Thursday, April 03, 2014

Ibuku Protector

Thursday, April 03, 2014 Posted by rizka farizal 2 comments
Beberapa hari yang lalu, adikku bercerita tentang pengalamannya mengikuti training outdoor pegawai baru di perusahaannya. Selama serangkaian proses training tersebut, adikku didampingi oleh beberapa konselor. Hasil analisis akhir dari konselor mengatakan bahwa hal utama yang mempengaruhi kehidupan adikku adalah keluarga. Keluarga yang sangat protector kepada adikku sehingga banyak hal yang menjadikan adikku kurang kreatif.

Ibuku memang seorang yang sangat protector. Aku pun bisa memakluminya. Karena semenjak ayah pergi, ibu sangat menjaga aku dan adikku. Ibu sangat cemas jika ada suatu hal yang menimpa kami. Sehingga ibu memiliki sifat protector. Aku tak pernah diizinkan pulang malam seperti acara buka bersama dengan temanku karena tidak ada yang menjemput antarkan. Aku selalu diwanti-wanti untuk tidak menghidupkan kompor saat ibu tidak di rumah karena khawatir kompor meledak dan terjadi kebakaran. Aku sulit mendapat izin untuk pergi traveling bersama teman sekolahku karena khawatir pergi ke tempat yang "aneh-aneh".

Setelah lulus SMA, aku pisah dengan ibu karena aku kuliah di Bandung. Selang 3 tahun kemudian, adikku juga mengikuti jejak yang sama denganku kuliah di Bandung tapi berbeda universitas. Setelah di Bandung pun ibu juga sering protector kepadaku. Saat hendak pulang kampung, ibu selalu cerewet untuk mematikan listrik, mengingatkanku untuk tidak lupa membawa tiket, mengingatkanku untuk tidak lupa membawa semua perlengakapan ini dan itu. Ibu sangat khawatir kepadaku.

Selama di Bandung, aku melampiaskan kebebasanku. Aku mengalami transformasi dari apatis menjadi kreatif. Meskipun banyak kegiatanku itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Aku tidak pernah bilang kepada ibu jika aku mengikuti kegiatan keagamaan, kaderisasi di himpunan, traveling dengan temanku, termasuk aktivitas terakhirku saat ini ngelesin adik yang kurang mampu, sering ngeblog dan mengikuti kontes nulis. Walaupun pada akhirnya aku pun juga bilang kepada ibu jika aku mengikuti kegiatan ini dan itu. Dan lagi-lagi juga kegiatanku kurang didukung oleh ibu. Ikut kegiatan keagamaan diwanti-wanti dengan adanya ajaran sesat, ikut unit dan himpunan diwanti-wanti jangan terlalu aktif agar tidak mengganggu kuliah, ngelesin anak yang kurang mampu diwanti-wanti agar tetap fokus mengerjakan tesis. Nah, untuk yang ngeblog bahkan sampai ikutan kontes belum pernah cerita sih. Walaupun aku pernah ketauan mengikuti sebuah kontes karena musti daftar via facebook dan si facebook mulai comel sehingga tulisan yang aku share ke fanspage bisa dibaca semua orang termasuk ibu, tante, dan omku. Huhu. Beruntungnya aku diberi respon positif oleh mereka. Kata Ibu tulisanku bagus, penulisannya tanpa typo, idenya bagus bahkan mahasiswanya kalah dengan cara menulisku. (FYI, ibuku seorang dosen). Sementara tante, Dia langsung menyodorkan link tulisanku kemudian dibaca omku. Menurutnya "anak ini pendiam tapi bisa nulis juga ternyata. Bisa-bisa di kemudian hari kerja di Jawa Pos". Semua keluargaku pun tau dengan passion baruku. hihi

Meskipun aku seperti melampiaskan kebebasan tapi aku tidak pernah tuh melakukan kegiatan negatif seperti remaja lainnya (foya-foya, mesum, apalagi merokok). Aku hanya bebas untuk hal yang positif. So, tidak semua anak merantau yang baru pisah dari orang tua loh mengalami kebebasan melakukan kegiatan negatif.

Oke kembali ke topik. Ibuku memang sangat protector. Tapi aku tidak pernah menyalahkannya. Aku tau Ibu sangat sayang kepada aku dan adikku. Ibu ingin aku dan adikku menjadi anak yang baik-baik dan bisa membanggakan ibu, masyarakat, nusa, dan bangsa. Ibu ingin agar kami tidak terjerumus kepada kegiatan "aneh" yang sering beredar pada masyarakat sekarang. Entah itu ajaran sesat, entah itu pacaran sampai melakukan “suatu hal yang belum halal”, entah itu kecelakaan saat di jalan.

Untuk ibuku yang sangat aku hormati dan sayangi,

Terima kasih telah melindungi (protect) aku dan adikku selama ini 
Terima kasih telah memberikan kasih sayangnya kepada kami. 
Terima kasih telah mendidik kami untuk semua hal yang positif. 
Terima kasih atas semua jasamu selama ini 
Aku tau ibu telah lelah bekerja menghidupi kami sampai saat ini 
Aku tau dengan semua perjuangan ibu 
Maafkan aku dan adikku jika kami sering mengeluh kepadamu 
Maafkan aku masih belum bisa membanggakan ibu sampai saat ini 
Aku sayang ibu…

Dan untuk para pembaca semua, aku ingin berpesan bahwa tidak ada hambatan untuk kreatif. Jika memang kendalanya keluarga yang protector masih banyak jalan untuk menapakinya. Kita bisa memanfaatkan networking. Contohnya: aku kan pernah dilarang kegiatan malam seperti buka bersama karena tidak ada yang mengantar jemputku pulang. Nah, kalau kita kreatif kan bisa minta tolong dengan teman yang dikenal keluarga sehingga bisa tuh ikutan buka bareng bersama keluarga. Say yes to be creative!
Reaksi:

2 comments:

  1. Ibu kadang suka khawatir sesuatu terjadi pada anaknya ya riz...tapi kalo kita coba menunjukkan hasil yg baik tentu semua akan lancar saja.

    ReplyDelete