Sunday, December 22, 2013

[REVIEW] Film 99 Cahaya di Langit Eropa

Sunday, December 22, 2013 Posted by rizka farizal 31 comments
Tak sabar rasanya menonton sebuah film yang diadaptasi dari sebuah novel best seller karangan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Belum lagi dengan trailernya yang sangat menakjubkan, artisnya yang legendaris, pemeran pendukung yang sudah familiar pada bidangnya masing-masing, dan publikasinya di media online dan media cetak. Siapa yang tak penasaran menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa?

Akhirnya, seminggu yang lalu Saya tidak penasaran lagi. Saya menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa bersama adik Saya. Kami menonton hari Minggu yangmana pada hari Minggu HTM Bioskop lebih mahal daripada weekdays. Sempat terbesit dibenak Saya menunda menonton film tersebut karena kantong Saya yang sudah menipis. Niat tersebut Saya tepis karena rasa penasaran yang melebihi kondisi ekonomi Saya saat itu. Saya pun mengajak adik menonton di bioskop yang HTM miring dan terjangkau. Kata orang “harga itu menentukan kualitas”. Demikian juga dengan bioskop. Jika harganya mahal, maka fasilitasnya juga bagus. Jika harganya murah, maka fasilitasnya juga seadanya. Saya pun menerima kenyataan tersebut. Fasilitas bioskop yang seadanya bahkan berkali-kali adik Saya mengeluarkan kipas karena AC yang kurang dingin. Namun, ketidaknyamanan tersebut hilang karena film 99 Cahaya di Langit Eropa yang sangat menakjubkan.

Penasaran dengan film 99 Cahaya di Langit Eropa? 

Simak sinopsis dan review Saya berikut ini:

SINOPSIS

Sutradara: Guntur Soeharjanto
Produser: Ody M. Hidayat
Penulis: Alim Sudio, Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra (screenplay)
Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra (novel, 99 Cahaya di Langit Eropa) 
Penyunting: Ryan Purwoko
Sinematografi: Enggar Budiono 
Distributor: Maxima Pictures
Pemain: Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Raline Shah, Nino Fernandez, Alex Abbad, Marissa Nasution, Geccha Tavvara, Dewi Sandra, Dian Pelangi, Hanum Salsabiela Rais, Fatin Shidqia Lubis 
Musik: Cahaya di Langit Itu (Fatin Shidqia Lubis)
Durasi: 105 menit

99 Cahaya di Langit Eropa merupakan film yang diadaptasi dari novel karangan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Film ini terinspirasi dari kisah nyata perjalanan Hanum dan Rangga selama 3 tahun tinggal di Eropa. Film dwilogi ini menceritakan kisah agen muslim yang mengenal situs dan sejarah Islam di Eropa dengan benang merahnya kisah persahabatan dan perjalanan. Penonton dimanjakan dengan keindahan kota Vienna (Austria) dan Paris (Prancis). Selain menawarkan keindahan di tempat tersebut, film 99 Cahaya di Langit Eropa didukung oleh pemain film yang sudah fenomenal.

REVIEW

Berawal dari Vienna (Austria), Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya) memulai kisahnya. Rangga yang saat itu menempuh kuliah doktor di WU Vienna dan Hanum yang dulunya bekerja di bidang jurnalistik mendampingi sang suami selama di Eropa. Mereka sangat sulit hidup di Eropa apalagi dengan status mereka sebagai muslim. Rangga kesulitan mencari makanan yang halal dan kesulitan mencari tempat sholat di kampusnya. Sedangkan Hanum mengalami kesulitan mencari pekerjaan karena kurang fasih berbahasa Jerman.

Hanum menemukan harapannya setelah melihat sebuah poster kursus berbahasa Jerman gratis. Saat mengikuti kursus tersebut, Hanum bertemu dengan Fatma (Raline Shah), seorang muslimah Turki yang berkerudung. Mereka pun akhirnya bersahabat. Fatma mengajak Hanum ke sekolah anaknya, Ayse (Geccha Tavvara). Di sana Hanum bertemu dengan Ayse. Ayse sempat bertanya kepada Fatma “Tante Hanum muslim ya? Tapi kok Tante Hanum tidak berkerudung seperti kita?” Menurut Saya pertanyaan seorang bocah seperti Ayse cukup menusuk apalagi untuk Hanum. Namun, Fatma dengan cerdasnya berkilah “Tante Hanum sakit kepala, jadi dia tidak berkerudung?” Lalu Hanum menjawab “Iya, tante sakit kepala”. Ayse pun berceloteh lagi “Kalau sakit kepala hilang, janjinya ya Tante Hanum pake kerudung?” Adegan ini sangat menarik bagi Saya. Secara tidak langsung, film ini memberikan pesan kepada penontonnya tentang urgensi berkerudung (hijab). Menurut Saya adegan ini tidak menggurui karena diucapkan secara spontan oleh bocah kecil. 

Sebenarnya, Ayse sering di-bully teman-temannya terutama Leon di sekolah. Kerudung adalah penyebab utamanya. Karena terlalu sering di-bully, Guru Ayse sempat membujuk Ayse untuk membuka kerudungnya. Namun, Ayse tetap tidak mau membuka kerudungnya.

Hanum, Fatma, dan Ayse makan di sebuah cafe. Ada kejadian menarik di sini. Hanum bercerita tentang masalahnya yang berat selama di Vienna. Ayse bercelutuk dengan polosnya. Menurut Saya, celutukan Ayse sederhana tapi maknanya sangat dalam.

“Hei masalah besar, aku punya Allah yang lebih besar” (Ayse)

Tatkala di cafe tersebut, Fatma bercerita tentang asal mula cappuccino. Ternyata Cappucino tersebut berasal dari negara Turki. Tak lama setelah menceritakan cappuccino, Hanum menguping di balik pintu tempat duduknya. Saat itu, dua pria bule berceloteh saat makan roti Croissant. Si bule bercerita kepada temannya bahwa roti Croissant bentuknya seperti bendera Turki. Berdasarkan sejarahnya, pasukan Eropa pernah mengalahkan pasukan Muslim Turki. Karena masyarakat Eropa masih dendam dengan masyarakat Turki, maka masyarakat Eropa membuat roti Croissant berbentuk bulan sabit untuk dimakan bukan untuk dihormati.

Hanum langsung naik pitam mendengar percakapan bule tersebut. Dia melarang Fatma dan Ayse memakan roti Croissant. Namun, Fatma malah memanggil pelayan untuk membayar kedua bule dan menulis sepucuk surat untuk kedua bule tersebut. Menariknya adalah di akhir tulisannya Fatma menulis sesuatu yang membuat Hanum terkesan.

“Saya agen muslim dan sebagai muslim ingin membawa kedamaian” (Fatma)

Melalui cerita Hanum, penonton diajak melihat keindahan benua Eropa. Hanum diajak Fatma dan Ayse ke situs dan sejarah Islam di Vienna. Sungai Danube merupakan objek pertama yang mereka kunjungi. Sungai tersebut sangat bersih dan asri. Di sudut sungai tersebut, Kita dapat melihat Bukit Kahlenberg. Bukit Kahlenberg merupakan tempat pasukan Turki yang dipimpin Kara Mustafa Pasha sehingga pasukan Turki terusir dari tentara Jerman dan Polandia. Ayse sangat senang di Bukit tersebut. Dia meminjam kamera Hanum untuk mengabadikan pemandangan indah di sana. Museum Wien Stadt merupakan objek berikutnya. Museum tersebut memiliki benda bersejarah negara Austria. Dalam museum tersebut, Fatma sempat menangis karena melihat foto Kara Mustafa Pasha yang masih memiliki hubungan darah dengannya. Kara Mustafa dianggap sebagai panglima perang yang menyerang Austria yang mengakibatkan kerugian dan kematian. Sebelum meninggalkan museum tersebut, Fatma sempat berkata kepada Hanum "ayo kita pergi, kita tinggalkan kara Mustafa di sini agar menyesali kesalahannya". Selain objek wisata di Vienna, Fatma juga mengajak Hanum mengunjungi rumahnya. Di rumah Fatma, Hanum bertemu dengan sahabat Fatma yaitu Latife (Dian Pelangi) dan Ezra (Hanum Salsabiela Rais). Hanum diajak untuk menjalankan misi agen muslim bersama Fatma, Latife, dan Ezra. Hanum diajak menjadi pengajar untuk anak-anak kecil yang muallaf. Fatma mengajak Hanum karena Hanum sangat fasih berbahasa Inggris.

Bukit Kahlenberg

Sungai Danube

Kara Mustafa Pasha

Pada adegan Rangga, penonton ditunjukkan tentang lika-liku kehidupan kampus dengan mahasiswa muslim minoritas. Rangga memiliki teman bernama Stefan (Nino Fernandez), seorang penganut atheis yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap Islam. Stefen sering bertanya kepada Rangga tentang Tuhan, sholat dan puasa. Stefen pernah bertanya kepada Rangga “kenapa sih Tuhan kamu suka menyiksa umatnya?”, “memang tujuan puasa itu apa?”, “bagaimana kalau ternyata Tuhan kamu tidak ada?” Semua pertanyaan Stefen tersebut dapat dijawab Rangga dengan baik. Rangga menjawab dengan menganalogikan premi asuransi. Setiap nasabah asuransi harus membayar kewajiban berupa premi asuransi setiap waktunya. Demikian juga, dengan seorang muslim harus membayar kewajibannya dengan tunduk kepada Allah (berupa puasa dan sholat).

Rangga juga mempunyai seorang teman muslim asal Pakistan yang bernama Khan (Alex Abbad). Bersama Khan, Rangga merasa tidak sendiri sebagai seorang Muslim. Khan pernah memberi bekal makanan yang halal kepada Rangga. Rangga sangat senang menerimanya. Namun, kehidupan kampus Rangga dan Khan sangat sulit. Kampus Rangga dan Khan tidak memiliki sebuah musholla yang layak. Mereka pun harus sholat di ruangan ibadah yang bercampur dengan agama lain (Konghucu, Buddha, Kristen). Khan bahkan ragu dengan sholatnya apakah diterima Allah atau tidak? Hal yang paling bergejolak pada Rangga dan Khan adalah saat akan mengikuti jadwal ujian yang bentrok dengan sholat Jumat. Tak terima dengan keputusan profesor yang membuat jadwal bentrok dengan sholat jumat, Rangga mengajak Khan menemui profesor tersebut. Sayangnya Khan berkata “Maaf kawan, untuk agama, saya tidak ada toleransi. Untuk masalah ini, kamu sendirian”. Rangga pun menemui Profesor yang mempromosikan beasiswanya. Rangga tidak berhasil mendapatkan dispensasi dari Profesor tersebut. Apalagi profesornya sempat bercelutuk untuk tidak meluluskannya terhadap mata kuliah tersebut. Rangga pun pasrah saat profesor berkata "Mr. Almahendra, saya pernah mendengar kalimat bismillahirrahmanirrahim yang artinya dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. So, what's the big deal?" Dengan berat hati, Rangga meninggalkan ruangan profesor. Hati Rangga masih bergejolak sampai ujian dilaksanakan. Khan memutuskan tidak mengikuti ujian dan langsung sholat jum’at ke Masjid. Awalnya Rangga juga memutuskan hal yang sama dengan Khan. Namun, setiba di masjid, Rangga kembali ke kampus dan mengikuti ujian.

Selain Stefen dan Khan, Rangga mempunyai seorang teman perempuan yang bernama Maarja (Marissa Nasution). Sebenarnya Maarja sangat tertarik dengan Rangga. Dia tidak memperdulikan bahwa Rangga sudah mempunyai istri. Namun, Maarja selalu menggoda Rangga.

Perpustakaan kampus Rangga

Saat di rumah, Hanum mempersiapkan makan malam untuk Rangga. Hanum membuat ikan asin. Karena bau ikan asin yang menyengat, tetangga rumah Hanum sampai menggedor pintu rumah Hanum. Hanum dilarang memasak makanan yang dapat mengganggu penciuman tetangga lain. Hanum kesal dengan tingkah laku tetangganya. Setelah adegan tersebut, Rangga pun datang. Rangga berusaha merayu Hanum yang sedang kesal dengan tetangganya. Saat makan, Hanum dan Rangga menceritakan kisahnya masing-masing. Hanum bercerita tentang kerudung yang dipakai Fatma dan Ayse. Rangga pun berkata “Tapi, kamu cantik loh pakai kerudung”. Pernyataan Rangga mengandung pesan dari film ini yaitu urgensi berkerudung. Sejujurnya, Saya iri dengan kemesraan Rangga dan Hanum di film ini. Rangga selalu sabar menghadapi Hanum. Sering pula mereka mengumbar kemesraan yang membuat penonton gigit jari. 

Saat di rumah, Hanum menunjukkan kelembutannya sebagai seorang muslim. Hanum membalas tetangga yang mengomeli makanan ikan asinnya dengan membuat mie goreng ikan asin. Mie goreng ikan asin tersebut sangat dinikmati oleh tetangganya. Sehingga, tetangganya ketagihan dan ingin dibuatkan ikan asin lagi oleh Hanum.

Mie goreng ikan asin

Suatu kali, Rangga harus menghadiri seminar yang diadakan di Paris. Hanum pun diajak Rangga ke Paris. Hanum sangat senang. Saat di Paris, Hanum bertemu dengan teman Fatma yang bernama Marion Latimer (Dewi Sandra). Marion adalah seorang muallaf yang merupakan ahli sejarah di Paris. Bersama Marion, Hanum diajak mengelilingi kota Paris. Hanum diajak ke Menara Eiffel yang merupan icon kota Paris. Marion juga mengajak Hanum ke Museum Louvre. Dalam Museum tersebut terdapat beragam foto dan lukisan diantaranya adalah lukisan Monalisa dan lukisan Bunda Maria berkerudung. Hal yang menarik pada lukisan Bunda Maria adalah terdapat kaligrafi yang dilihat bertuliskan La ilaha illallah. Objek yang dikunjungi Hanum dan Marion berikutnya adalah Monumen Arc de Triomphe. Monumen Arc de Triomphe memiliki patung Napolleon Bonaparte. 
Monumen Arc de Triomphe memiliki garis lurus imajiner (Axe Historique) yang tepat membelah kota Paris. Jika garis tersebut ditarik lurus sampai ke timur, maka garis tersebut tepat mengarah ke Ka’bah, Mekkah.

Menara Eiffel

Museum Louvre

Monumen Arc de Triomphe

Foto bunda Maria

Rangga adzan di Menara Eiffel

Usai acara seminar Rangga di Paris, Hanum berjalan-jalan dengan Rangga ke Menara Eiffel. Di atas Menara Eiffel, Rangga mengumandangkan adzan. Bergetar hati Saya saat Rangga mengumandangkan adzan. Usai jalan-jalan, Hanum pun pamit kepada Marion. Sebelum balik ke Austria, Marion menitip barang kepada Hanum. Barang tersebut merupakan titipan Fatma. 

Setiba di Vienna, Hanum mencari Fatma dan Ayse. Namun, Hanum tidak menemukan mereka. Hanum dan Rangga juga membuka titipan dari Marion. Mereka kaget dengan titipan Marion karena titipan tersebut merupakan obat kanker. Dalam titipan tersebut, Marion juga menyisipkan sebuah surat yang berisi bahwa obat tersebut untuk Ayse. Hanum pun kaget karena Ayse menderita kanker. Adegan ini sempat membuat mata Saya berkaca-kaca. Saya kasihan dengan Ayse yang masih kecil tapi mengidap kanker.

Akhir cerita dari film ini adalah saat Hanum dan Rangga berjalan-jalan di Vienna. Saat itu, Hanum dan Rangga berjumpa dengan Fatin. Mereka pun saling bertukar nomor handphone.


***

Berdasarkan alur cerita di atas banyak keunggulan dari film 99 cahaya di langit Eropa.

Film 99 cahaya di langit Eropa banyak memiliki edukasi kepada penonton tentang sejarah Islam di Austria dan Prancis. Film tersebut menunjukkan bahwa Eropa juga memiliki peradaban Islam yang kuat. Saya juga baru tahu bahwa Napolleon Bonaparte seorang Muslim. 

Film 99 cahaya di langit Eropa sangat unik karena menceritakan kehidupan warga muslim yang minoritas di Eropa. Saya sangat salut dengan masyarakat muslim yang masih istiqomah menjalankan kewajiban Allah. Banyak sekali godaan di Eropa untuk masyarakat muslim. Tidak hanya mencari makan yang halal, mencari tempat sholat yang layakpun sulit. Seingat Saya, belum ada film Indonesia yang menceritakan hal tersebut.

Film 99 cahaya di langit Eropa mencotohkan akhlak agen muslim yang sangat baik. Hal itu bisa dilihat dengan keramahan Fatma yang tidak marah kepada bule-bule yang menyindir roti croissant. Ayse yang sabar menghadapi ejekan teman sekolahnya. Hanum yang membalas perlakuan tetangganya dengan memberikan mie goreng ikan asin. Rangga yang sabar menghadapi semua pertanyaan Stefen.

Sinematografi dan setting film 99 cahaya di langit Eropa membuat Saya ingin ke Eropa. Harus diakui bahwa sinematografi dan setting film ini sangat bagus. Objek pada film ini sangat indah. Pengambilan gambar dan warnanya juga bagus. Film ini berhasil memanjakan mata Saya dan penonton lainnya tentang keindahan alam dan bangunan-bangunan di Eropa.

Pemain film 99 cahaya di langit Eropa sangat sesuai dengan karakternya masing-masing. Jika ditanya siapa pemain film terfavorit dalam film ini? Nino Fernandez dan Geccha Tavvara jawaban Saya. Saya menyukai karakter Stefen yang diperankan Nino. Nino berhasil membuat Saya kagum karena acting-nya mengkritisi Rangga. Saya sering ketawa melihat adegan Nino yang “kekeuh” mengemukakan pendapatnya. Padahal, pendapatnya tersebut salah. Sedangkan Gecca, sangat polos, lucu, dan menggemaskan. Saya juga suka dengan percakapan bahasa Jerman Gecca yang fasih di awal cerita. Bahkan, Saya sempat bergumam “itu anak Indonesia asli atau penduduk Indonesia yang sudah lama tinggal di Jerman?” Meskipun demikian, pemain lainnya juga bagus. Acha Septriasa yang berhasil menimbulkan chemistry dengan Rangga, Abimana Aryasatya yang sangat mencerminkan mahasiswa doktor sebenarnya (rajin belajar dan study oriented), Raline Shah yang membuat Saya pangling karena sangat cantik berkerudung dan sangat cerdas menceritakan sejarah peradaban Islam, Alex Abbad yang sangat taat menjalankan ibadah (padahal Alex sebelumnya sering memerankan peran antagonis), Marissa Nasution yang berhasil memperlihatkan kegenitannya terhadap Rangga, Dewi Sandra yang sangat pas untuk karakter muallaf, Dian Pelangi dan Hanum Salsabiela Rais yang berhasil menunjukan kebolehan acting pertamanya, bahkan Saya sempat bergumam “kenapa bukan Hanum Salsabiela Rais saja yang berperan sebagai Hanum pada film ini?” Sedangkan Fatin Shidqia Lubis tidak bisa Saya berikan penilaian karena adegannya sangat sedikit pada film ini.


Pemain film 99 Cahaya di Langit Eropa

Fashion para pemain film 99 cahaya di langit Eropa bagus. Tidak percuma ada designer terkenal seperti Dian Pelangi dalam film ini. Saya paling suka dengan coat para pemainnya. Kostum Fatin dalam film ini juga sangat bagus. Fatin sangat cantik memakai pakaian muslimah berwarna pink.

Soundtrack film 99 cahaya di langit Eropa juga bagus. Liriknya sangat dalam. Selain itu, suara fatin cocok menyanyikan Cahaya di Langit Itu. Seperti diketahui bahwa tidak semua jenis musik yang pas dinyanyikan oleh Fatin. Namun, lagu Cahaya di Langit Itu sangat pas dan cocok untuk Fatin.

Untuk memajukan industri film Indonesia agar bisa selevel dengan film Hollywood, Bollywood, dan Korea, ada beberapa hal yang menjanggal menurut Saya. Pertama, Saya sempat bingung dengan dialog yang menggunakan bahasa Indonesia. Padahal, Fatma dan Ayse orang Turki, Khan orang Pakistan, Stefen, Maarja, dan Marion juga bukan turunan Indonesia. Seharusnya bisa menggunakan bahasa asing dan menggunakan subtitle. Sehingga, film ini dapat go international. Namun, Saya menyadari bahwa penggunaan bahasa asing akan sulit bagi pemain film. Saya pun menerima keputusan pembuat film ini.

Kedua, Saya kurang setuju dengan film yang dibuat bersambung. Karena ending dari film belum mencapai klimaks. Film ini baru menampilkan prolog. Setelah Saya pikir, mungkin alasan pembuat film membuat ceritanya bersambung sebelum mencapai klimaks agar penonton penasaran dengan film 99 cahaya di langit Eropa part 2. Strategi marketing yang sangat tepat dari pembuat film ini. 

Ketiga, seringnya sponsor pada film ini. Banyak penonton yang tidak menyukai kemunculan sponsor dalam sebuah film. Namun, Saya mengerti dengan adanya kemunculan sponsor. Saya yakin banyak sponsor yang memberikan perjanjian dengan pembuat film. Sehingga, pembuat film mau tidak mau harus memunculkan sponsor dalam film. Meskipun terdapat banyak sponsor dalam adegan film ini, menurut Saya cara memasukkan sponsor dalam film ini lebih halus dan tidak dipaksakan seperti kebanyakan film-film Indonesia. Make up wardah yang ada pada meja Hanum sangat pas. Demikian juga dengan adegan pengambilan uang di ATM oleh Rangga. 

RATING

Berdasarkan sinopsis dan review yang Saya ceritakan di atas, film 99 cahaya di langit Eropa sangat menarik dan layak ditonton oleh khalayak umum. Tidak hanya muslim, tapi juga non muslim bisa menonton film ini. Film ini juga unik dan banyak memberikan kelebihan seperti yang Saya ungkapkan sebelumnya. Oleh karena itu, Saya memberikan rating 4 skala 5 untuk film ini. Selamat kepada tim 99 cahaya di langit Eropa yang telah berhasil membuat film ini dengan sangat apik. Good job!



SUMBER GAMBAR
https://www.facebook.com/99CahayaOfficial
https://twitter.com/Film99Cahaya