Sunday, November 10, 2013

Berkarakter Ganda

Sunday, November 10, 2013 Posted by rizka farizal 8 comments
Ceritanya dua minggu yang lalu, Aku ikutan tes psikologi kecil-kecilan yang diadakan temanku (a.k.a teteh Maryam). Hanya 5 atau 6 orang yang ikutan tes psikologi tersebut. Tes psikologi untuk mengukur DISC. Apakah karaktermu itu tergolong D, I, S, atau C. Eits, tunggu dulu sepertinya ada yang bingung dengan DISC. Baiklah daripada nanti roaming, lebih baik aku jelaskan sekilas tentang DISC terlebih dahulu.

Alat tes DISC adalah sebuah alat untuk memahami tipe perilaku dan gaya kepribadian, yang pertama kali dikembangkan oleh William Moulton Marston. Dalam penerapannya di dunia bisnis dan usaha, alat ini telah membuka wawasan dan pemikiran, baik secara profesional maupun secara personal. (sumber: http://tesdisconline.blogspot.com/) Dalam tes DISC tersebut membagi 4 tipe perilaku individu ketika berinteraksi dengan lingkungannya, yakni Dominance, Influence, Steadiness, dan Compliance.



Dan, setelah dilakukan perhitungan dan dianalisis hasil DISC aku adalah

Taddaaa

D dan S tinggi

Wow, secara karakter D dan S itu sangat bertolak belakang loh. Aku juga sempat nanya lagi ke teteh “mana yang lebih tinggi diantara D dan S?”. Si teteh sendiri menjawab keduanya sama nilainya. It means D dan S sama-sama tinggi. Bahkan, teteh dan suaminya yang menghitung nilai DISC itu juga bingung. Kok ada yah orang yang nilai D dan S sama? Padahal itu kan bertolak belakang. D yang biasanya tegas, to the point, tidak peduli, kompetitif. Sedangkan S yang biasanya ramah, senang membantu, tulus, santai. Tapi itu semua karakterku. 

Sebenarnya karakterku itu memang berubah-ubah. Kadang-kadang di suatu sisi aku bisa menjadi tegas, cuek, dan bersaing dengan kompetitif. Akan tetapi kadang-kadang aku juga bisa menjadi tidak tega, friendly, generous, dan tidak peduli dengan persaingan. Hidup itu kan seperti roller coaster. Selalu berubah-ubah. Bahkan, kata dosen aku itu sebenarnya manusia memiliki semua karakter DISC. Manusia bisa tegas di saat terjepit. Manusia bisa bahagia dengan hidupnya yang menyenangkan. Manusia bisa ramah dan peka dengan orang lain. Manusia juga bisa hidup dengan berpikir sistematis dan tidak ceroboh. Life is not stagnant.

By the way, aku telah beberapa mengikuti tes DISC atau semacamnya. Tapi hasilnya berubah-ubah. FYI, pertama kali tes DISC hasilnya adalah S dan C betis (beda tipis red). Tes kedua DISC hasilnya S tinggi, D nilai lumayan tinggi sedangkan I dan C nilainya rendah banget. Tes ketiga DISC yang hasilnya dua minggu lalu D dan S kedudukannya sama. Tes keempat DISC … (*MASIH MYSTERY). It’s means karakter orang itu selalu berubah-ubah dan bisa diubah. Kalau mau memperbaiki sifat yang tidak dominan, silakan introspeksi diri dan buatlah resolusi untuk merubah karakter yang tidak dominan tersebut. Insya Allah bisa berubah kok karakternya.

Pertanyaannya adalah “bagaimana cara manusia menghadapi keempat karakter DISC yang berbeda-beda ini?”

Berikut ini ada beberapa tips menghadapi karakter DISC:

D tinggi

Karakter D hanya ingin mendengar hasil dan poin-poin penting, tidak suka dengan orang yang berbicaranya bertele-tele, suka membicarakan tentang visi atau hal yang berbau “big picture”. Solusi ketika berbicara dengan orang yang berkarakter seperti ini adalah tatap matanya (awas jangan love at the first sight), jangan kelihatan takut, dan bersuara dengan keras dan berani.

I tinggi

Karakter I hanya ingin mendengar hal positif dan menyenangkan. Karakter I biasanya juga senang dipuji, tidak suka direndahkan, dan tidak suka ditanya secara detail. Solusi menghadapi karakter seperti ini adalah jangan menjaga jarak terlalu jauh, gunakan tatapan mata yang bersahabat, ajak bercanda, dan cara berbicara harus penuh antusias.

S tinggi

Karakter S ingin mendapatkan informasi yang banyak dan meyakinkan, single tasking, dan suka dengan topik keharmonisan. Solusi menghadapi karakter S adalah jangan berbicara cepat tapi berbicaralah dengan lemah lembut dan santai. 

C tinggi

Karakter C ingin konsisten dengan perkataan dan ingin mendapatkan informasi sedetail-detailnya. Karakter C tidak suka mendengarkan orang yang kurang persiapan. Solusi menghadapi karakter seperti ini adalah ketika berbicara jagalah jarak, fokuslah terhadap percakapan, dan jangan terlalu banyak menggunakan gerakan.

Pertanyaan terakhir nih. "Bagaimana menghadapi manusia yang berkarakter ganda?" Karakter seperti aku gitu loh.

Jawabannya adalah kombinasikan saja solusi dari keempat karakter di atas. Gampang kan? Hehe. 

Thursday, November 07, 2013

Pendidikan vs Penghasilan

Thursday, November 07, 2013 Posted by rizka farizal 4 comments
Banyak orang yang beranggapan tittle diploma saja sudah cukup. Banyak kok perusahaan yang menawarkan gaji gede kepada lulusan diploma. Contohnya industri perminyakan, pertambangan, dan keuangan. Belum lagi beberapa perusahaan BUMN yang terletak di daerah, beberapa pejabat tingginya hanya lulus setara SMA. 

Di lain hal, seseorang yang ingin menjadi dokter musti berpendidikan tinggi. Seorang dokter harus menempuh kuliah minimal 4 tahun sarjana kedokteran ditambah pengalaman PTT selama 1 tahun ditambah 2-4 tahun kuliah spesialis baru menjadi seorang dokter spesialis. Ada selentingan kabar dari media ini bahwa gaji seorang fresh graduate dokter umum di puskesmas itu kurang dari 3 juta (*belum termasuk buka praktek pribadi di luar). Bukannya buka praktek itu harus menjadi dokter yang familiar dulu yah? Hmm, sungguh berat perjuangan menjadi seorang dokter. Sudahlah uang masuk kuliahnya yang mahal, lalu lulus kuliahnya dibayar sedikit.

Tidak jauh beda dengan seorang dokter, seorang yang ingin menjadi dosen di PTN ternama (contoh: ITB dan UI) harus menempuh pendidikan sampai jenjang S3. Minimal sudah terdaftar menjadi mahasiswa S3. Jika kuliah sarjana minimal 4 tahun ditambah kuliah master minimal 1.5 tahun dan kuliah dokter minimal 3 tahun, maka sungguh lama perjalanannya untuk menjadi seorang dosen. Menurut kabar dari media ini bahwa gaji seorang fresh graduate dosen CPNS golongan 3C itu juga kurang dari 3 juta (*belum termasuk tunjangan dari kampus dan honor projek dari luar). Kalau dosennya banyak projek sih enggak masalah tapi kalau enggak ada projek gaji segitu mah kurang.

Aku pernah satu kali bertemu dengan seorang yang sedang kuliah doktor di luar negeri. Saat itu, dia belum mempunyai pekerjaan tetap. Baru mengandalkan beasiswa dan beberapa projek dari kampusnya. Ketika aku bertanya “mbak kalau sudah lulus doktor mau jadi apa?”. Tebak jawaban dia apa? “Ibu Rumah Tangga”. Why? Sudah berpendidikan tinggi tapi ke depannya hanya mau jadi Ibu Rumah Tangga. Aku sangat speechless saat itu. Menurut dia “negara ini sangat rendah penghargaannya terhadap seorang doktor. Daripada dia bekerja menjadi PNS seperti L*P* dan nantinya hanya dibayar 2-3 jutaan lebih baik dia menjadi ibu rumah tangga. Pasti anaknya bangga baru lahir sudah bertemu dengan seorang doktor. Tidak perlu menunggu ke jenjang universitas karena di rumah sendiri sudah diajari seorang doktor.” Hmm, aku pikir benar juga kata mbak yang baru aku jumpai sekali itu. Negara ini sangat tidak menghargai seorang fresh graduate doktor. Tidak seperti dengan negara lain yang memfasiitasi seorang doktor. Mereka memberikan banyak riset dari negaranya sendiri terhadap fresh graduate doktor. 

Berbeda halnya dengan dokter dan doktor yang hanya digaji rendah. Negara ini justru memberikan fasilitas lebih kepada sopir busway, tukang parkir, dan buruh. Menurut berita yang beredar di media bahwa Pemda DKI akan memberikan gaji sopir busway hampir 7 juta, gaji tukang parkir hampir 4 juta, dan gaji buruh minimal 2.2 juta. Gaji yang sangat fantastis dibandingkan dengan seorang lulusan dokter dan doktor. Bahkan, anehnya yang melakukan demo kenaikan gaji itu adalah buruh, bukan dokter ataupun doktor. Persatuan buruh menginginkan gajinya di atas 3 juta. What??? Dan yang sangat membuat aku antipati adalah berita pengemis dan pengamen jalanan di Bandung yang meminta gajinya berkisar antara 4-10 juta. Para pengemis dan pengamen jalanan tidak mau dipekerjakan sebagai petugas kebersihan yang hanya dibayar 700 ribu. Speechless!!! Kalau mau digaji tinggi jangan jadi buruh, pengemis, dan pengamen dunk!

Melihat kondisi seperti itu, tidak salah banyak orang yang beranggapan “ngapain kuliah tinggi-tinggi, sudahlah capek, biaya mahal, dan gajinya juga belum tentu banyak?”. Banyak orang yang berpikiran bahwa pendidikan itu tidak penting. Banyak orang yang bilang bahwa pendidikan itu hanya jembatan untuk bekerja setelah lulus. Tidak masalah lulusan dari jurusan apa yang penting bekerja. 

Sejujurnya, aku sangat miris dengan pemikiran beberapa orang seperti itu. Menurutku pendidikan itu sangat penting. Negara ini tidak akan bisa maju tanpa ada ide jenius dari orang hebat. Alat komunikasi dan media social tidak akan terus berkembang tanpa inovasi dari orang yang smart. Alat transportasi tidak akan ada tanpa adanya penemuan hebat dari penemunya. 

Tidak ada maksud untuk mempromosikan seorang capres atau apapun. Aku sangat menyukai sosok Anies Baswedan. Menurutku ide dia tentang Indonesia Mengajar dan Indonesia Bersinar itu sangat luar biasa. Aku sangat setuju dengan program pendidikannya. Indonesia itu bisa maju jika masyarakatnya berpendidikan. Tossh Pak!

Apapun tanggapan orang tentang pendidikan yang tidak berbanding lurus dengan penghasilan itu tidak usah ditanggapi. Menurutku pendidikan dan menuntut ilmu itu adalah kewajiban. Menuntut ilmu tidak ada batasnya yaitu dari ayunan sampai liang lahat. Seperti dalam Al Qur’an “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Dan sebuah hadits yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu”.

So, janganlah berharap pendidikan itu hanya untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi. Karena orang yang berpendidikan itu akan tinggi derajatnya di akhirat. Mari meluruskan niat dan ikhlas untuk menuntut ilmu.

***

NB: Tulisan ini tidak ada maksud untuk merendahkan atau meninggikan orang lain. Tulisan ini hanya untuk introspeksi.

Kenapa disebut "BANCI"?

Thursday, November 07, 2013 Posted by rizka farizal 2 comments
Bingung deh dengan kamus bahasa gaul jaman sekarang. Banyak istilah yang menurut aku sudah mengalami pergeseran makna. Istilah yang dulunya hanya bahasa pameo tapi di jaman sekarang istilah itu menjadi kebanggaan. Contohnya saja istilah BANCI. Setau aku makna banci itu adalah seorang pria yang berperilaku seperti seorang wanita, baik dalam berpakaian, perilaku, berbicara, berjalan, berdandan, maupun sifat-sifat feminin lainnya. Padahal banci yang karena sengaja meniru-niru seorang wanita (bukan banci alami sejak lahir) itu merupakan perbuatan tercela, tergolong dosa besar, dan dilarang oleh Allah. Bahkan, ada hadits juga yang mengatakan bahwa "Rasulullah SAW melaknat para pria yang menyerupai wanita, dan para wanita yang menyerupai pria".

Akan tetapi makna BANCI itu sekarang sudah mengalami pergeseran makna menjadi suka, senang, crazy, interest, dan semua yang mengandung makna menyenangkan lainnya. Entah karena pengen menyebut antonim dari benci itu tinggal diganti banci, enggak tau jugalah. 

Ada seseorang yang suka difoto disebut banci foto, ada seseorang yang suka kontes disebut banci kontes, ada seseorang yang suka dandan disebut banci dandan, ada orang yang suka ke salon disebut banci salon, ada seseorang yang suka traveling disebut banci traveling, ada seseorang yang suka tampil di acara-acara disebut banci tampil, dan lainnya. WHY IS CALLED “BANCI”? Apakah tidak ada istilah lain yang lebih okeh? 

Konon katanya istilah banci yang bermakna menyukai itu memang sering dilakukan banci. Misalnya banci foto dan banci dandan. Para banci memang suka narsis dengan memotret diri sendiri. Mereka juga sering berdandan dan bermake-up ria. Tapi kenapa juga kita harus berkiblat kepada banci? Enggak ada tokoh panutan lagi yah sampe banci dijadikan kiblat? Bye the way anyway, tetep aku masih geuleuh dengan istilah BANCI.