Saturday, May 17, 2014

Sisi Gelap Anak Sekolahan di Negeriku

Saturday, May 17, 2014 Posted by rizka farizal 8 comments
Gambar: dari sini

Aku tertohok dengan quote di atas. Memang banyak kasus kekerasan pada anak sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA, sampai kuliah. Masih hangat kasus pelecehen seksual pada anak TK di salah satu sekolah internasional. Anak-anak yang masih unyu dan polos menjadi korban nafsu pegawai sekolahnya. Anak-anak yang jauh dari baligh harus mengalami guncangan batin, stress, dan sejenisnya.

Masih hangat berita seorang anak SD yang mengalami kekerasan oleh kakak kelasnya. Hanya karena sepotong es, seorang anak SD masuk rumah sakit hingga tewas oleh perbuatan kakak kelas yang sok jagoan. 

Naik tingkat ke SMP, begitu banyak anak sekolah yang menjadi penikmat pornografi. Bahkan sudah ada yang mempraktekannya. 

Naik tingkat ke SMA, banyak anak sekolah yang mengganggap tawuran bukanlah hal yang tabu. Bahkan ada anak sekolah yang berpendapat bukan anak SMA namanya jika tidak tawuran. 

Tamat SMA, status siswa yang sudah berubah menjadi mahasiswa ternyata bukan merubah status anak baik menjadi anak maha baik. Banyak kejadian ospek pada beberapa universitas yang merenggut nyawa. Tak hanya 1, 2, 3 universitas tapi lebih. Proses penyambutan mahasiswa baru yang sangat tidak etis. Belum habis masa euphoria setelah berganti status dari siswa menjadi mahasiswa ternyata berujung dengan maut.

MIRIS MIRIS MIRIS!!! Setiap level sekolah ada kasus kekerasan!

Jika sudah begini, siapa yang patut disalahkan?

Keluarga? Ini bisa menjadi penyebab utamanya. Karena keluarga merupakan orang terdekat dengan anak. Keluargalah yang harusnya memberikan pendidikan budi pekerti untuk anak-anaknya. Keluargalah yang harus memberikan "perhatian" lebih untuk anaknya. Keluarga harus memberikan filter tentang "dunia jahat" kepada anaknya. Keluarga jugalah yang harusnya selektif memilih sekolah yang terbaik untuk anaknya.
Pendidikan pada diri seorang anak sesungguhnya dimulai jauh sebelum anak tersebut memiliki tubuh dan kesadaran manusiawinya (Miranda Risang Ayu)
Pendidik dan semua perangkat sekolah? Bisa sih. Karena sekolah merupakan amanah yang diberikan keluarga untuk membina anak-anak. Sekolahlah yang harusnya memberikan materi budi pekerti kepada anak didiknya. Meskipun tak semua pendidik mengajar budi pekerti tapi semua tenaga pendidik seharusnya paham tentang materi budi pekerti.
Jika Anda mendidik seorang pria, maka seorang pria akan menjadi terdidik. Jika Anda mendidik seorang wanita, maka sebuah generasi akan terdidik (Brigham Young)
The tragedy of education is played in two scenes - incompetent pupils facing competent teachers and incompetent teachers facing competent pupils. (Martin H. Fischer)
Media dan kemajuan IPTEK? Bisa sih. Dengan perkembangan internet, games, buku, film yang beredar di masyarakat memang banyak yang tidak layak untuk anak-anak. Bahkan sebuah buku dan film yang ditujukan untuk anak-anak memiliki selipan "guyonan" yang tidak senonong. Contohnya: Games Redneck, Point Blank, Kartun Naruto, Crayon Shinchan, dll bisa dilihat penjelasannya di sini. Tapi jika ada orang yang bisa mengawasinya tentu bisa diminimalisir, bukan? Apalagi sudah banyak akses pornografi yang difilter oleh lembaga baik kominfo, provider, maupun sekolah.

Kurangnya pengetahuan agama? Setiap agama pasti mengajarkan kebaikan terhadap umatnya. Sayangnya seorang anak yang mendalami agama dianggap sok suci oleh temannya. Seorang keluarga yang selalu membina keluarga agamis dianggap ekstrem oleh orang lain. Padahal dengan agama yang baik, akan terbentuk juga keluarga madani.
Ilmu apapun sebenarnya tidak ada yang mudhorot, karena semua datang dari Tuhan dan diperuntukkan untuk kemaslahatan (Dian Nafi)
Perilaku anak yang terlalu pembangkak? Bisa juga sih. Banyak anak yang sok jagoan, sok punya kekuasaan sehingga sering mem-bully anak yang lemah. Banyak anak durhaka yang tidak mau mendengar peringatan dari orang tua dan tenaga pendidiknya.
Ibarat manusia tanpa keperibadian, universiti moden tidak mempunyai pusat yang sangat penting dan tetap, tidak ada prinsip-prinsip utama yang tetap, yang menjelaskan tujuan akhirnya. Ia tetap menganggap dirinya memikirkan hal-hal universal dan bahkan menyatakan memiliki fakulti dan jurusan sebagaimana layaknya tubuh suatu organ - tetapi ia tidak memiliki otak, jangan akal (intellect) dan jiwa, kecuali oleh dalam suatu fungsi pengurusan murni untuk pemeliharaan dan perkembangan jasmani. Perkembangannya tidak dibimbing oleh suatu prinsip yang akhir dan tujuan yang jelas, kecuali oleh prinsip nisbi yang mendorong mengejar ilmu tanpa henti dan tujuan yang jelas. (Syed Muhammad Naquib al-Attas)
Terus gimana? Kita tidak boleh hanya berdiam diri saja terhadap sisi gelap anak sekolah sekarang. Banyak alternatif yang telah dilakukan. Aku memang bukan pakar pendidikan, praktisi pendidikan, atau sejenisnya. Tapi menurutku sih home schooling, pendidik yang perhatian terhadap anak didiknya, media yang selalu difilter, evaluasi OSPEK bisa menjadi solosinya. Khusus untuk home schooling, menurut aku sih punya sisi positif dan negatif. Sisi positifnya keluarga lebih dekat dengan anaknya dan mengajarkan edukasi positif untuk anaknya. Namun, sisi negatifnya anak akan kurang memiliki jiwa berkompetisi, leadership, berorganisasi, dan bersosialisasi dengan temannya. Tapi home scholling pilihan masing-masing keluarga sih. *mohon maaf jika ada yang tidak setuju.
The difference between school and life? In school, you’re 368 up, 59 down taught a lesson and then given a test. In life, you’re given a test that teaches you a lesson. (Tom Bodett)
Oke! Apapun itu, aku tahu seharusnya tiap keluarga punya solusi alternatif terhadap anak-anaknya. Semoga saja tidak ada kekerasan terhadap anak sekolah. Ingatlah bahwa masa depan bangsa lahir dari generasi muda. 
Pendidikan adalah tiket ke masa depan. Hari esok dimiliki oleh orang-orang yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini. (Malcolm X)
Reaksi:

8 comments:

  1. miris bgt... pdhal mereka generasi penerus bangsa. pada guru kita titipkan persiapan masa depan bangsa ini..

    ReplyDelete
  2. Pendidikan rawan kejahatan. Pendidikan malah kayak penjara :D siapa kuat dia menang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm, kalau seperti penjara gak juga sih bro

      Delete
  3. Ya Allah, semoga anak-anakku memiliki akhlak yang baik aminnn... T__T

    ReplyDelete
  4. Semoga tidak terjadi lagi untuk kedepan nya :'(

    Watch movie online

    ReplyDelete