Friday, March 29, 2013

Bali Trip & Galungan

Friday, March 29, 2013 Posted by rizka farizal No comments
Bali… Oh Bali

Akhirnya aku menginjakan kaki juga di Pulau ini. Pulau Dewata seperti emas di Indonesia, alam yang indah, budaya yang masih kental, dan dikunjungi ribuan bule setiap harinya. Boleh dibilang, Indonesia itu bisa terkenal di luar negri karena Bali. Amazing!!!

Aku ke sana dari tanggal 25 – 28 Maret 2013 bersama temanku Astrid. Sebenarnya kami sudah lama merencanakan trip ini. Since, November 2012, we have done: buying a ticket, booking hotel, taking a car, buying some discount’s voucher. So, kami tidak terlalu terkuras budget-nya karena sudah dicicil sebelumnya.

Trip tersebut kami lakukan di saat weekdays karena saat weekdays harga tiket murah dan tidak turisnya tidak serame di saat weekend. Karena kuliah aku tinggal sedikit, jadi aku hanya bolos 1 hari saja sementara Astrid dia cuti selama 1 minggu.

Seminggu sebelumnya aku baru tau ada acara saat kami di Bali. Apa yang terjadi di tanggal tersebut? Tanggal 27 Maret – 6 April itu adalah Hari Raya Galungan di Bali. Semua kantor dan sekolah diliburkan di Bali. Kemudian mulai tanggal 29 Maret 2013 itu juga ada long weekend di Indonesia karena adanya perayaan Hari Paskah. Oh no! Pasti rame banget Bali tanggal tersebut. Yups, puncak ramenya adalah hari terakhir kami di Bali yaitu tanggal 28 Maret 2013. Macet super duper parah cuyy. Bahkan katanya macet itu lebih parah dibanding tahun baru. T.T Alhasil, banyak objek yang tidak sempat dikunjungi dan oleh-olehpun juga ga sempat dibeli. Sorry guys!!!

Karena kami ingin menghemat budget jadinya itinerary kami. Hari-1 di seitar Kuta, Hari-2 arah tengah-timur Bali (Taro-Kintamani-Ubud-Gianyar). Hari-3 awalnya masih bingung arah barat-utara Bali (Tanah Lot-Bedugul) atau arah barat-selatan Bali (Tanah Lot, GWK, Dreamland, Uluwatu). Pilihan hari-3 tersebut tidak mungkin dilakukan dalam 1 hari karena letaknya yang berbeda. Alhasil, kami memilih barat-utara Bali karena tempatnya lebih adem dan sejuk. Kapan-kapan deh ke arah selatan Bali. Hehe. Btw, apabila kamu ingin ke Bali dan punya budget lebih, kamu buat saja itinerary dalam 3 hari dengan rutenya Hari-1 Ubud-Kintamani-Besakih, Hari-2 Tanah Lot-Bedugul, Hari-3 GWK, dreamland, Tanjung Benoa, Nusa Indah, Uluwatu, Jimbaran.

Senin, 25 Maret 2013
Hari ini lumayan rempong bagi saya. Paginya aku ada kuliah, siangnya ngasisten praktikum, dan sorenya musti sudah berada di Husen Sastranegara Airport, Bandung. Alhasil, ke airport-nya mepet waktu dan terpaksa cegat taxi di jalan. Mana taxi-nya gada argo pulak. Raib deh 50K hanya untuk taxi yang mustinya kalo naik taxi pake argo hanya <30K dan kalo naek angkot hanya empat rebe saja. :(

Aku janjian bertemu dengan Astrid di Bandara. Setelah check in dan bayar airport tax, ternyata flight kami delay sekitar 30 menit lebih. Yah tau gitu kan aku gak perlu buru-buru ke Airport-nya.

Sekitar jam 8.30 WITA, kami nyampe di bandara Ngurah Rai, Bali. Kami bingung mencari taxi resmi di bandara tersebut. Kebanyakan taxi liar dan tarifnya mahal. Kami berjalan sampai ujung Bandara dan di sana kami dicegat lagi oleh sopir taxi liar. Dia menawarkan kami ke hotel yang sudah kami booking. Awalnya, dia minta 50K setelah tawar menawar akhirnya bapak sopir taxi liarnya mau 35K. Tapi kami masih ngotot gak mau dan bilang gak usah saja. Setelah itu, ada taxi blue bird lewat. Aku langsung stop taxi blue bird. Taxi blue bird berhenti tetapi bapak sopir mobil liar marah. “Tidak boleh berhenti di sini” dan dia juga melarang kami menaikinya. Suka suka kita donk mau naik taxi yangmana. Bapaknya tetap memaksa kami sambil marah dan menendang taxi blue bird. Wekkk. Akhirnya kami berlari mengejar taxi blue bird dan menaikinya. Setelah sampai di hotel, ternyata kami hanya membayar 15K dan sesuai dengan argonya. Tuh kan lebih hemat kan. Hehe
Setelah check in hotel, kami langsung beres-beres dan jalan-jalan ke depan hotelnya. Di sana ada beberapa warung gitu. Hehe

Selasa, 26 Maret 2013
Setelah foto-fiti di sekitar hotel dan sarapan, kami langsung berangkat. Kami menyewa motor saja seharga 50K. Tujuan pertama kami adalah Café La Plancha di daerah seminyak. Setiba di sana agak menyesal karena café belum rame dan payung warna-warni yang menjadi ciri khas café belum ada. FYI, payung warna-warninya itu baru dipasang sekitar jam 5 sore.

La Plancha, Seminyak Bali

Selanjutnya kami mengunjungi Museum Shell Bali. Konon katanya, Museum Shell di dunia itu hanya ada 6 yaitu: Prancis, Thailand, Jepang, Filipina, US, dan Indonesia (Bali). HTM museum shell adalah 75K saat weekdays dan 100K saat weekend. Hmm, karena kami sudah membeli voucher di livingsocial.com, kami membayarnya hanya 37.5K. hehe. Selama di dalam Museum Shell, kami didampingi guide yang menjelaskan batuannya atau fosil. Batuannya lumayan banyak dan bentuk batuannya juga sudah dibentuk artistic. Jadi, tidak seperti singkapan bangetlah. Bagi kamu yang geologist/geophysicist gak perlu bawa HCl untuk membuktikan batuannya nge-cos atau gak. Cukup dilihat kasat mata saja sudah bisa ditebak kalau batuannya karbonat. (Walaupun banyak juga batuannya yang dibuat artificial dan tidak merupakan singkapan).

Museum Shell, Kuta

Sore harinya, kami berbelanja di Joger yang terkenal dengan koleksi kata-katanya yang lucu. Ketika sampai di sana, cukup shock dengan situasinya. Rame super parah. Karena waktunya juga mau tutup dan rame banget, aku gak terlalu pilih. Aku hanya beli sandal doank. Sebenarnya mau beli kaos juga tapi antriannya super panjang. Aku mengantri di bagian sandal aja dan itupun sudah lumayan panjang dan lama. Ada yang 1 pelanggan dilayaninya hampir 15 menit. Huhgt. Mana panas lagi di sana karena AC-nya gak terlalu banyak.

Malam harinya, kami menonton pertunjukan di Kuta Theater. Tempatnya deket banget dari hotel kami. Tinggal ngesot doank. Kami juga beli HTM via livingsocial sekitar 37.5K. Padahal, harga resminya 100K. Pertunjukannya banyak ditonton orang bule sedangkan orang domestiknya hanya beberapa orang saja termasuk aku dan Astrid. Pertunjukannya dimulai sekitar jam 8 WITA dan selesai sekitar jam 9 WITA. Pertunjukannya merupakan kolaborasi antara 20% Tarian Bali dan 80% Magic Show.

Kuta Theater

Rabu, 27 Maret 2013
Saat itu adalah hari puncak Galungan. Banyak janur, sesajenan, dan orang Bali yang beribadah di Pura. Sebenarnya kami pengen melihat acara Galungan di Pura Besakih tapi tidak bisa. Huks

Kami menyewa mobil + sopir sekaligus guide-nya yaitu Pak Made Suarta. Bapaknya asik kalo diajak ngobrol, baik dan sabar menunggu kami.

Sekitar jam 8 WITA, kami mampir di toko Agung Bali. Awalnya hanya beli beberapa barang untuk oleh-oleh saja karena kami berencana akan mengunjungi tempat perbelanjaan oleh-oleh di toko lain. Tapi ternyata rencana kami tidak dikehendaki karena keesokan harinya kami tidak sempat belanja lagi. Jadi, oleh-olehnya seadanya saja.

Setelah berbelanja, kami melanjutnya tujuan berikutnya yaitu Elephant Safari di Taro. Dari Kuta ke Taro sekitar 1.5-2 jam. Lagi lagi kami beli HTM-nya di livingsocial sehingga bisa irit. FYI, HTM paket riding elephant + buffet lunch sekitar 500K sedangkan HTM paket masuk + museum gajah + kasih makan gajahnya sekitar 100K. Sementara, kami yang beli di livingsocial paket masuk + museum gajah + buffet lunch sekitar 175K. Lumayan iritlah karena menu buffet lunch lumayan mahal. Aku sempet liat list minumnya saja paling murah (Aqua) itu sekitar 9K, juice 35K, jenis alcohol 50K-100K. Itu baru minumannya saja loh.

Astrid dan gajahnya, Elephant Safari, Taro

Tempat ini tidak begitu ramai dikunjungi turis domestic. Saat itu, hanya aku dan Astrid saja turis domestiknya. Lainnya, bule-bule gitu. Mungkin karena harganya mahal sepertinya. Di sana, kami dapat melihat gajah, memberi makan gajah, atraksi gajah, foto-fiti dengan gajah, dan tentunya lunch di restaurant-nya. Di antar banyak gajah di sana, si Astrid paling berkesan dengan gajah yang bernama Rizki. Selalu disebut Astrid nama Rizki. Katanya namanya imut untuk seekor gajah.

Museum Gajah, Elephant Safari, Taro

Sekitar jam 1, kami melanjutkan perjalanan ke Kintamani. Jarak Taro-Kintamani sekitar 1-1.5 jam. Kintamani itu udaranya sejuk dan adem. Disana kita dapat melihat Danau Batur dan Gunung Batur. Banyak restaurant di sekitar sana yang langsung menyuguhkan view Danau Batur dan Gunung Batur. Tapi, ya itu dia harganya mahal euy. Seperti biasa lebih banyak dikunjungi turis foreign sedangkan turis domestiknya hanya beberapa saja.

Danau Batur dan Gunung Batur, Kintamani

Setelah foto-fiti di Kitamani, kami melanjutnya perjalanan ke Pura Tirtha Empul. Disana ada Pura dan tempat pemandian yang dianggap “suci” oleh umat Hindhu. Tapi aku dan Astrid gak mandi kok di sana. :))

Tirtha Empul

Kemudian kami berkeliling di sekitar Ubud. Sempat singgah sebentar di Monkey Forest, Ubud tapi tidak masuk ke dalamnya karena waktunya sudah terlalu sore dan tempatnya mau ditutup.

Monkey Forest, Ubud

Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Tarian Kecak di daerah Gianyar. Kali ini kami hoki lagi dalam urusan pengeluaran uang. HTM resminya adalah 50K tapi kami hanya membayar 25K karena sopir kami Pak Made kenal dengan “orang dalam”. Pertunjukannya sendiri dimulai jam 6.30 – 7.30 WITA.


Bersama penari dan pemain Tari Kecak, Gianyar

Kamis, 28 Maret 2013
Hari itu adalah hari terakhir kami di Bali. Tadinya kami ingin menjelajah daerah Tanah Lot, Bedugul, Uluwatu, Nusa Dua, dll tapi itu semua tidak sempat. Hari itu juga rame banget di Bali. Macetnya ampun-ampunan. Kata Pak Made, macetnya lebih parah dibandingkan tahun baru. Mobil gak bisa bergerak.

Objek pertama yang kami kunjungi adalah Tanah Lot. Sebenarnya Pak Made sendiri memprediksikan kami bakal lama di sana karena objeknya lumayan banyak. Sayangnya, karena suhunya sangat panas + pengunjung yang super rame kami hanya sekitar 30 menit di sana. Tanah Lot itu memang bagus. Pura di pantainya membuatnya jadi terlihat bagus. Di sana kami hanya medokumentasikan beberapa objek. Cekrek cekrek kamera lanjut ke objek selanjutnya.

Tanah Lot
(Topi ini hanya dipakai sehari karena setelah itu ketinggalan di bandara. huks)

Objek selanjutnya yang kami kunjungi adalah Alas Kedaton. Di sana, selain ada Pura juga banyak monkey. Monkey-nya cukup agresif dengan memanjat pengunjungnya. Aku dan Astrid sempat dipanjat monkey-nya. Saat di sana, juga ada pertunjukan Tari Barong yang dibawakan anak-anak. Di sana kami juga didampingi guide, ibu-ibu gituh. Kami gak bayar. Tapi setelah ibunya mendampingi, ibunya mengajak ke toko miliknya di sekitar sana. Agak berat hati juga untuk tidak membelinya. Jadinya, kami beli deh di sana walaupun harganya agak mahal.

Pura di Alas Kedhaton

Setelah dari Alas Kedaton, Pak Made bertanya lagi “Mau kemana setelah ini?” Aku pilih Bedugul karena tempatnya di dataran tinggi pasti adem. Akhirnya, kami langsung menuju Bedugul. Ternyata perjalanan ke sana tidak selancar yang dibayangkan. Tetiba hujan deras dan sekitar 10 KM menjelang Bedugul macetnya dunk. Btw, selama perjalanan ke sana kami sempet berhenti untuk makan ayam betutu. Hehe

Setelah perjuangan menuju Bedugul, akhirnya sampai juga di Pura Ulun Danu, Bedugul. Perjalanan menuju ke sana ternyata tidak sia-sia. View-nya bagus, udaranya sejuk, banyak bunga-bunga di sekitarnya. Satu lagi yang aku suka adalah penduduk Bedugul banyak yang beragama Islam, ada Madrasah, dan akhirnya aku mendengarkan Adzan di Bali. Subhanallah…

Pura Ulun Danu, Bedugul

Setelah puas dari Bedugul, kami berencana ke arah GWK. Tapi Pak Made agak tidak yakin bisa ke sana karena sudah sore banget. 10 menit perjalanan, kami diuji lagi. MACETTT. Bahkan macet kali ini lebih parah. Macetnya panjang banget dan mobilpun tidak bisa bergerak. Namun, Pak Made tidak kehilangan akal. Dia memutar balik mobilnya dan mengajak kami ke objek lain di sekitar Bedugul. Sebenarnya, ada Bothanical Garden. Tapi, sayangnya di sana juga macet. Kami diajak ke Danau Buyan. Danau itu lebih kecil dibandingkan Danau Batur. Danau Buyan juga belum dibuka untuk pariwisata. Sehingga, kami kesulitan mencari spot yang bagus untuk berfoto. Tapi, at least lumayanlah menambah kunjungan objek kami selama di Bali.

Danau Bayan

Hari makin sore dan kamipun berencana balik ke Kuta. Lagi-lagi macetnya masih parah dan makin panjang. Pak Made mencari jalan alternative lain. Kami berhasil memotong perjalanan sekitar 8 KM. tapi, setelah jarak 2 KM kembali macet lagi. Pak Made mencari jalan alternative lagi dan kamipun bisa memangkas sekitar 10 KM. Tapi sekitar 1 KM, macet lagi. Kemudian Pak Made mencari jalan alternative lagi ke arah Tanah Lot dan lagi-lagi di sana juga macet. Setelah berjalan macem siput akhirnya sampai di Kuta dan macet juga di sana. Alhasil, aku yang rencana akan singgah di toko oleh-oleh, harus mengurungkan rencanaku. Kami langsung lanjut menuju bandara. Perjalanan ke bandara pun juga macet lagi. Astaga, Bali dimana-mana macet hari itu.

Akhirnya, setelah diuji dengan kemacetan luar biasa sampe juga di bandara. Setelah berpamitan dengan Pak Made kami langsung menuju departure gate. Sewaktu akan check in, ada lagi masalahnya. Seperti biasa, AirAsia melakukan check in dengan mesin mirip ATM. Setelah memasukan kode booking dan sewaktu akan memilih rute perjalanannya gak bisa dipencet. Aku mencoba mengulang lagi dengan memasukan kode booking dan centang rute perjalanannya. Namun, masih gak bisa. Kebetulan di sana gak ada petugas. Aku memanggil Astrid dan Astrid mencoba check in. Lagi-lagi gak bisa. Kemudian, petugasnya datang dan membantu kami untuk check in. Ternyata, gak bisa lagi. Petugasnya melirik rute kami DPS-BDG. Kata beliau, “Flight tersebut sudah berangkat beberapa menit yang lalu”. Nah loh, ketinggalan flight deh kita. Akhirnya, kami melapor ke petugas AirAsia dan dia mengurus tiket kami. Kami di-reschedule ke DPS-JKT. Kemudian, dia juga menyediakan kendaraan menuju Bandung dari Cengkareng.

Sekitar jam 00.20 WIB, kami sampai di Jakarta. Memang benar AirAsia tersebut bertanggungjawab banget. Mereka mencarikan kami travel menuju Bandung. Karena Astrid tinggal di Jakarta, dia diantarkan sampai alamat. Setelah Astrid turun, tinggal aku dan sopir saja di mobilnya. Hmm, agak scary memang. Dini hari naik travel dan penumpangnya aku saja. Sebenarnya aku sudah ngantuk banget tapi aku berusaha menahan kantuk karena takut kenapa-kenapa. Bukan masalah serem diculik sopir tapi takut kalo sopirnya tetiba ngantuk dan salah nyetir. Oh no, pikiran burukpun merasuki. Anyway, sopirnya baik dan dia bawa mobil hati-hati. Perjalanan ke Bandung yang aku kira lancar jaya ternyata tidak demikian. Justru banyak mobil gede macem truk, fuso, dan trailer. Kata-kata macetpun masih mengikutiku. Zzzz. Akhirnya, hampir 5 jam perjalanan dari CGK-BDG, jam 5 WIB aku sampai di kosan dengan selamat. Alhamdulillah…

Jujur, aku masih belum puas ke Bali. Aku masih penasaran dengan daerah Selatan Bali.

Bali… oh Bali, semoga aku (Insya Allah) mengunjungimu kembali :) 

See you

Sunday, March 10, 2013

Refleksi Bodoh si Anak Polos

Sunday, March 10, 2013 Posted by rizka farizal No comments
Halo halo semuamua

Sebenarnya aku dah lama mo nulis ini. Tapi krn blom dapet foto2 ditunda2 deh. Walaupun sekarang masih blom dapet fotonya. T.T

Ceritanya tanggal 23 Februari lalu, aku menghadiri undangan resepsi pernikahan adek temanku. Adek teman gitu loh. Aku sempat disepet gitu. Adek teman aja udh merit trus kakak kapan? Huks.

Aku pergi ke sana berempat dengan temanku. Aku, Gestin, Yasinta, dan Hani. Ketiga temanku termasuk aku pake baju pinky-pinky gitu. Bukan maksud krn kebetulan bulan Februari loh. Karena tempatnya mayan jauh dan kami tidak tau lokasinya, kami akhirnya menumpangi taxi. Kami agak kesal sama sopirnya. Kita diajak mampir dulu ke SPBU utk ngisi bensin, diajak keliling2 dan muter2. Padahal sblmnya kita dah melewati Jl. Pajajaran. Aku udah bilang lewat Tegal lega aja tapi si sopirnya malah minta lewat jalan Tol dengan alesan takut macet. Krn aku tau lewat tol dari Dago ke Moh. Toha itu jalurnya lebih panjang + bayar masuk tol, aku langsung bilang ga usah. Mahal kan bisa ampir cepek rebe ongkosnya. Si sopir akhirnya melewati Jl. Merdeka. What? Itu kan juga jauh rutenya. Padahal aku dah bilang lewat Tegal lega aja. Zzz. Yaudah deh kita muter2 ke Buah Batu dulu abis itu ke Jl.Soekarno Hatta baru ke Jl.Moh Toha. Setelah muter2 akhirnya nyampe juga. Kamipun langsung patungan membayarnya.

Waktu ngisi buku tamu, kami sebenarnya mupeng dapet souvenir tutup tissue. Krn warnanya cerah2. Tapi, mba pager ayu-nya ngeluarin souvenir dari bawah meja. Ternyata souvenirnya adalah Al Matsurat. Hoho. Setelah mengisi buku tamu, kami masuk dan kebengongan. Ga tau pengen makan dulu atau salaman dulu. Kami hanya berdiri geje gitu di tengah jalan. Karena tingkah kami seperti itu si panitianya menyuruh kami untuk salaman. Ya sudah salaman lah kami. Setelah salaman si panitianya juga menyuruh kami untuk makan sampe narik2 kami. Zzz. Setelah masing2 kami mengambil makanan, kami mencari spot tempat duduk. Pas lagi duduk2 gituh, aku nanya sama Gestin. Ges, kamu kenal dg pengantennya? Si Gestin jawabnya sambil senyum2 + lirik 3 org yg duduk di depannya. Hmm, curiga deh. Setelah 3 org yg duduk di depan kami itu pindah, datanglah si Daus (kakak si penganten dan yg mengundang kami). Setelah say hello gitu, aku agak curiga. Krn bajunya Daus sama dg 3 org yg duduk di depan kami tadi. Usut punya usut ternyata 2 orang dari yg bertiga itu adalah adeknya Daus. NGGGGGG. Maluuu deh aku.

Setelah makanan kami habis, kami mau nyobain makanan laen di stand makanannya. Waktu itu aku ambil siomay dan pudding. Setelah itu cari spot tempat duduk yg berbeda lagi. Setelah abis, si aku dan temanku pengen nyobain dessert spt buah2an. Ternyata pas kami mencari stand buah2an, ada pengumuman klo ada hijab utk tamu ikhwan dan akhwat. Stand buah2 ada di tempat ikhwan sementara kami akhwat. Jadi, kita diusir oleh panitianya. Huks. Kami cerita sm Daus dan Aul, lalu mereka yg ambil buah2annya. Hhehehe.

Setelah puas makan2 dan foto fiti di kamar mandi. Oops. Aku, Gestin, dan Yasinta pamit pulang. Hani masih tinggal di sana krn dia masih pengen ngobrol dengan tantenya Daus. Kali ini, kami naek angkot krn dah kapok naek taxi. Dari tempat acaranya ke Dago menaiki 2X angkot. Angkot ke arah Kalapa dulu, setelah itu Kalapa-Dago. Waktu naek angkot Kalapa-Dago kami lagi asek ngobrol ttg kejadian semalemnya di kosan Gestin. Jadi, semalemnya ada org yg nge-bell gitu berkali2 sekitar jam 2 dini hari. Mengganggu banget lah yah. Si Gestin ceritanya berapi-api gitu. Saat kami asek ngobrol, ada pengamen yg nyanyi. Saat si Gestin-nya cerita lagi berapi2, pengamen tetep nyanyi, dan kami tidak ngasih “receh”. Tetiba pengamennya marah2 gituh sambil lirik Gestin. Oh no salah paham ini keknya. Spertinya si pengamen itu merasa dia yg dibicara kita. Padahal kita juga bukan ngomongin dia kaleee.

Refleksi bodoh aku adalah pertama, kita musti survey dulu lokasi yg mau kita tuju. Bisa googling atau nanya2 org laen. Sehingga, kita ga tertipu sama sopir taxi. Kedua, jangan bengong di acara resepsi org. Berpura2 aja. Heheh. Ketiga, liat sikon klo mo ngomong. Tiati klo banyak telinga di sekitar kita. Bisa saja di sekitar kita ada yg kenal dg org yg kita bicarakan atau bisa juga org di sekitar kita itu merasa dia yg kita bicarakan. Intinya dilarang bergosip. Karena bergosip itu dosa. Duh aduh.

Me with Gestin