bahwa IKAPI Jawa Barat mempunyai visi untuk mengajak warga Bandung tergila-gila dengan membaca dan menulis.

Sebelum pelaksanaan Pameran Buku Bandung, IKAPI Jawa Barat dan Syamil Qur’an mengadakan media & blogger gathering di Sekretariat IKAPI Jabar Jl. Inggit Garnarsih No. 30 C tanggal 18 Agustus 2014. Acara tersebut dihadiri oleh Anwaruddin (ketua IKAPI Jabar), Taofiq Rahman Ahmad (ketua panitia Pameran Buku Bandung 2014), dan panitia Pameran Buku Bandung. 
 
*mohon maaf fotonya miring*

Latar Belakang Pameran Buku Bandung Menurut Anwaruddin, "Tidak semua toko buku mengakomordir karena tidak semua penerbit masuk ke dalam toko buku. Tidak semua penerbit buku pelajaran mampu menerbitkan buku pelajaran dari pemerintah". 
 
"Selain itu, banyak dijumpai buku best seller yang dibajak pembaca. Jumlah buku Bahasa Inggris sedikit karena itu perlu memperbanyak jumlah buku Bahasa Inggris untuk Pameran Buku Frankfrut", tambah Anwaruddin.

Pameran Buku Bandung diharapkan dapat mengukur jumlah masyarakat yang membeli buku, memperoleh rekor MURI, dan ingin menyadarkan masyarakat pentingnya membaca. "Menyadarkan masyarakat untuk membaca buku itu tidak mudah. Masyarakat lebih banyak yang hanya sekedar membeli tapi tidak membaca buku tersebut. Padahal, keuntungan membaca itu tidak untuk penerbit tapi untuk Indonesia", kata Anwaruddin.

Pameran Buku Bandung sudah diadakan dari beberapa tahun yang lalu. Tahun 2013, Pameran Buku Bandung lebih fokus untuk memperbanyak massa sehingga banyak masyarakat yang membeli buku pada pameran. Hal ini terbukti dengan jumlah pengunjung yang mencapai 100 ribu. Tahun 2014, Panitia Pameran Buku Bandung membuat terobosan baru melalui sosial media. "Panitia mempromosikan Pameran Buku Bandung melalui twitter, BBM, dan parade lomba nge-blog selama sepekan", ungkap Taofiq.

Selain sosial media, panitia Pameran Buku Bandung juga melakukan promo offline seperti media gathering, release media, carnival car free day, event pelatihan yang melibatkan siswa SMA, kata Din Syamsuddin sebagai ketua divisi promosi Pameran Buku Bandung.

Pameran Buku Bandung 2014 diikuti oleh puluhan penerbit Indonesia baik penerbit branded maupun penerbit indie. Tak tanggung-tanggung para penerbit memberikan buku berkualitas dengan discount sampai dengan 70%. Peserta pameran pun tidak perlu membeli tiket karena pamerannya GRATIS.

Selain pameran buku juga banyak acara lainnya seperti lomba paduan suara antar ibu-ibu PKK (29/8/14), pelatihan jurnalistik untuk rohis (30/8/14), talkshow dan bedah buku "Ada Surga di Rumahmu" (30/8/14), kopi darat blogger (31/8/14), talkshow dan bedah buku "Apa ini Cinta?" & "Mobil, Bokap, Gue" (31/8/14), lomba menulis 100 cerpen, 100 guru, 100 menit (1/9/14), filatelli (1/9/14), lomba mendongeng (2/9/14), bedah buku "Self Revolution" (2/9/14), pentas kabaret (3/9/14), talkshow "Membangun Bisnis Autopilot" (3/9/14), mengenal robotik & teknik membuat robot (4/9/14), dan bedah buku "The Naked Traveller 5" (4/9/14).

Saat acara media & blogger gathering (18/8/14) juga diadakan launching lomba parade nge-blog untuk semua blogger Indonesia. Lomba blog diadakan selama sepekan yaitu tanggal 25 Agustus – 31 Agustus 2014. Untuk syarat dan ketentuan lomba blog, silakan baca pengumumannya di sini.

So, urang Bandung jangan lupa ke Pameran Buku Bandung 2014 yah!

Tuesday, August 19, 2014

Memandangi Pesona Danau Maninjau dari Puncak Lawang

Tuesday, August 19, 2014 Posted by rizka farizal , 4 comments
Piknik merupakan kegiatan fun yang sangat menarik dan dapat me-refresh pikiran. Piknik juga bermanfaat untuk memperat silaturrahim. Hmm, rasanya sudah lama urang Rambai tidak berpiknik bersama. Karena itu, urang Rambai berencana piknik sehari setelah lebaran Idul Fitri.

Pagi itu, urang Rambai tengah bersiap-siap untuk piknik. Sebelum berangkat Kami telah melahap sarapan mie goreng, lemang, kue bolu koja, dll. Persiapan perut Kami sudah lumayan full menjelang piknik.

Ada piknik tentu ada bekal makanan. Kami pun telah mempersiapkan menu piknik yaitu lontong, toucho (again), rendang, ayam, minuman sekardus, dan snack. Hmm, melihat penampakan makanannya saja sudah lapar duluan.

Kami berangkat jam 10.00 WIB. Awalnya Kami berencana piknik dengan menggunakan 3 mobil. 1 mobil untuk urang Rambai yang di Panurunan. Semua bagasi sudah penuh dengan makanan, minuman, tikar, dll. Sekitar 5 menit perjalanan, tiba-tiba keluarga di Panurunan telepon bahwa mereka tidak jadi piknik bersama. Om Dan yang menyetir mobil terdepan pun langsung berhenti di tepi jalan diikuti 2 mobil di belakangnya. "Neli sekeluarga ndak jadi pai. Den nda pai pulo doh. Nio kawanan amak di rumah", kata Om Dan yang baru turun dari mobil. Alhasil 1 mobil kembali pulang. Tiba-tiba mami berkata, "Kayaknyo magic jar lupo dibawo. Japuiklah magic jar di rumah, Dan. Kami tunggu di pasa Maninjau". Wuah ternyata Kami lupa membawa magic jar yang berisi nasi. Masa iya makan lauk tanpa nasi? Zzzz

Di pasar Maninjau, mami dan tante Mar membeli piring dan snack sembari menunggu Om Dan yang akan membawa magic jar. Tak lama kemudian Kami berangkat menuju lokasi piknik yaitu Puncak Lawang.

Untuk menempuh Puncak Lawang dari Maninjau harus melewati kelok 44. Kelok-kelok yang sangat ekstrem di Sumatera bahkan Indonesia. Iya, kelok 44 yang dibuat dari jaman Belanda memiliki jalan yang lumayan sempit dan hanya bisa dilewati oleh 2 mobil dari 2 arus. (1 arus, 1 mobil). Setiap keloknya pun memiliki tikungan yang tajam dan sempit. Karena itu sopir yang melewati kelok 44 harus skillful. *Sopir pemula sebaiknya jangan coba-coba deh. Tak hanya sopir yang skilfull, kondisi mobil pun juga harus diperhatikan.
Sumber gambar: http://i1.trekearth.com/photos/66635/lingka_maninjau.jpg
Sering terjadi kecelakaan gak di kelok 44? Pastilah. Untuk menghindari kecelakaan sudah dibuat peraturan saat melewati kelok 44 yang terpampang sebelum kelok 44 dan 10 kelok setelahnya. Peraturannya adalah pengendara dari atas (arah Bukittinggi menuju Maninjau) WAJIB berhenti sebelum tikungan dan mempersilakan pengendara dari bawah menaiki tikungan terlebih dahulu. Pengendara dari bawah pun juga harus membunyikan klakson saat akan menaiki tikungan kelok 44. Ada dua makna dari peraturan tersebut: 
  • Dari segi kesulitan berkendara: jelas bahwa menaiki tikungan tajam lebih sulit daripada menuruni tikungan tajam. Sehingga, pengendara dari bawah lebih leluasa menaiki tikungan kelok 44.
  • Dari segi harfiah: tersirat makna bahwa di atas (kuat) harus memberi jalan di bawah (lemah). Orang yang kuat harus melindungi yang lemah. Orang yang kaya harus menyantuni orang miskin. Cocok sekali kan falsafah bahwa belajar dari alam? Iya, peraturan kelok 44 sangat dalem maknanya yaitu etika.
Sayangnya, banyak pengendara yang tidak mematuhi peraturan kelok 44 saat Kami piknik kemaren. Iya, aku tau sedang lebaran, banyak mobil yang melewati kelok 44, banyak yang buru-buru supaya cepat sampai di tujuannya. Tapi tetap harus tau ETIKA donk.

Tidak seperti perjalanan kelok 44 yang sudah lebih 20 tahun aku lewati. Perjalanan melewati kelok 44 saat itu membuat jantungku seperti mau copot, pikiranku sudah seperti mau meninggal, mulutkupun sudah komat-kamit saat melewati kelok 44. Tak hanya aku, tante Yana dan tante Mar juga tidak bisa menahan kesabarannya. Kami sempat heboh dan menegur pengendara yang tidak berhenti dan mempersilakan pengendara dari bawah untuk berjalan dahulu. Kekesalan pun menjadi saat pengendara yang Kami tegur malah melawan Kami. Betul-betul pengendara yang tidak beretika dan buta. *maaf. Bukannya peraturannya sudah dipajang kan? "Jika ada sopir travel pasti sudah ditunju pengendara yang tidak mau berhenti dari atas", kata tante Mar yang ikut kesal dengan banyaknya pengendara yang tidak mau berhenti dari atas. Akupun tetap mengomel setiap pengendara yang tidak mau berhenti dari atas. "Ya sudah Kita berhati-hati saja. Capek juga dengan pengendara tersebut. Diingatin malah marah", kata mami yang ingin menenangkan suasana saat itu.

Satu per satu kelok pun terlewati. Sekitar kelok 40-an, tiba-tiba ada mention twitter yang terlihat di layar HP ku. "Kak, elsa ke Maninjaunya hari ini. Ini lagi di jalan", tulis Elsa yang me-mention kepadaku. Aku pun langsung memberi tahuku mami, om, tante, adik, dan sepupu yang semobil denganku. Kami pun mengajak Elsa, ayah, bunda, dan adik-adiknya yang dari Bukittinggi langsung menuju Puncak Lawang. Asik makin rame deh pikniknya.

 
Lagu kelok 44 by Elly Kasim

Kurang lebih 40 menit Kami melewati kelok 44. Kerangka Ambun Tanai yang seperti Burj Al Arab pun sudah terlihat. Kami pun berhenti di Ambun Tanai. Baru di Ambun Tanai, Kami sudah disuguhi pemandangan Danau Maninjau yang seperti lukisan di kanvas. Kami pun langsung mendokumentasikan keindahan Danau Maninjau yang cuacanya sangat mendukung saat itu.

Danau Maninjau dilihat dari Ambun Tanai
Foto bersama di Ambun Tanai
Dari kiri ke kanan: Ante, Tika, Tante Mar, Nadya, aku, Azizah, Fira, Fathiya, Mami, Tante Yana, Dilla, Ima

Tidak berlama-lama di Ambun Tanai, Kami langsung menuju Lawang Park yang lokasinya tidak sampai 10 menit dari Ambun Tanai. Setelah bayar retribusi dan parkir, Kami pun langsung turun dari mobil. Tikar dan snack pun dikeluarkan. "Kok nasi lauk ndak diturunkan pulo?", celutukku yang saat itu sudah mulai lapar. "Awak makan di Puncak Lawang sajo beko", jawab Mami.

Peta Puncak Lawang

Lawang Park juga menyuguhkan pemandangan elok Danau Maninjau. Langit pun cerah saat itu. Sehingga Kami bisa mengabadikan foto-foto yang sesuai harapan di sana. Walaupun sebenarnya aku sedikit kecewa karena adventure yang dipampang di Baliho pintu masuk tidak ada saat itu. Katanya sih adventure tersebut hanya ada pada hari-hari tertentu. *hiks. Bosan berfoto dan berkeliling, aku dan adikku pun duduk bersama keluargaku yang telah duduk-duduk santai di atas tikar. Sambal nyemil snack aku bergosip dengan adikku. Kami pun sempat terbesit ke suatu tempat rahasia di sekitar sana. *bocorin gak yah tempat tempat rahasia tersebut? Tak berapa lama kemudian Elsa dan keluarganya dari Bukittinggi sampai di Lawang Park. Kami pun menyambutnya dengan senang. Dan berfoto-foto (lagi). Kami juga sempat sholat di musholla. Musholla yang lumayan bersih.  


Narsis di Lawang Park


Puas di Lawang Park, Kami pun berangkat menuju destinasi terakhir yaitu Puncak Lawang. Puncak Lawang merupakan lokasi destinasi tertinggi. Sehingga, Kami harus melewati jalan yang menanjak. Tak sampai 10 menit, Kami telah melihat deretan mobil-mobil yang parkir di atas bukit. Ternyata Puncak Lawang sudah sangat dipadati pengunjung saat itu. Khawatir tidak mendapatkan tempat parkir di pintu masuknya, Kami parkir di tepi jalan yang saat itu masih ada lahan untuk parkir. Kami pun turun dan membawa barang-barang perbekalan piknik.

Pikirku Kita bisa berpiknik di lokasi yang tidak jauh dari tempat parkir. Gak taunya, kata keluargaku yang sudah pernah ke Puncak Lawang sebelumnya harus masuk dari pintu masuk. Kami pun berjalan sambal menenteng barang-barang. Nafas sudah terengah-engah, keringat sudah mulai bercucuran, kaki pun sudah lelah berjalan melewati tanjakan. Tapi pintu masuk Puncak Lawang masih belum kelihatan. Hoshhh.

Akhirnya pintu masuk Puncak Lawang sudah kelihatan. Sayangnya, Kami harus menaiki puluhan (apa sudah lebih 100 yah?) anak tangga dari pintu masuk ke Puncak Lawang. Sudah sampai di ujung tangga, Kami tidak mau mencari tempat yang pe-we. So, begitu ada tempat kosong dari ujung tangga, Kami langsung membentangkan tikar dan membuka makanan. "Satu buah magic jar yang berisi penuh nasi sepertinya tidak cukup untuk Kami semua", pikirku yang duduk sambil melihat nasi yang makin lama makin sedikit. Aku pun berkata kepada adekku "Nadya, wak makan pake lontong sajo nah". Adikku pun sepertinya berpikir sama denganku. Dia pun menjawab: "yuk, kak". Urang rambai pun sangat menikmati makan saat itu. Iya, pemandangan yang menarik, cuaca yang adem, dan makanan yang lezat sangat pas dinikmati saat itu.

Usai makan, Kami membereskan wadah-wadah makanan. Sepupu-sepupuku ingin membeli es krim yang mangkal di pintu masuk. Mereka pun membelinya untuk cucu-cucu nenek. Beberapa sepupuku membagi-bagikan es krim kepada aku dan sepupuku yang lain. Eng ing eng, setelah dibagi ternyata adekku tidak kebagian. Poor you, Nadya! Dilla, sepupuku kaget dan mengulangi menghitung jumlah cucu-cucu nenek. "1, 2, 3,…., 7 sudah benar. Kok masih kurang yah?" kata Dilla sambil menghitung cucu-cucu nenek. Beruntungnya si adekku santai saja tidak kebagian es krim. You have grown into mature, sis. *tepuktangan

Hari makin sore, langit makin mendung, perut sudah kenyang, pemandangan Danau Maninjau tidak jauh beda dengan yang dilihat di destinasi sebelumnya. Aku sudah tidak bersemangat lagi berfoto-foto di Puncak Lawang. Meskipun, kelebihan Puncak Lawang adalah deretan pinus-pinus yang tersusun rapi.
Sepupu-sepupu berfoto di Puncak Lawang
Dari kiri ke kanan: Rama, Dayat, Andin, Dilla, Elsa, Fathiya, (depan: Azizah), Fira

Tiba-tiba mami ingin ke kamar mandi di Puncak Lawang. Ternyata kamar mandi yang lengkapnya itu letaknya di dekat pintu masuk. Alhasil, mami harus turun ke bawah menuruni anak tangga. Tak lama kemudian mami kembali dengan nafas yang masih terengah-engah. "Pulang wak liah nah", kata Mami yang baru sampai di atas dengan nafas yang masih terengah-engah. Kami pun membereskan dan mengangkut barang-barang piknik.

Satu per satu dari Kami menuruni anak tangga. Om itam, om syamsir, dan sopirnya ante sudah turun duluan dan langsung pergi ke tempat parkir. Sambil menunggu mobil yang harus antri ke pintu masuk, Kami melihat pengunjung yang bermain flying fox. Kami pun sempat tertawa dengan salah satu pemain lebay dengan teriakan kencang saat hendak bermain.

Tak lama kemudian mobil kami sudah tiba di pintu masuk. Kami pun langsung pulang ke Maninjau yang harus melewati kelok 44. Harap cemas, jantung berdegup, dan mulut komat-kamit ku pun kembali. Persis saat menaiki kelok 44. Hughft. Eits, meskipun kelok 44 itu ekstrem tapi pemandangan dari kelok 44 itu sangat indah. Tak lain karena pesona Danau Maninjau. Menurut aku sih Danau Maninjau merupakan danau terindah di Sumatera Barat. Karena danau lain seperti danau kembar (Danau Di atas dan Danau Di bawah) memiliki ukuran danau yang kecil, Danau Singkarak memiliki lebar yang kecil dan panjang yang terlalu panjang, sedangkan Danau Maninjau memiliki body yang seimbang (ukuran panjang dan lebar yang pas). Seperti Dilla, sepupuku yang sempat menuliskan status di facebook Bangga sekali menjadi orang Maninjau dengan diakhiri emoticon smile dan love. Aku pun juga sangat sangat sangat bangga menjadi orang Maninjau. Meskipun hanya sebuah kampung tapi pesona keeksotisannya membuat banyak pengunjung ke sana. Kata siapa kampung itu sepi dari mobil? Danau Maninjau juga sering macet loh saat lebaran dan tahun baru.

Traveler info!
  1. Puncak Lawang terletak di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. Puncak Lawang berada di atas ketinggian 1.210 mdpl. Dari sana, Kita dapat melihat pemandangan Danau Maninjau yang indah. Jika dari Bukittinggi, perjalanan ke Puncak Lawang kurang lebih 50 menit. Kemudian belok kanan sebelum kelok 44. Gerbangnya persis di depan gerbang Ambun Pagi. Jika dari Maninjau, perjalanan ke Puncak Lawang kurang lebih 40 menit. Dari Maninjau, harus melewati kelok 44. Setelah selesai kelok 44, langsung belok kiri. 
  2. Perjalanan dari Maninjau ke Puncak Lawang melewati kelok 44 yang ekstrem. Karena itu kondisi mobil harus diperhatikan dan sopir pun harus skillful. Selain itu, penumpang yang belum terbiasa dengan kelok-kelok harus menyediakan kresek. Jaga-jaga jika mabuk di jalan. 
  3. Setiap destinasi di Puncak Lawang, baik Ambun Tanai, Lawang Park, maupun Puncak Lawang membayar HTM 5 ribu/orang dan 5 ribu/mobil.

Tuesday, August 12, 2014

Idul Fitri 1435 H "Urang" Rambai

Tuesday, August 12, 2014 Posted by rizka farizal 1 comment
Allahu Akbar Allahu Akbar 
Laa ilahaillaahu Allahu Akbar 
Allahu Akbar wa lillah ilham

Siluet berwarna jingga kian tampak dari balik bukit. Perlahan sang mentari mulai menampakkan dirinya. Deburan ombak Danau Maninjau diiringi dengan gema Takbir yang berkumandang menambah kesyahduan pagi itu. Akhirnya lebaran Idul Fitri yang dinanti pun tiba. Semua muslim menyambutnya dengan antusias. Demikian juga dengan urang Rambai. Lebaran 1435 H sangat berkesan bagi urang Rambai. Hampir semua keluarga dari perantauan mudik ke Maninjau. Sudah lebih 4 tahun Kami kehilangan perayaan memorable ini. Tak lain alasannya karena kesibukkan masing-masing. Syukur Alhamdulillah, tahun ini Kami bisa merayakan hari kemenangan Idul Fitri dengan kebersamaan.

Begini nih "urang" Rambai saat Lebaran Idul Fitri

Urang Rambai
Satu per satu dari kami bangun menjelang shubuh. Dengan memanfaatkan 3 buah kamar mandi, kami berwudhu untuk melaksanakan sholat shubuh. Setelah itu, lantunan irisan pisau, gemericik suara kuali, dentingan pecah belah, kibasan sapu menjadi keriweuhan pagi menjelang sholat Ied. Iya, kami telah berbagi tugas sebelum berangkat ke masjid. Sekali-kali kami melirik jam dinding yang tergantung. "Capeklah saketek beko ndak dapek shaft di Masjid", kata mami yang mulai panik. Aku pun bergegas merapikan diri, memakai baju lebaran, dan menyemprot sedikit parfume sebelum meluncur ke Masjid.

Sholat Ied di Masjid Ummil Qura’

Menurut jadwalnya Masjid Ummil Qura memulai sholat Ied jam 7.45 WIB. Jam 7.00 WIB, urang Rambai sudah siap meluncur ke Masjid Ummil Qura dengan menggunakan mobil. Maklumlah jarak rumah ke Masjid lumayan jauh dengan berjalan kaki.

Tak sampai 10 menit, kubah masjid tua yang unik dengan tembok berlengkung-lengkung antar pilar di pinggir Danau Maninjau telah tampak. Iya, Masjid Ummil Qura memang merupakan masjid yang unik dan antik. Masjid ini memiliki 4 lapis atap berbentuk persegi bagian bawah, 2 lapis atap berbentuk payung bagian tengah, dan sebuah tusuk sate dengan lambang bulan sabit bagian puncak.

sumber foto dari sini

Dua orang pemuda sudah menyambut kami di pintu masjid dengan berlembar-lembar uang bagaikan kasir di Restaurant. Masjid Ummil Qura cukup membuat stand di pintu masjid untuk meminta infaq kepada jamaah. Tak perlu mengedarkan celengan infaq dan berjalan mengelilingi jamaah sebelum atau sesudah sholat Ied. Kreatif kan?

Setelah masuk masjid, ¼ baris shaft perempuan yang masih kosong langsung kami tempati. Eits, itu untuk urang Rambai yang muslimah, gak tau deh yang muslim. Tak lama kemudian, panitia masjid berdiri di atas mimbar memberitahukan kondisi masjid dan pelaksanaan sholat Ied termasuk jumlah takbir dan bacaannya. Tetiba si tadek nyelutuk “Kak, kata ustadz waktu pengajian di Kantor kemaren bacaan takbir subhanallah walhamdulillah wallahu akbar sebenarnya tidak harus begitu. Karena tidak ada di dalam hadist. Benar gak sih?” Aku pun langsung menjawab “waduh baru denger juga yah. Googling deh habis sholat. Saat ini lebih baik kita membaca bacaan yang sudah lazim saja dulu”.

Seorang imam berdiri di depan dan semua jamaah pun akhirnya berdiri untuk memulai sholat Ied. Rakaat pertama sebanyak 7 takbir dengan bacaan surat Al A’la sebelum ruku’. Rakaat kedua sebanyak 5 takbir dengan bacaan surat Al Ghasiyah sebelum ruku’.

Usai sholat, Khatib pun berdiri di mimbar untuk memberikan Khutbah Idul Fitri. Khatib memberikan materi seputar penduduk muslim Gaza yang tidak bisa merayakan Idul Fitri seperti di Indonesia. Baku tembak senjata dan ratusan korban merupkan THR lebaran dari Israel untuk Gaza. Siapa sih yang tidak bersedih melihat penduduk muslim Gaza, Palestina? Semoga Allah SWT selalu melindungi penduduk Palestina. Selain membahas Palestina, Khatib juga mengkritik kebiasaan bermewah-mewahan saat lebaran. Kata Khatib, "seseorang yang menyambut lebaran bermewah-mewahan dengan menggunakan jam tangan dari Swiss, parfume dari Paris, sepatu dari Italy, tas dari Inggris, baju dari wol, celana dari cotton merupakan orang-orang yang merugi. Karena esensi lebaran adalah kembali ke fitrah dengan meningkatkan ibadah kepada-Nya". Jlebbb!
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S Al-'A`raf : 31)
Khatib menutup Khutbah dengan berdo’a. Jamaah langsung sungkeman dan bermaaf-maafan setelahnya. Orang pertama yang aku sungkem sudah pastilah Mami.

Berziarah ke pusaro (makam)

Usai sholat Ied, kami langsung pergi ke pusaro. Tak sampai 5 menit menaiki mobil dari masjid, Kami tiba di makam abo, bunda, neneknya mami yang pusaronya berderet di samping SD. Bagiku abo dan bunda adalah orang yang berkesan. Sewaktu masih hidup, abo sering mengajakku dan adikku jalan-jalan sore saat pulang kampung. Abo sering menasihatiku dan yang tak pernah aku lupa nasihatnya untuk menjaga mami saat alm papi selesai dikubur. Jika menerima rapor, abo selalu menanyakan nilai agamaku. Untung nilai agamaku dulu berkisar antara 8 dan 9. *bukan pamer yah. Dan yang paling berkesan adalah saat lebaran abo memberikan THR kepadaku karena puasaku gak bolong. *langsung mewek kalau mengingat moment dengan abo. Demikian juga dengan bunda. Sewaktu hidupnya, bunda sering menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Bahkan, sebelum handphone booming, bunda bela-belain kirim telegram selamat ulang tahun ke sekolahku. Bunda adalah orang yang objektif, berani memberikan apresiasi saat benar dan berani menegur saat khilaf. Aku sering ditegur karena mandinya lamaaaaaa banget padahal kamar mandi saat itu hanya 1. *mewek lagi deh

Berziarah ke pusaro
Setelah berdo’a dan membersihkan pusaro, kami melanjutkan ke pusaro papi. Pusaro papi terletak dekat rumah nenek muda. Sekitar 5 menit dari pusaro abo, kami tiba di pusaro papi. Mami tidak bisa menahan air matanya saat melihat pusaro papi. Saat ini, mami telah berhasil menyekolahkan anak-anaknya sehingga anaknya (hampir) berhasil. *mamiku adalah supermom. Tadek sudah sarjana pada November 2013 dan telah bekerja di salah satu perusahaan BUMN bidang konstruksi. Aku sudah magister pada Juli 2014. Selangkah keberhasilanku sudah terwujud. Hopefully, it’s can make him proud for me. Semoga mengunjungi pusaro papi berikutnya, aku makin sukses. Aamiin.
Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur (wafat) di jalan Allah itu telah mati, bahkan mereka itu hidup (di alam lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka itu mendapatkan kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Alah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan kehidupan mereka itu) di sisi Tuhannya dengan mendapat rizqi. (Q.S Ali Imran: 169)
Karena pusaro papi dekat rumah nenek muda, kami pun singgah sebentar ke rumah nenek muda. Sebelum pulang, aku sempat menyicip pudding di rumah nenek muda. Hehe.

Sungkeman dengan keluarga

Sebelum ke luar masjid, mayoritas urang Rambai sudah sungkeman. Namun, beberapa urang Rambai ada yang tidak sholat Ied karena alasan syar’i. Nenek yang makin menua tidak bisa sholat ke Masjid lagi. Tek mimi yang mempunyai balita tidak mungkin meninggalkan anaknya di rumah dengan nenek. Ima dan Dilla yang lagi tidak sholat juga tidak ke Masjid. Karena itu, Kami mengulang sungkeman di rumah. Harapannya adalah sungkeman bukan sekadar bersalaman. Tapi saling memaafkan atas kekhilafan masing-masing.
Cucu-cucu urang Rambai mengucapkan Taqaballahu minna wa minkum *kata orang cucu-cucu urang Rambai cantik-cantik. Kata orang loh bukan kata aku. qiqiqiqi


Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.S Ali Imron: 159).
Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar (Fathul Bari 2/446): "Dalam Al Mahamiliyat dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata: Para sahabat Nabi SAW bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya: Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)".

Menyantap menu lebaran

Menyantap menu lebaran merupakan kekalapan urang Rambai saat lebaran. Menyantap makanan saat lebaran ibarat seorang napi yang baru ke luar dari penjara. Seorang napi akan terbebas dari kurungan jeruji dan menikmati sejuknya udara di luar penjara. Suasananya persis dengan menyantapi makanan lebaran setelah sebulan berpuasa. *lebay ya?
Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang (pepatah Arab)
Ketupat yang merupakan menu (lumayan) wajib saat lebaran pun disajikan di rumah nenek. Sebagai pelengkap ketupat, nenek membuatkan kami sayur toucho. Menu lainnya pun tak kalah menggiurkan. Ayam gulai dengan nanas, rendang yang menghitam, sop buntut dengan tulang besar, pangek ikan membuat saliva makin meleleh. Berhubung kami tinggal di tepi Danau Maninjau, tentu makanan hasil danau juga disuguhi saat lebaran. Rinuak, bada, dan pesi yang dikreasikan beraneka ragam tak kalah menariknya dengan makanan "restaurant". Sebagai appetizer, urang Rambai menyajikan kue bolu koja, lamang jo tapai, lamang pisang, duren. Sedangkan desert berupa buah-buahan. Ondeh mandeh batambuah kami makan dek nyo. Kata mami "seperti perbaikin gizi". Hehe.
Francisca A Tjakradidjaja, dokter spesialis gizi berkata perlunya menjaga pola makan dengan menerapkan prinsip gizi seimbang saat lebaran. Prinsip gizi seimbang diterapkan dalam hal jumlah, komposisi, dan waktu makan. Menurut Francisca sayur dan buah sering terlupakan saat Lebaran. Padahal salad buah kaya kandungan vitamin dan memiliki serat tinggi. Waktu makan juga harus disesuaikan. Bila berkunjung saat jam makan besar dapat mengonsumsi makanan utama seperti nasi. Tetapi bila berkunjung di luar jam itu, hindari makanan berat. Pilihlah makanan ringan seperti buah. Bila mengonsumsi kue manis, sebaiknya tak lagi meminum yang manis seperti sirup. Sebaiknya minum air putih atau teh pahit. Mengonsumsi sirup hanya menambah kadar gula yang berpotensi merugikan kesehatan. Air putih memiliki banyak manfaat, di antaranya memperlancar pencernaan. (sumber: infonitas.com)

Bagi-bagi THR

THR sudah lama dibudayakan urang Rambai. Tak hanya anak-anak, orang tua seperti nenek, mami, tante dan om pun juga dapat THR. Bedanya THR untuk orang tua langsung ditransfer ke rekening masing-masing beberapa hari menjelang lebaran. Sedangkan anak-anak dikasih saat lebaran. *map yah buka kartu. Hehe.
Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad)
Seiring berjalannya waktu, urang Rambai pun kian banyak yang dewasa. Sehingga, sepupuku dan adekku yang telah bekerja ikut memberikan THR kepada sepupu lainnya yang masih sekolah/kuliah. Bersyukurnya lagi urang Rambai itu murah mengeluarkan uang. Tak heran sepupuku yang masih sekolah/kuliah dapat menambang hingga mencapai 7 digit rupiah (*menambang merupakan istilah di kampungku terhadap anak-anak yang mengumpulkan THR). Urang Rambai berharap bagi-bagi THR tetap menjadi budaya sampai anak, cucu, cicit, dst. Esensi bagi-bagi THR bukan menunjukkan seberapa besar kekayaan yang diperoleh tapi menunjukkan seberapa besar kepeduliaan, perhatian, dan kebersamaan antara saudara-saudara urang Rambai. Bagaimanapun kami memiliki satu nenek moyang yang dulunya tinggal di Rambai.
Nenek mengumpulkan THR cucu-cucu yang belum datang
Not all of us can do great things. But we can do small things with great love. (Mother Teresa)
Berkunjung ke rumah keluarga
Berkunjung merupakan budaya lebaran sejak dahulu. Urang Rambai pun juga melakukkannya. Mami, aku, dan tadek biasanya mengunjungi keluarga alm Papi di Lubuk Basung. Setelah sholat zuhur, kami berangkat ke Lubuk Basung bersama om hitam, tante yana, dan ante. Tadinya juga mengajak sepupu lain tapi merekanya pada gak mau. Perjalanan Maninjau ke Lubuk Basung menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Jalannya pun tidak terlalu ekstrem sehingga kami sangat nyaman. *tentu tidak ada yang mabok. Selama perjalan, beberapa kali sekelompok pemuda dengan berpakaian anah (pocong dan gorilla) menjegat kami dan meminta sedekah. Kami tidak menghiraukan mereka. Bukannya pelit tapi males menghadapi orang yang suka meminta-minta. Tangan di atas tak akan pernah turun tahta ke bawah. Ngapain juga minta-minta. Lebih baik bekerja dengan cara yang halal, toh?

Danau Maninjau kian menghilang, berganti dengan pepohonan kemudian berganti dengan perumahan yang diselingi sawah dan pohon. Tak terasa rumah nenek Lubuk Basung pun mulai terlihat. Kami disambut oleh amak (kakak Papi). "Wuah, katonyo ndak pulang kampuang? Kok pulang juo akhirnyo?" celutuk amak. Ternyata kedatangan Kami tidak begitu disambut antusias. Hiks. Tak berapa lama kemudian nenek ke luar dari kamar. Aku sedikit kaget melihat nenek yang kian menua dan uzur. Apalagi nenek juga sakit saat itu. I hope I can help her soon. Aamiin. Amak mempersiapkan makanan untuk Kami. Kami pun makan. Meskipun menu makanannya menggiurkan tapi aku sengaja mengambil makanan sedikit untuk menjaga keseimbangan komposisi makan. Iya, aku akan makan lagi pulang rumah nenek. Setelah makan, menyicipi kue lebaran, dan bagi-bagi THR kami pun berpamitan dengan nenek dan amak. Kami juga singgah sebentar di rumah Pak Uo (kakak Papi). Kemudian kami balik ke Maninjau. Eits, sebelum ke Maninjau kami singgah juga di Sate Harmoni. *makan lagi makan lagi.

Dalam perjalanan, ante menelpon urang Rambai yang tinggal di rumah nenek Maninjau. Kami berencana mengunjungi rumah mama/Ma Uo Eli di Panurunan, Maninjau bersama-sama. Belum sampai di Panurunan, kami singgah di Gasang untuk membeli pesi (kerang mini yang dibumbui sop).

Tiba di Panurunan, kami langsung menuju rumah mama. Ternyata sepupuku dari rumah nenek Maninjau sudah tiba duluan di sana. Beberapa di antara Kami shock melihat penampilan mama. Pakaian mama saat itu memang sedikit berbeda dari biasanya. Dress yang berwarna gelap dipadankan dengan blazer berwarna senada tak ubahnya seperti pakaian hijabers saat ini. Sayangnya, kerudung yang digunakan adalah bergo seperti anak MDA (*kata Dylon, sepupuku sih). Berbagai komentar pun muncul saat itu. "Wuah ma uo Eli mustinya pakai kerudung model Henna", sahut Dilla sepupuku. Tadek juga menambahkan "baju ini pasti dibelikan Kak Sari, menantu mama ya?". Mama pun membalasnya dengan senyum. Tak lama setelah itu, Aufar sepupuku yang masih balita datang dengan Tek mimi dan om Edo. Aufar langsung terdiam saat pertama melihat kami. Mungkin dibenaknya saat itu "Kok orangnya ini lagi ini lagi padahal Aufar sudah naik mobil dari rumah nenek ke sini". Dia pun juga memamerkan sepatu barunya yang masih bersih dan belum dipijakkan ke tanah. Haha namanya juga anak kecilll.

Lebaran di rumah mama/ Ma uo Eli

Matahari pun makin bergerak ke arah barat. Rona orange senja pun kian terlihat. Kami pun akhirnya pulang ke rumah nenek Maninjau.
The only rock I know that stays steady, the only institution I know that works is the family (Lee Iacocca)
Demikianlah agenda lebaran urang Rambai hari pertama. Kami pun masih bersemangat melakukan agenda keesokan harinya yaitu mengunjungi objek wisata. Nantikan cerita berikutnya pada postingan selanjutnya.
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah SWT, tidaklah dapat kamu menghitungnya. (Q.S Ibrahim: 34)

Rakik-rakik, Tradisi Kemeriahan Malam Takbiran di Danau Maninjau

Tuesday, August 12, 2014 Posted by rizka farizal 2 comments
Takbir berkumandang, bedug bertalu-talu, kembang api bersinar, obor menyala memeriahkan malam takbiran di Indonesia. Masyarakat Indonesia biasanya memeriahkan malam takbiran di daerahnya masing-masing. Setiap daerah punya tradisi menarik untuk memeriahkan malam takbiran. Demikian juga dengan kampung nenekku di Maninjau, Sumatera Barat. Daerah yang terletak disekeliling Danau Maninjau punya tradisi menarik sehingga menambah eloknya pesona Danau Maninjau.

Adalah rakik-rakik, sebuah tradisi malam takbiran yang telah berpuluh-puluh tahun diadakan setiap malam takbiran di Danau Maninjau. Konon kata Wali Nagari Maninjau Meliardi, tradisi rakik-rakik telah ada sejak jaman Belanda yaitu belasan tahun sebelum kemerdakaan Indonesia. Menurut sejarahnya, dahulu kala saat malam Lailatul Qadr, bapak-bapak beri’tikaf di masjid, ibu-ibu beribadah dengan menyalakan obor di rumah, pemuda-pemuda bermain sampan di Danau. Kemudian muncullah ide untuk mengkombinasikan kebiasaan sampan, membuat rumah di atas sampan, dan membuat obor untuk penerangnya. Ide itulah yang kemudian menjadi rakik-rakik [1].

Mungkin ada yang roaming dengan kata rakik-rakik. Well, rakik-rakik merupakan Bahasa Minang dari rakit-rakit. So, arti rakik-rakik adalah merakit bambu dan menambah aksesoris lampu obor serta lampion. Dewasa ini, rakik-rakik dihiasi dengan telong (rakik-rakik kecil yang tergantung di samping rakik utama). Rakik-rakik dimeriahkan dengan badia batuang (semacam meriam bambu) untuk menambahkan keriuhan malam takbiran. Suara badia batuang sangat keras sehingga malam yang sunyi bergema di selingkaran Danau Maninjau. Apalagi sekarang ditambah dengan kembang api. Rakik-rakik ini diiringi dengan atraksi tambua (tambur / rebana ukuran besar) dan lantunan takbir yang berkumandang. Kebayang donk meriahnya Danau Maninjau saat malam takbiran?

Rakik-rakik dibangun jauh hari sebelum malam takbiran. Bahkan, sebelum bulan Ramadhan. Dana yang dikeluarkan untuk membuat rakik-rakik lumayan besar yaitu 7-8 jutaan. Dananya diperoleh dari swadaya masyarakat dan donatur dari urang rantau [2].

Dahulu, setiap nagari disekeliling Danau Maninjau mempunyai rakik-rakik. Rakik-rakik pun dilombakan antar nagari. Sayangnya, sekarang hanya 3 nagari yang masih membudayakan tradisi ini yaitu Nagari Maninjau, Tanjung Sani, dan Sigiran. Faktor dana merupakan alasannya. Sehingga, rakik-rakik yang dulunya dilombakan pun sekarang tidak dilombakan lagi.

Pada lebaran Idul Fitri 1435 H, nagari Maninjau memiliki 3 rakik-rakik yang dibuat oleh Jorong Baruah Kampuang (Barkam), Jorong Kububaru, dan Jorong Gasang. Jorong Barkam mengambil konsep design bangunan utama seperti Tabuik dengan telong masjid, rumah gadang, rangkiang. Jorong Kububaru memiliki design bangunan utama rumah gadang dengan telong rangkiang dan masjid. Sedangkan Jorong Gasang memiliki design seperti perahu naga. Aku sempat bingung dengan design Jorong Gasang yang memiliki design perahu naga. Hello, rakik-rakik kan memeriahkan malam takbiran bukan gong xi fa cai. #tepokjidat

Rakik-rakik jorong barkam

Rakik-rakik Jorong Kububaru

Bupati Agam, Indra Cati ikut memeriahkan rakik-rakik Idul Fitri 1435 H. Sekitar jam 23.00 WIB, bapak bupati bersama rombongan menaiki rakik-rakik Jorong Barkam. Dengan diiringi gema takbir, tambua, badia batuang serta kembang api, rakik-rakik berlayar hingga ratusan meter dari tepian hingga ke tengah Danau Maninjau. Danau Maninjau yang sunyi menjadi semarak. Cahaya dari rakik-rakik pun memberikan sinar yang indah di malam hari. Penontonnya pun ikut terkesima dengan keindahan rakik-rakik. Penontonnya tak hanya masyarakat sekitar dan urang rantau yang mudik tapi banyak juga bule yang ikut menyaksikan rakik-rakik. Maklum saja rakik-rakik ternyata sudah masuk dalam halaman kitab suci traveler sekelas Lonely Planet [3]. Tak heran kan banyak bule yang menyaksikan rakik-rakik? Wuah, keren banget dah kampuang halaman nenek moyangku.


Kembang api di atas rakik-rakik

Setelah beberapa jam berlayar menyaksikan pesona malam hari Danau Maninjau dengan rakik-rakik dan ikut membunyikan badia batuang, rakik-rakik yang dinaiki bapak bupak bupati makin menepi ke bibir danau. Semua rakik-rakik dari jorong dan nagari lain berakhir di Masjid raya Kububaru. Akhirnya festival rakik-rakik Idul Fitri 1435 H selesai.

Masjid Raya Kububaru sebagai lokasi finish rakik-rakik

Aku berharap tradisi rakik-rakik tetap dilestarikan di Danau Maninjau. Tidak hanya melestarikan tradisi tapi juga dapat menarik wisatawan baik lokal maupun internasional. Salam!


Referensi:
[1] dan [2] http://www.antarasumbar.com/artikel/602/rakik-rakik-sebuah-tradisi-di-malam-takbiran.html
[3] http://books.google.co.id/books?id=4GMBFsaFNN4C&pg=PA438&dq=rakik+maninjau&hl=id&sa=X&ei=Z0rpU83ILJbq8AXT14Ao&ved=0CCAQ6AEwAQ#v=onepage&q=rakik%20maninjau&f=false

Sumber Gambar:
Semua foto berasal dari koleksi pribadi sepupu Saya @dylonst

Saturday, August 09, 2014

Buka Bersama Urang Rambai

Saturday, August 09, 2014 Posted by rizka farizal No comments
Mungkin banyak yang bertanya tentang penamaan blog ini. *GeeR. FYI, genrambai yang merupakan alamat URL blog ini artinya gen = keturunan, rambai = nama perkampungan kecil di Maninjau, Sumatera Barat. Iya, aku berasal dari Rambai (bukan Rumbai di Pekanbaru loh!). Meskipun alm kakek dan nenekku sudah lama pindah dari Rambai dan aku pun belum pernah menginjakkan kaki di Rambai, tapi setiap ada perkumpulan semisal halal bihalal, arisan, dll di Maninjau keluarga besarku selalu memperkenalkan diri bahwa kami berasal dari Rambai. Meskipun iya itu tadi, nenekku sudah pindah dari Rambai dan sekarang tinggal di Bancah, Maninjau.

Urang Rambai kini keturunannya sudah makin berkembang. Dari hanya beberapa orang di sebuah rumah (kakek nenek buyutku), kini sudah banyak anggota keluarganya. Jadi ceritanya nenek buyutku mempunyai 3 orang anak dan semuanya perempuan. Anak tertua adalah nenekku, anak kedua dipanggil nenek rancak (alm), dan anak bungsu dipanggil nenek muda. 

Nenekku mempunyai 8 orang anak yaitu 4 orang perempuan dan 4 orang laki-laki (sekarang tersisa 3 orang perempuan dan 4 orang laki-laki). Masing-masing anak nenekku mempunyai anak juga (cucu red.) dan jumlah cucu dari nenekku adalah 13 orang anak. *13 is lucky number. Cucu tertuanya adalah aku (2* tahun, sengaja disensor) dan cucu terakhir adalah sepupu laki-lakiku yang masih 18 bulan. *selisih umurnya jauuuuhhh bingits yah. Hampir loh aku dipanggil tante. huhu. Alm nenek rancak mempunyai 3 orang anak yaitu 1 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. Sedangkan nenek muda mempunyai 7 orang anak yaitu 4 orang perempuan dan 3 orang laki-laki.

Saat ini, urang Rambai yang tinggal di Maninjau hanya 2 keluarga, urang Rambai yang tinggal di Bukittinggi hanya Nenekku, sepupuku, dan ibuku. Urang Rambai lainnya merantau ke luar Sumatera Barat. Ada yang di Bengkulu, Batam, Jambi, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Banjarmasin. *Kebayang donk sepinya rumah tua kami di Maninjau saat semuanya merantau.

Bersyukur,

Saat lebaran 1435 H kemaren banyak urang Rambai yang mudik ke Maninjau. Dengan banyaknya yang mudik, nenekku sebagai urang paling tuo saat ini mengundang adik, anak, dan cucunya berbuka bersama di rumah nenekku, Bancah, Maninjau. Pas banget buka bersamanya pada hari terakhir Ramadhan.

Sebagai master chef di keluarga, nenekku membuat menu berbuka. Jangan salah loh meskipun nenekku sudah uzur tapi hampir semua menu buka bersama diracik oleh nenek sendiri. Nenekku Keren! 

30 menit menjelang berbuka, 

Keluarga besar alm nenek rancak dan nenek muda sudah sampai di rumah nenekku, Bancah. Rumah yang sebelumnya sepi bahkan sempat tidak dihuni menjadi padat dengan urang Rambai. Beruntungnya, saat ini rumah di Bancah sudah mempunyai 3 buah kamar mandi sehingga tidak terlalu antri saat ke kamar mandi. *buka bersama sekalian syukuran dapur baru juga sih.

Narsis sebelum berbuka *meskipun matanya gak kobe

Ngiungggggggg

Sirine buka puasa pun berbunyi. FYI, sirine seperti bunyi ambulance merupakan bunyi yang ditunggu saat buka puasa di Sumatera Barat. Noted! Bukan Maninjau saja tapi Sumatera Barat. Iya, bedug sudah diganti dengan sirine. Mungkin karena bedug bunyinya tidak terlalu kenceng makanya diganti sirine.

Urang Rambai pun langsung mengambil menu tajil dan berbuka puasa. Hmm, makanannyo lamak bana.

Beberapa menu yang tersorot kamera

Usai berbuka puasa dan sholat maghrib berjamaah, keluarga alm nenek rancak dan nenek muda pun pulang ke Rumah masing-masing. Hopefully, tahun depan kebersamaan berbuka puasa terulang kembali.
You don't choose your family. They are God's gift to you, as you are to them. Desmond Tutu
Finally, serbuuu makanan
We cannot destroy kindred: our chains stretch a little sometimes, but they never break.Marquise de Sévigné