Thursday, June 27, 2013

Mud Volcanoes in Kradenan

Thursday, June 27, 2013 Posted by rizka farizal No comments
"Tulisan ini merupakan bagian dari tesis saya. Semoga hasil penelitian dari tesis saya cepat selesai dan saya bisa menyambung tulisan ini lagi. Do'akan saya agar selesai dalam waktu dua bulan ini. Aamiin"

Diapir adalah intrusi massa relatif mobile yang terasa menganggu ke lapisan yang sudah ada sebelumnya disebabkan oleh daya apung dan tekanan diferensial. Massa mobile baik lumpur / shale atau garam. Diapir berkaitan dengan penciptaan overpressure di strata yang mendalam. Dalam arti yang lebih luas ada banyak cara untuk menciptakan tekanan bawah permukaan anomali. Yaitu: non-ekuilibrium pemadatan, kompresi tektonik, tekanan aquathermal, transformasi smectite ke illite, dan generasi hidrokarbon. 

Diapirs umumnya mengintrusi vertikal ke atas sepanjang fracture atau zona struktur lemah melalui batuan di atasnya lebih padat karena kepadatan kontras antara kurang padat, massa batuan yang lebih rendah dan atasnya batuan padat. Kepadatan kontras bermanifestasi sebagai kekuatan daya apung. Proses ini dikenal sebagai diapirism.

Ketika diapir di permukaan, menjadi mud volcanoes. Istilah "mud vulcanoes" umumnya diterapkan pada letusan lebih atau kurang kekerasan atau ekstrusi permukaan lumpur berair atau tanah liat yang hampir selalu disertai dengan gas metana, dan yang biasanya cenderung untuk membangun sebuah lumpur padat atau lapisan tanah liat di sekitar lubang nya yang mungkin memiliki bentuk kerucut atau gunung berapi-seperti (Hedberg, 1974). Sumber dari gunung lumpur umumnya dapat ditelusuri ke lapisan bawah permukaan substansial atau diapir yang sangat plastik, dan mungkin undercompacted, lumpur atau shale. Gunung lumpur juga sering berkaitan dengan garis fracture, faulting, atau folding tajam. Tampaknya ada yang dekat antar-hubungan antara undercompacted (overpressured) lumpur atau badan shale, mud atau shale diapirs, mud lumps, dan mud volcanoes, dan semua derajat gradasi dari satu ke yang lain.

Dalam hal ini, ketika diapirs memiliki sifat yang agak intrusif, sedangkan mud volcanoes dicirikan oleh sifat ekstrusif. Selain itu, mud diapirism digambarkan sebagai proses yang lambat dari gerakan batuan plastik sementara mud volcanoes adalah sebuah peristiwa sesaat. Fault terkait dengan proses shale diapirism yang sangat mempengaruhi terjadinya mud volcanoes (Giovanni, 2003). Produk ekstrusi adalah clay muds, salty water dan gas (terutama metana). Mud didorong ke atas oleh gaya apung yang timbul dari kontras densitas bulk antara massa berlumpur lebih tertekan dan overburden kepadatan yang lebih besar.

Pengungkapan sumber mud volcanic melalui faulting atau system crack progradation ke permukaan menyebabkan pembukaan sistem tertutup. Hasil ini dalam tahap diferensiasi, migrasi cepat volume besar materi dari sumber dan yang meletus di permukaan. Sejumlah besar air lolos dapat membentuk kekurangan material pada kedalaman dan menyebabkan pembentukan runtuhnya kaldera di sekitar gunung berapi lumpur. Proses ini menyelesaikan fase erupsi dengan saluran penyegelan oleh dehidrasi dan erupsi material. 

Bledug Kuwu adalah sebuah fenomena gunung api lumpur (mud volcanoes) seperti halnya yang terjadi di Porong, Sidoarjo, tetapi sudah terjadi jauh sebelum jaman Kerajaan Mataram Kuno (732M – 928M). Terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Purwodadi, Propinsi Jawa Tengah. Obyek yang menarik dari Bledug ini adalah letupan-letupan lumpur yang mengandung garam dan berlangsung secara hampir kontinyu pada daerah dengan diameter ± 650 meter. Secara etimologi, nama Bledug Kuwu berasal dari Bahasa Jawa (karena memang adanya di tengah Jawa sih… , yaitu ‘bledug‘ yang berarti ‘ledakan / meledak‘ dan ‘kuwu‘ yang diserap dari kata ’kuwur‘ yang berarti ‘lari / kabur / berhamburan‘. Mungkin kalau adanya di Jawa Barat namanya akan menjadi ‘Mèlèdug Lumpat’, atau menjadi ‘Explode Run’ jika terdapat di Greenwich. Secara geologis, mereka berada di daerah perbatasan antara Serayu Utara dan Kendeng Depresi.

Secara geologi, fenomena yang terjadi di daerah Kuwu disebut sebagai Mud Volcanoes atau gunung api lumpur. Setiap ekstrusi tersebut dibarengi dengan keluarnya gas dan air (kadang-kadang juga minyak) secara kuat, bahkan dengan suara ledakan. Seringkali gas yang dikeluarkan terbakar sehingga menyerupai gunung api. Sifat gunung api lumpur ini sangat tergantung kepada iklim dan juga jumlah lempung yang dikeluarkan. 

Terjadinya mud volcanoes biasanya berasosiasi dengan suatu keadaan geologi yang lapisan sedimennya belum tekompaksikan, mempunyai tekanan tinggi dan mengakibatkan timbulnya diapir dari serpih ataupun penusukan oleh serpih. Gejala tersebut juga sering berasosiasi dengan daerah yang disebut ‘over pressured area‘, yaitu daerah tekanan tinggi yang tekanan serpihnya lebih besar daripada tekanan hidrostatik, dengan demikian dapat menimbulkan kesulitan pemboran.

Referensi: 
Satyana., 2008, Mud Diapirs and Mud Volcanoes in Depressions of Java to Madura: Origins, Natures, and Implications to Petroleum System, IPA08-G-139

Field Trip = Geowisata + Geokuliner + Geofotomodel + C

Thursday, June 27, 2013 Posted by rizka farizal No comments
Sekitar akhir mei sampai awal juni lalu, aku bersama teman S2 TG melaksanakan kegiatan field trip. Awalnya rada males juga karena aku telah pernah melakukannya sewaktu S1 dulu ditambah lagi biaya field tripnya yg muahalll. Eh tapi pas kegiatan berlangsung lumayan menyenangkan karena field trip kali ini rumusnya adalah

Field Trip = Geowisata + Geokuliner + Geofotomodel + C

C= konstanta (hehehe)

Konstanta di sini maksudnya geoproblem gituh . huhuhu

Anyway, knapa disebut Geowisata? Karena kami keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berikut ini beberapa “itinerary” kami: 

Hari 1: perjalanan menuju Karangsambung, Kebumen

Hari 2: hiking sekitar Karangsambung (Puncaknya ke Wagir Sambeng)

Hari 3: “traveling” Karangsambung-Jogja-Wonosari-Solo. Malemnya hang out sekitaran Solo dengan arah yg gak tau tujuan

Hari 4: “traveling” Solo-Sangiran-Ngawi-Blora-Cepu. Malemnya hang out sekitaran Cepu makan soto lamongan dan nyari minimarket jalan kaki muter2 gang sekitar hotel

Hari 5: “traveling” sekitaran wonocolo dan balik lagi ke Karangsambung dan sempat juga ada kejadian bisnya rusak

Hari 6 – hari terakhir: sekitaran Karangsambung kebut bikin laporan

Aku suka “traveling” walaupun banyak di bis dan pa**at tepos tapi aku jadi tau gimana bentuk daerah sekitaran Jawa. Aku juga melewati Pondok Pesantren Gontrol yang dulunya hanya dengar saja. Aku juga tau kota Solo yang ternyata struktur perkotaanya bagus. Hmm, mungkin Jokowi effect lah yah.

Geokuliner

Karena sewaktu “traveling” hari 3-5 makan-makan sepuasnya di resto yang lumayan membuatku bisa menyipi makanan khas Jawa yg sebelumnya gak aku ketahui.

Trus kenapa ada geofotomodel?

Yah, belom lengkaplah rasanya “traveling” kalo bukan foto fiti. Meskipun aku rada malu juga klo lagi motret atw foto gituh diliatin dosen-dosen.

Hmm, selama field trip kemaren ada positif dan negatif. Positifnya kami bisa lebih dekat antar mahasiswanya karena sebelumnya kami tidak pernah sekelas bareng semuanya. Kalo negatifnya, I and my only girl best friend (Gestin) rada gak srek gituh selama di sana krn sering “dilupain”. Hmm, tapi yasudahlah yah. Oh iya, ada satu lagi negatifnya dari field trip ini yaitu nilaiku gak berubah dari nilai S1. Padahal merasa laporannya lebih bagus dibanding laporan S1 dulu. Huhuhu

Anyway, at least dg field trip ini ada juga pengalaman yg berkesan selama perkuliahan S2 ini. 
@ Wager Sambeng

@Wonocolo

@Museum Sangiran

See you later my friend in field trip. Hopefully, we can go together again