Friday, April 04, 2014

Sepucuk Surat di Bawah Bantal

Friday, April 04, 2014 Posted by rizka farizal 9 comments
Aku telah pernah menulis moment pertama berjilbab dan diikutkan dalam kontes sebanyak dua kali dengan judul Sepucuk surat demi berhijab dan Surat di Bawah Bantal. *Ketauan banci kontesnya. Alhamdulillah, salah satu dari artikel tersebut menjadi salah satu pemenang kategori most sharing social media. Tapi aku masih berasa ada yang kurang dari penulisan tersebut. Karena tulisannya di-submit ke website/blog penyelenggara dengan jumlah kata yang terbatas. Sehingga, banyak cerita yang terpaksa aku potong demi mencukupkan persyaratan jumlah maksimal kata. Oke, sekarang akan aku ceritakan moment pertama saat berjilbab. Moment tersebut tak akan pernah aku lupakan.

***

Sebelum menjadi pelajar SMP, aku tidak tau tentang urgensi jilbab. Maklumlah masih SD dan aku juga jarang mempelajari isi kandungan Al-Qur’an. Tak pernah aku merasa kepo dan bertanya kepada muslimah yang berjilbab: kenapa mereka berjilbab? Apakah berjilbab itu dilakukan setelah naik haji? Apakah berjilbab itu ibadah wajib? Apakah berjilbab itu ada dalilnya? Aku memang sangat cuek dengan ibadah akhirat. Yang aku tau ibadah hanya menjalankan rukun Islam yang 5 perkara itu. Bahkan, mendiang ayahku pernah berceloteh "kamu kapan mau berjilbab?" Ya karena aku masih SD jawabanku "nanti-nanti saja jika telah kuliah kerja dan sudah tua". Lalu adik ibuku yang ikut ngobrol saat itu langsung nyeletuk "etek dulu juga rencananya saat kerja eh tapi malah sudah pakai jilbab sekarang". Saat itu etek masih kuliah. Aku pun hanya bisa speechless.

Sampai akhirnya aku masuk SMP. Meskipun aku masuk SMP negeri tapi di sanalah aku tau tentang urgensi jilbab. Aku diajar oleh guru agama yang bernama Ibu Rahmi Adnan. Nama guruku itu selalu hafal dibenakku. Guruku itu setiap kali mengajar selalu bercerita tentang jilbab. Baik itu dalil Al Qur’an tentang jilbab maupun hukuman terhadap muslimah yang tidak berjilbab. Setiap belajar agama dengan guruku itu, muslimah yang tidak berjilbab wajib memakai mukena lengkap. "Wahai wanita-wanita modern". Sambil menunjuk kami yang tidak berjilbab, guruku selalu mengucapkan kalimat tersebut setiap belajar agama. Bulu romaku selalu merinding bahkan mataku berkaca-kaca setiap guruku bercerita tentang hukuman bagi muslimah yang tidak berjilbab. Ya Allah, aku tidak mau rambutku digantung di akhirat lalu disiram pake air neraka sampai melelah. Aku maunya makan ice cream dan coklat meleleh di surga. *gak nyambung. Aku juga tidak mau membuat dosa orang lain karena melihat aurat yang setiap hari aku pamerkan.

Karena tak mau berlama-lama berdosa, akupun mengutarakan niat untuk berjilbab kepada ibuku. Pertama kali mengutarakan jilbab, ibu tak memberikan respon positif kepadaku. Maklumlah aku kan oranganya bandel, tutur kata kurang santun, sering pake rok mini, dan sangat labil sampai berubah-ubah pikiran. Sebenarnya aku tak setuju dengan pemahaman beberapa muslimah yang mengatakan "jilbabin dulu hatinya (akhlak) baru pake jilbab". Padahal "akhlak dan jilbab itu suatu hal yang berbeda. Akhlak itu budi pekerti. Jika muslimah berjilbab melakukan dosa, hal itu bukan karena jilbabnya namun karena akhlaknya. Muslimah berjilbab belum tentu berakhlak mulia. Namun, muslimah berakhlak mulia pasti berjilbab". Betul kan?

Beberapa kali mengutarakan niatku untuk berjilbab tak pernah disambut baik oleh ibuku. Akhirnya aku menuliskan sepucuk surat untuk ibu. Isi surat tersebut menjelaskan bahwa aku betul-betul berniat berjilbab, tidak akan melepaskan jilbab di kemudian hari, dan akan merubah akhlakku. Bahkan, aku membawa-bawa amanah dari mendiang ayah karena mendiang ayah pernah secara tidak langsung menyuruhku berjilbab. Surat tersebut aku letakkan di bawah bantal sebelum aku pergi ke sekolah. *Nah, untuk kelakukanku yang menyelipkan sepucuk surat di bawah bantal ini, aku jadi sering disindir oleh keluargaku karena mengungkapkannya via surat.

Sepulang sekolah, ibu langsung menghampiriku. "Kamu serius ingin berjilbab? Tapi kamu harus istiqomah dan jangan melepaskan jilbabmu itu di kemudian hari. Kamu juga harus mengubah akhlakmu sehingga mencerminkan muslimah yang santun". "Aku janji" sahutku kemudian. "Oke, kalau begitu nanti Ibu belikan kamu baju baru dan jilbab baru", kata ibu. Akupun langsung bahagia.

Keesokan harinya, Ibu langsung membeli baju dan jilbab baru kepadaku. Aku juga sempat belanja jilbab putih ke pasar dengan uang tabunganku. Itu adalah pertama kalinya aku berbelanja dan tawar-menawar di pasar. Biasanya aku hanya belanja majalah atau aksesoris yang mini ke pasar. 

21 Januari 2002, aku resmi berjilbab. Bismillah. Dengan memakai baju dan jilbab baru, aku berniat akan istiqomah berjilbab. Lalu aku berangkat ke sekolah. Tiba di sekolah banyak temanku yang mengucapkan selamat atas hijrahku. Ada juga temanku yang shock dengan penampilan baruku. Termasuk teman semejaku. Dia langsung tersenyum dengan tertegun lalu menutup mulutnya saat melihat perubahanku. 

Saat baru berjilbab, aku menggunakan jilbab gaul (istilah jaman dulu) kecuali kalau pergi ke sekolah. Aku memakai celana, baju kekecilan, jilbab yang selalu berganti-ganti modelnya. Model jilbab dibuat menjadi pitalah, jilbab dililit sampai mencekek leherlah. Bisa dibilang akulah orang yang paling ribet model jilbabnya jika berkumpul dengan temanku. Sampai-sampai temanku selalu merespon dengan model jilbab yang selalu berganti-ganti dan warna berubah-ubah.

Setelah kuliah, aku mulai merubah penampilan jilbabku. Aku masih ingat dengan temanku yang menyeletuk "kamu tidak pernah pakai rok yah?". Memang pada awal kuliah aku masih berpenampilan ala jilbab gaul. Sampai akhirnya aku aktif mengikuti unit keagamaan dan aku tersadar tentang penampilan jilbab itu harus syar’i. Yah percuma saja sih pake jilbab masih setengah-setengah. Tidak ada nilai ibadahnya juga kan? 

Alhamdulillah setelah lebih dari 12 tahun berjilbab, aku mencoba berpenampilan jilbab syar’i. Pakai rok, jilbab nutupin dada, dan pakai kaos kaki. Aku berharap tetap istiqomah dengan jilbab. Tak akan melepaskannya karena alasan apapun. 

Sampai saat ini, aku tidak hanya merubah penampilan jilbabku. Aku juga pernah memberikan nasihat tersirat kepada orang lain untuk menggunakan jilbab. Pertama kepada adikku. Aku mengucapkan selamat ulang tahun saat adik ulang tahun dan doanya semoga adik dimudahkan menggunakan jilbab. Ternyata keesokan harinya adikku langsung berjilbab. Kedua saat kuliah, aku pernah menjadi mentor agama. Duh, malu juga sih orang seperti aku yang masih dangkal ilmu agama disuruh jadi mentor juniorku. Aku pernah dengan sengaja menyuruh adik mentorku membaca surat QS. An Nuur: 31, QS. Al Ahzab: 59, dan QS. Al-A’raaf: 26. Aku hanya menyuruh membaca doank loh tanpa berceramah panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume. Alhamdulillah, seminggu kemudian aku berjumpa lagi dengan adik mentorku dan dia telah berubah penampilan. Hmm, memang ilmu yang bermanfaat itu harus dibagi karena ilmu tidak akan pernah berkurang bahkan semakin bertambah. Dan sebagai seorang muslim kita juga diperintahkan untuk saling menasihati ke jalan yang lurus supaya kita bisa reunion di surga nanti.

Ya Allah terima kasih telah memberikan hidayah berjilbab kepadaku saat umurku masih belia. Terima kasih telah memberikan perantara-Mu kepadaku sehingga aku makin tau anjuran dan ibadah yang harus dilakukan. Semoga aku selalu istiqomah dengan berjilbab. Aamiin.
Reaksi:

9 comments:

  1. berhijab tetep kelihatan lebih anggun klo saya pikir

    ReplyDelete
  2. Sama, saya jga tidk setuju dengan kata2 jilbabin dulu hati ...
    Alhamdulillah ya bisa pake juga, moga istiqamah :)

    ReplyDelete
  3. Hi,
    Yuk, ikuti Giveaway perdana saya berhadiah CD Originil @onedirection + pulsa total IDR 50k http://t.co/VbMOKQ77C5 Jangan sampai kelewatan yaaa...... Giveaway ini dimulai pada 4 April 2014 dan ditutup pada akhir April. Ajak teman-temanmu sebanyaknya. #GATakeMeHome
    xoxo

    ReplyDelete
  4. Hijab adalah identitas seorang muslimah ya Mbak... Aku juga pengen suatu saat pake jilbab lebar, kalau lihat akhwat2 yang berhijab begitu, rasanya adem. Tapi diri belum siap dengan lingkungan yang sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hijab aku juga gak terlalu dalem juga kok karena belum siap juga

      Delete