Friday, September 13, 2013

Emansipasi dan Kesetaraan Gender itu Berbeda

Friday, September 13, 2013 Posted by rizka farizal 1 comment
Ilustrasi Kesetaraan Gender (depkeu, 2012)

Perempuan berasal dari kata dasar empu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) empu artinya gelar kehormatan yg berarti "tuan" dan orang yg sangat ahli. Sedangkan menurut istilah perempuan adalah seseorang yang dihormati dan bersifat mengasihi. Pada hakikatnya, perempuan yang telah menjadi istri itu tugas utamanya adalah berbakti kepada suami, mengurus rumah tangga, menjadi guru bagi anak-anaknya supaya anaknya menjadi anak yang berbakti dan berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa. Sehingga, sering kita dengar istilah “dibalik lelaki hebat ada perempuan yang hebat pula”.

Sekarang peran perempuan tidak hanya mengurus rumah tangga. Perempuan dapat menempuh pendidikan yang lebih tinggi dan bekerja di luar rumah dengan syarat tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah "emansipasi". Emansipasi adalah pandangan orang tentang persamaan hak diantara laki-laki dan perempuan. Pernyataan inilah yang kemudian menjadi dasar terbentuknya istilah "Kesetaraan Gender".

Gender berasal dari bahasa Latin, yaitu "genus", berarti tipe atau jenis. Menurut istilah Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dengan seks. Gender ditentukan oleh sosial budaya setempat dan psikologis, sedangkan seks diartikan sebagai jenis kelamin dan hal yang berhubungan dengan alat kelamin. 

Di Indonesia, perjuangan emansipasi dirintis oleh R.A Kartini, Dewi Sartika, dan Rohana Kudus. Mereka mendirikan sekolah bagi kaum perempuan. Mereka tidak hanya mengajarkan budi pekerti, sastra, dan politik tapi mereka juga mengajarkan keterampilan seperti menjahit, merenda, memasak, dan menyulam. Karena jasanya itulah mereka menjadi pahlawan Nasional. Bahkan, R.A Kartini disebut sebagai simbol emansipasi wanita Indonesia dan tanggal kelahirannya ditetapkan pemerintah sebagai hari besar nasional yaitu hari Kartini. Walaupun banyak pihak yang tidak menyetujui hari Kartini sebagai hari besar dengan alasan politik etis, namun nama R.A Kartini masih harum di nusantara sampai sekarang ini.

Perempuan Indonesia semakin eksis di berbagai bidang, baik itu pendidikan, kesehatan, politik, ekonomi, militer, teknik, dan bidang lainnya. Bahkan, dalam politik adanya persyaratan yaitu sebuah partai politik harus memenuhi kuota perempuan sebanyak 30%. Banyak tokoh perempuan Indonesia yang berprestasi bahkan menjadi pemimpin di berbagai bidang. Contohnya Megawati Soekarno Putri pernah menjadi Presiden R.I, Sri Mulyani pernah menjadi Menteri Keuangan R.I dan sekarang menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia, Karen Agustiawan sebagai Direktur Utama Pertamina, Ratu Atut Chosiyah sebagai Gubernur Banten, Agnes Monica sebagai seorang artis yang dinobatkan menjadi tiga besar perempuan paling berpengaruh di Indonesia, dan tokoh perempuan lainnya. Namun, diantara tokoh perempuan yang penulis sebutkan tadi, penulis mengagumi sosok Ibu Karen Agustiawan. Alasannya, selain beliau bekerja di bidang energi dan sumber daya alam khususnya perminyakan yang sama dengan bidang akademik penulis. Ibu Karen juga sukses di lingkungan keluarganya. Ibu Karen yang merupakan istri dari seorang profesor berhasil mendidik anak-anaknya sampai ke jenjang magister. Beliau juga selalu menjalin komunikasi dengan suami dan anak-anaknya.

Dibalik banyaknya kesuksesan perempuan Indonesia, masih ditemui kasus kekerasan dan pelecahan pada perempuan misalnya kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi perempuan, dan prostitusi. Melihat kondisi tersebut, anggota DPR RI sedang merumuskan RUU Kesetaraan Gender. Tujuan RUU Kesetaraan Gender itu adalah untuk mengakomodasi hak dan kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan sehingga dapat berpartisipasi dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun, RUU Kesetaraan Gender itu menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat. Pihak yang kontra terhadap pengesahan RUU Kesetaraan Gender berasal dari kalangan ilmuwan Islam. Mereka berpendapat bahwa ayat-ayat Al-Quran dan Hadits memandang suami dalam ikatan perkawinan adalah sebagai pemimpin keluarga, sekarang digugat dan dipaksa untuk berubah, mengikuti konsep keluarga dalam “tradisi Barat modern” yang meletakkan suami dan istri dalam posisi setara dalam segala hal. (kompas, 2013).

Sebenarnya, penulis bukan seutuhnya memihak pada pihak kontra. Karena penulis mendukung RUU Kesetaraan Gender tersebut yang tujuannya untuk menghilangkan kasus kekerasan dan pelecahan pada perempuan. Namun, penulis mengamati bahwa makna kesetaraan gender ini perlu diluruskan kembali. Mungkin RUU Kesetaraan Gender tersebut dapat diganti namanya dengan RUU Emansipasi atau RUU Perlindungan Perempuan. Perempuan dan laki-laki itu tidak akan bisa setara. Mereka memiliki posisi dan perannya masing-masing. Makna emansipasi sebenarnya bukanlah persamaan hak dengan kaum laki-laki melainkan perjuangan kaum perempuan demi memperoleh hak memilih, mendapatkan keadilan, dan menentukan nasib sendiri. 

Menurut penulis, banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya kesetaraan gender. Dampak tersebut perlu diminimalisir supaya tidak merugikan perempuan. Adapun contoh dampak negatif yang sering dijumpai penulis adalah pada kasus berikut:
  1. Kesetaraan dalam memperoleh pendidikan dan kesempatan kerja tidak semuanya adil bagi perempuan. Kasus ini dapat dijumpai pada perempuan di beberapa fakultas teknik, militer, dan kepolisian. Seperti kita ketahui, perempuan di sana hanya bagian minoritas. Tapi mereka juga menjalankan kegiatan yang setara dengan laki-laki. Mereka juga dituntut memiliki kekuatan fisik seperti kuatnya laki-laki. Contohnya: push up menggunakan carrier, lari pagi 10 keliling lapangan sepak bola, menelusuri hutan belantara tanpa membawa peralatan pribadi yang cukup, dan sebagainya. Apakah itu juga harus disetarakan?
  2. Banyaknya perempuan yang menunda pernikahan dengan alasan mengejar pendidikan setinggi-tingginya dan mencapai karir yang sukses. Seperti kita ketahui, perempuan yang hamil usia di atas 30 tahun sangat beresiko bagi kesehatan perempuan itu sendiri. Apabila perempuan menunda pernikahan sampai umur di atas 30 tahun berarti kehamilannya itu sangatlah beresiko.
  3. Lahirnya golongan “suami-suami takut istri”. Sudah banyak kita jumpai golongan seperti ini bahkan sebuah stasiun televisi pernah membuat sinetron komedi yang berjudul suami-suami takut istri. Banyak faktor yang membuat suami takut terhadap istri diantaranya pola hubungan antara suami dan istri tidak seimbang yang biasanya karena faktor sosial seperti pendidikan istri jauh lebih tinggi daripada suami, penghasilan istri jauh lebih banyak daripada suami, kepopuleran istri yang lebih terkenal daripada suami. Sikap istri yang merasa lebih dibandingkan suami tersebut menyebabkan istri merasa lebih berkuasa. Selain pola hubungan suami dan istri yang tidak seimbang, faktor lainnya juga dapat terjadi karena adanya pergeseran nilai. Dahulu tugas suami mencari nafkah dan tugas istri hanya mengurus rumah tangga. Akan tetapi, sekarang istri berhak untuk mencari nafkah dan bekerja di luar rumah. Apabila karir istri lebih sukses daripada suami, mungkin bisa menyebabkan suami merasa rendah diri. 

Ilustrasi Suami-suami Takut Istri (anneahira, 2013)

Penulis ingin meluruskan bahwa emansipasi adalah perjuangan untuk memperoleh keadilan bukan untuk menuntut kesetaraan gender. Karena Tuhan menciptakan kodrat perempuan dan laki-laki itu berbeda. Perbedaan itu indah. Karena perbedaan diantara perempuan dan laki-laki itu akan saling melengkapi kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hindarilah sesuatu hal yang bisa merugikan diri perempuan itu sendiri.

Referensi:
Reaksi:

1 comment: