Thursday, November 07, 2013

Pendidikan vs Penghasilan

Thursday, November 07, 2013 Posted by rizka farizal 4 comments
Banyak orang yang beranggapan tittle diploma saja sudah cukup. Banyak kok perusahaan yang menawarkan gaji gede kepada lulusan diploma. Contohnya industri perminyakan, pertambangan, dan keuangan. Belum lagi beberapa perusahaan BUMN yang terletak di daerah, beberapa pejabat tingginya hanya lulus setara SMA. 

Di lain hal, seseorang yang ingin menjadi dokter musti berpendidikan tinggi. Seorang dokter harus menempuh kuliah minimal 4 tahun sarjana kedokteran ditambah pengalaman PTT selama 1 tahun ditambah 2-4 tahun kuliah spesialis baru menjadi seorang dokter spesialis. Ada selentingan kabar dari media ini bahwa gaji seorang fresh graduate dokter umum di puskesmas itu kurang dari 3 juta (*belum termasuk buka praktek pribadi di luar). Bukannya buka praktek itu harus menjadi dokter yang familiar dulu yah? Hmm, sungguh berat perjuangan menjadi seorang dokter. Sudahlah uang masuk kuliahnya yang mahal, lalu lulus kuliahnya dibayar sedikit.

Tidak jauh beda dengan seorang dokter, seorang yang ingin menjadi dosen di PTN ternama (contoh: ITB dan UI) harus menempuh pendidikan sampai jenjang S3. Minimal sudah terdaftar menjadi mahasiswa S3. Jika kuliah sarjana minimal 4 tahun ditambah kuliah master minimal 1.5 tahun dan kuliah dokter minimal 3 tahun, maka sungguh lama perjalanannya untuk menjadi seorang dosen. Menurut kabar dari media ini bahwa gaji seorang fresh graduate dosen CPNS golongan 3C itu juga kurang dari 3 juta (*belum termasuk tunjangan dari kampus dan honor projek dari luar). Kalau dosennya banyak projek sih enggak masalah tapi kalau enggak ada projek gaji segitu mah kurang.

Aku pernah satu kali bertemu dengan seorang yang sedang kuliah doktor di luar negeri. Saat itu, dia belum mempunyai pekerjaan tetap. Baru mengandalkan beasiswa dan beberapa projek dari kampusnya. Ketika aku bertanya “mbak kalau sudah lulus doktor mau jadi apa?”. Tebak jawaban dia apa? “Ibu Rumah Tangga”. Why? Sudah berpendidikan tinggi tapi ke depannya hanya mau jadi Ibu Rumah Tangga. Aku sangat speechless saat itu. Menurut dia “negara ini sangat rendah penghargaannya terhadap seorang doktor. Daripada dia bekerja menjadi PNS seperti L*P* dan nantinya hanya dibayar 2-3 jutaan lebih baik dia menjadi ibu rumah tangga. Pasti anaknya bangga baru lahir sudah bertemu dengan seorang doktor. Tidak perlu menunggu ke jenjang universitas karena di rumah sendiri sudah diajari seorang doktor.” Hmm, aku pikir benar juga kata mbak yang baru aku jumpai sekali itu. Negara ini sangat tidak menghargai seorang fresh graduate doktor. Tidak seperti dengan negara lain yang memfasiitasi seorang doktor. Mereka memberikan banyak riset dari negaranya sendiri terhadap fresh graduate doktor. 

Berbeda halnya dengan dokter dan doktor yang hanya digaji rendah. Negara ini justru memberikan fasilitas lebih kepada sopir busway, tukang parkir, dan buruh. Menurut berita yang beredar di media bahwa Pemda DKI akan memberikan gaji sopir busway hampir 7 juta, gaji tukang parkir hampir 4 juta, dan gaji buruh minimal 2.2 juta. Gaji yang sangat fantastis dibandingkan dengan seorang lulusan dokter dan doktor. Bahkan, anehnya yang melakukan demo kenaikan gaji itu adalah buruh, bukan dokter ataupun doktor. Persatuan buruh menginginkan gajinya di atas 3 juta. What??? Dan yang sangat membuat aku antipati adalah berita pengemis dan pengamen jalanan di Bandung yang meminta gajinya berkisar antara 4-10 juta. Para pengemis dan pengamen jalanan tidak mau dipekerjakan sebagai petugas kebersihan yang hanya dibayar 700 ribu. Speechless!!! Kalau mau digaji tinggi jangan jadi buruh, pengemis, dan pengamen dunk!

Melihat kondisi seperti itu, tidak salah banyak orang yang beranggapan “ngapain kuliah tinggi-tinggi, sudahlah capek, biaya mahal, dan gajinya juga belum tentu banyak?”. Banyak orang yang berpikiran bahwa pendidikan itu tidak penting. Banyak orang yang bilang bahwa pendidikan itu hanya jembatan untuk bekerja setelah lulus. Tidak masalah lulusan dari jurusan apa yang penting bekerja. 

Sejujurnya, aku sangat miris dengan pemikiran beberapa orang seperti itu. Menurutku pendidikan itu sangat penting. Negara ini tidak akan bisa maju tanpa ada ide jenius dari orang hebat. Alat komunikasi dan media social tidak akan terus berkembang tanpa inovasi dari orang yang smart. Alat transportasi tidak akan ada tanpa adanya penemuan hebat dari penemunya. 

Tidak ada maksud untuk mempromosikan seorang capres atau apapun. Aku sangat menyukai sosok Anies Baswedan. Menurutku ide dia tentang Indonesia Mengajar dan Indonesia Bersinar itu sangat luar biasa. Aku sangat setuju dengan program pendidikannya. Indonesia itu bisa maju jika masyarakatnya berpendidikan. Tossh Pak!

Apapun tanggapan orang tentang pendidikan yang tidak berbanding lurus dengan penghasilan itu tidak usah ditanggapi. Menurutku pendidikan dan menuntut ilmu itu adalah kewajiban. Menuntut ilmu tidak ada batasnya yaitu dari ayunan sampai liang lahat. Seperti dalam Al Qur’an “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Dan sebuah hadits yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu”.

So, janganlah berharap pendidikan itu hanya untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi. Karena orang yang berpendidikan itu akan tinggi derajatnya di akhirat. Mari meluruskan niat dan ikhlas untuk menuntut ilmu.

***

NB: Tulisan ini tidak ada maksud untuk merendahkan atau meninggikan orang lain. Tulisan ini hanya untuk introspeksi.
Reaksi:

4 comments:

  1. Sampai sekarang emang orang2 memandang miring sarjana yang gajinya kecil, tapi melirik orang kaya yang tidak sekolah tinggi. Sepertinya sudah biasa, hukum alam. Btw, rizka di bukittinggi dimana yah?

    ReplyDelete
  2. Uni @noviaerwida, aku bukittingginya di kotanya --> tangah jua uni

    ReplyDelete
  3. Assalamu'alaykum ^^...
    Naaah, daku sepakat terutama bagian terakhir, cin :-*
    "Menuntut Ilmu sudah pasti derajatnya diangkat *oleh Allah SWT* langsung...", gak perlu mikirin "nih ijazah mau dipake kerja-di sini, disitu, harus kerja ke company X, Y atau Z", kudu dibuang jauh-jauh 'mind-set' sprti itu. Kalau IlmuNya sudah kita serap, dunia menuju tangan kita, :-) di genggaman kita, bukan di hati, dear! :-*

    #Alhamdulillah kami sekeluarga membuktikannya, btw, cin... saya ibu RT, namun menurut sobat2 sy di JKT, 'gaji bu RT-ini, lebih tinggi dari pada manajer, dosen, dan dokter yg ada di tanah air... Namanya Rizkillah, yah Rizka, memang 'terserah kepadaNya' yg Maha Melimpahkan rezeki, <3. Nitip jempol dan salam ukhuwah buat mbak doktor ibu RT tersebut ;-)) barokalloh always! ^^

    ReplyDelete
  4. Wa'alaykumusalam
    Iya memang kadang-kadang ibu rumah tangga gajinya lebih banyak.
    Btw, aku baru pertama bertemu mbak doktor ibu RT itu. Enggak pernah ketemu lagi.
    Makasih yah mak udah berkunjung

    ReplyDelete