Sunday, August 18, 2013

Kisah Cinta Dalam Diamnya Ali & Fatimah

Sunday, August 18, 2013 Posted by rizka farizal , No comments
Suatu malam menjelang tidur, aku mengecek timeline twitter. Saat itu ada temanku yang berkicau.

L: Ali dan Fatimah. Kisah cinta dalam diam dan doa :D

Hmm, menarik banget yah sepertinya kisah Ali dan Fatimah. Tidak hanya aku yang tertarik bahkan temanku berinisial “N” yang non-muslim pun menarik. Dia bahkan KEPO dan membalas twitnya temanku yang berinisial “L”.

N: film L? Novel? Sepertinya seru romansanya
L: hehe itu kisah nyata dari putri Nabi Muhammad. Kisahnya terkenal kak. Seruu, terharuu~

Akupun KEPO dan mencari asal akun yang menceritakan Kisah Ali dan Fatimah tersebut. Ternyata, kisahnya benar-benar tertarik. Berikut Kisah Ali dan Fatimah yang ditwit oleh pemilik akun @Sahabat_Rasul tersebut:

Cinta sahabat Ali dan Fatimah memang luar biasa indah, cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun ekspresi. Hingga konon karena saking teramat rahasianya setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya. Dan akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Disinilah bunga-bunga cinta mulai merekah.

Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Ummar melamar Fatimah. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Apalagi yang menjadi "saingannya" adalah 2 orang sahabat terbaik Nabi.

Pada saat kaum muslimin hijrah ke Madinah, Fatimah dan kakaknya Ummu Kulsum tetap tinggal di Makkah sampai Nabi mengutus orang untuk menjemputnya. Setelah Rasulullah SAW menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar para sahabat berusaha meminang Fatimah. Abu Bakar dan Umar maju lebih dahulu untuk meminang tapi Nabi menolak dengan lemah lembut.

Lalu Ali bin Abi Thalib datang kepada Rasulullah untuk melamar, lalu ketika Nabi bertanya, “Apakah engkau mempunyai sesuatu ? ”, Tidak ada ya Rasulullah,” jawabnya.
“Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu,” Tanya Rasullah SAW lagi.
“Masih ada padaku wahai Rasulullah,” jawab Ali.
“Berikan itu kepadanya (Fatimah) sebagai mahar,” kata beliau.

Ali bergegas pulang dan membawa baju besinya, Nabi menyuruh menjualnya dan baju besi itu dijual kepada Utsman bin Affan seharga 470 dirham. Kemudian diberikan kepada Rasulullah dan diserahkan kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin. Dan di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya. Kaum muslim merasa gembira atas perkawinan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib.

Setelah setahun menikah lalu dikaruniai anak bernama..... Al - Hasan dan saat Hasan genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke 4 H.

Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah,
Fatimah berkata kepada Ali: Wahai suamiku, aku telah halal bagimu, aku sangat bersyukur pada Allah karena ayahku memilihkan suami yg tampan, sholeh, cerdas & baik sepertimu
Ali: “Aku pun begitu wahai Fatimahku sayang, aku sangat bersyukur kepada Allah akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dgn ikatan suci pernikahanku dgnmu.”
Fatimah: (berkata dg lembut) “Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? Karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tanggakita” ucap Fatimah.
Ali: “Tentu saja istriku, silahkan, aku akan mendengarkanmu…”.
Fatimah: “Wahai Ali suamiku, maafkan aku, tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda dan aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku adalah istrimu, kau adalah imamku maka aku pun ikhlas melayanimu, mendampingimu, mematuhimu dan menaatimu, marilah kita berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhoi Allah” ...

Sungguh bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi bahtera kehidupan bersama. Suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus dari hati perempuan sholehah. Tapi Ali juga terkejut dan agak sedih ketika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa agak sedih karena sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah. Ali kagum pada Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul & mau menjadi istri Ali dg ikhlas. Namun Ali memang sungguh pemuda yang sangat baik hati, ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami Fatimah, tapi karena rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada Fatimah, hati Ali pun merasa agak bersalah jika hati Fatimah. Karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang Fatimah sedang merasakannya.

Ali bingung ingin berkata apa, perasaan di dalam hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah dengan Fatimah dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya. Tapi disisi lain Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka.

Ali pun terdiam sejenak,

Fatimah pun lalu berkata, “Wahai Ali suamiku sayang, Astagfirullah maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu, demi Allah aku hanya ingin jujur padamu, saat ini kaulah pemilik cintaku, raja yang menguasai hatiku.”
Ali masih saja terdiam, bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah yang cantik itu.

Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, “Wahai suamiku Ali, tak usah lah kau pikirkan kata-kataku itu, marilah kita berdua nikmati malam indah kita ini. Ayolah sayang, aku menantimu Ali”.
Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fatimah
Tiba-tiba Ali pun berkata, Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh aku tak ingin org yg kucintai tersakiti, aku merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta padaku.

Fatimah pun tersenyum mendengar kata-kata Ali, Ali diam sesaat sambil merenung, tak terasa mata Ali pun mulai keluar air mata, lalu dengan sangat tulus Ali berkata lagi, “Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikit pun dari dirimu, kau masih suci. Aku rela menceraikanmu malam ini agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu, aku akan ikhlas lagi pula pemuda itu juga mencintaimu. Jadi aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Aku tak ingin cintaku padamu hnya bertepuk sbelah tangan sungguh aku sangat mencintaimu, demi Allah aku tak ingin kau terluka… Menikahlah dengannya, aku rela”.

Fatimah juga meneteskan airmata sambil tersenyum menatap Ali, Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya, ketika itu juga Fatimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, “Tapi Fatimah, sebelum aku menceraikanmu,..... bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu?, aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu.

Airmata Fatimah mengalir semakin deras, Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu,“Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah”. Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya. Setelah emosinya bisa terkontrol, Fatimah pun berkata kepada Ali. “Wahai Ali, Awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu. Sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu.Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah wahai Ali ???”

Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya. ”Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda tapi kau malah bilang sangat mencintaiku,dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku,apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah? Sudahlah tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”

Fatimah pun kembali memeluk Ali dengan erat, tapi kali ini dengan dekapan yang mesra. Lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja, “Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya, tapi aku terlalu takut. aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini. Aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila ku bertemu dengannya. Tapi tahukah engkau wahai sayangku, pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yg baru dinikahinya.

Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali, ”Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku, aku sedang memeluk mesra pemuda itu, tapi kok dia diam saja ya, padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya, aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar, ia juga sangat mencintaiku…”

Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu…???”
Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku”. Alipun terdiam, bisu ,hening sejenak penuh haru, atas ucapan istrinya barusan.:)

Sumber: @Sahabat_Rasul

Menarik bukan ceritanya?
Sejujurnya, sifat Fatimah itu sebelas dua belas denganku. Dari SMP sampai kuliah, aku memang selalu diam kalau ditanya temanku persoalan cinta. “Ka, kamu pernah suka sama seseorang gak? Ka, tipe cowo yang kamu suka itu gimana? Sapa cowo yang pernah kamu suka itu?” Setiap kali teman-temanku bertanya hal tersebut, aku selalu diam. Bagaimanapun temanku memaksa agar aku menjawabnya tidak pernah aku ungkapkan. Aku memang tidak pernah percaya kepada seseorang kalau masalah percintaan. Aku malu kalau hal tersebut tersebar ke orang lain apalagi sampai di telinga kecenganku. Mihihi. Sampai-sampai ada temanku yang bilang “Ka, kamu masih normalkan?” Ya masihlah.

Sebenarnya semua kecenganku dari jaman SMP itu sudah punya pasangan masing-masing. Tapi ketika aku pertama kali mengetahuinya reaksiku biasa saja. Tidak ada satupun air mata menetes dari mataku. Akupun juga masih berteman seperti biasa dan tidak ada rasa canggungpun. So, kalo ada yang bilang sifat seseorang yang biasa memendam cinta itu buruk dan bisa mengakibatkan depresi… ANDA SALAH BESAR.

Aku senang ternyata putri Rasulullah SAW yang bernama Fatimah saja memendam rasa suka kepada Ali. Tidak ada yang tau bahkan setanpun juga tidak tau.
Menurutku cinta manusia kepada lawan jenis itu tidak abadi. Cinta abadi itu adalah cinta seorang hamba manusia kepada Sang Pencipta Allah SWT. Allah yang membolak-balikan hati manusia. Mungkin suatu saat kita suka kepada seseorang beberapa saat kemudian Allah menjadikan kita benci kepada orang tersebut. Saya termasuk orang yang setuju dengan prinsip “Menikahlah kamu dengan seseorang karena cinta kepada Allah. Apabila kita menikah hanya karena cinta kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kebahagian kepada kedua pasangan yang menikah tersebut”
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment