Friday, January 11, 2013

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Friday, January 11, 2013 Posted by rizka farizal No comments
Pengarang          : Buya Hamka
Tahun terbit        : 1938
Jumlah Halaman : 224 (cetakan ke 22)









Novel ini adalah sebuah karya sastra yang populer di daerah Sumatera Barat. Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan persoalan kekayaan yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih. Adapun sinopsisnya adalah sebagai berikut (sumber: wikipedia.org)


Sejak berumur 9 bulan, Zainuddin telah ditinggalkan Daeng Habibah ibunya dan ayahnya yang bernama Pendekar Sutan. Zainuddin tinggal bersama Mak Base. Kira-kira 30 tahun yang lalu, ayahnya punya perkara dengan mamaknya Datuk Mantari Labih tentang warisan. Dalam suatu pertengkaran tersebut Datuk Mantari terbunuh. Pendekar Sutan kemudian dibuang ke Cilacap selama 15 tahun. Setelah selesai masa hukumannya, ia dikirim ke Bugis untuk menumpas pemberontakan yang melawan Belanda. Di sanalah Pendekar Sutan bertemu dengan Daeng Habibah. Untuk mencari keluarga ayahnya, Zainuddin pergi ke desa Batipuh di Padang. Di Padang ia tinggal di rumah saudara ayahnya, Made Jamilah.

Setibanya di Padang, Zainuddin segera mencari keluarga ayahnya di dusun Batupuh. Setelah bertemu dan berkenalan dengan keluarga bakonya, ia sangat bahagia tapi lambat laun mulai menghilang karena kehidupannya di sana tak seperti yang ia bayangkan. Di Batipuh ia bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis cantik dan beradat bernama Hajati. Setelah pertemuan itu, hubungan mereka berdua mulai diwarnai dengan cinta dan mulai surat-menyurat. Tapi yang mereka berdua lakukan telah menjadi buah bibir warga dan ditentang oleh mamaknya Hajati karena tidak sesuai dengan adat. Akhirnya Zainuddin pun diusir dari Batipuh dan dipindah ke Padang Panjang. Di perbatasan dusun, Hajati melepas kepergian Zainuddin dan mengucap janji akan menunggu Zainuddin sampai ia kembali.

Zainuddin menerima kabar bahwa Hajati akan pergi ke Padang Panjang untuk melihat pacuan kuda atas undangan sahabat Hajati yang bernama Chadidjah. Zainuddin hanya dapat bertemu pandang di tempat itu karena banyaknya orang di sana. Pertemuan yang sekejap itu membuat Hajati mendapat ejekan dari Chadidjah. Chadidjah sendiri sebenarnya bermaksud menjodohkan Hajati dengan Aziz, kakak Chadidjah sendiri. Karena merasa cukup mempunyai kekayaan warisan dari orang tuanya setelah Mak Base meninggal, Zainuddin mengirim surat lamaran pada Hajati. Ternyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz.

Setelah diminta untuk memilih, Hajati memutuskan memilih Aziz sebagai calon suaminya. Zainuddin sakit selama dua bulan karena Hajati menolaknya. Atas bantuan dan nasehat Muluk, anak induk semangnya, Zainuddin dapat merubah pikirannya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta.

Dengan nama samaran "Z", Zainuddin kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya. la mendirikan perkumpulan tonil "Andalas", dan kehidupannya telah berubah menjadi orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku.

Aziz dipindahkan ke Surabaya, Hajati pun mengikuti suaminya. Suatu kali, Hajati mendapat sebuah undangan dari perkumpulan sandiwara yang dipimpin dan disutradarai oleh Tuan Shabir atau "Z". Karena ajakan Hajati, Aziz bersedia menonton pertunjukkan itu. Di akhir pertunjukan baru mereka ketahui bahwa Tuan Shabir atau "Z" itu adalah Zainuddin. Walaupun demikian, hubungan mereka tetap baik.

Beberapa waktu kemudian, Aziz dipecat dari tempatnya bekerja karena hutang yang menumpuk dan harus meninggalkan rumah sewanya karena sudah tiga bulan tidak membayar. Selama Aziz di Surabaya, ia telah menunjukkan sifat-sifatnya yang tidak baik. la sering keluar malam bersama perempuan jalang, berjudi, mabuk-mabukan, serta tak lagi menaruh cinta pada Hajati. Akibatnya, mereka tidak berumah lagi dan mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin.

Setelah sebulan tinggal serumah, Aziz pergi ke Banyuwangi meninggalkan isterinya bersama Zainuddin. Sepeninggal Aziz, Zainuddin sendiri pun jarang pulang, kecuali untuk tidur. Suatu ketika Muluk memberi tahu pada Hajati bahwa Zainuddin masih mencintainya. Di dalam kamar kerja Zainuddin terdapat gambar Hajati sebagai bukti bahwa Zainuddin masih mencintainya.

Beberapa hari kemudian diperoleh kabar bahwa Aziz telah menceraikan Hajati. Aziz meminta supaya Hajati hidup bersama Zainuddin. Kemudian ada berita dari sebuah surat kabar bahwa Aziz telah bunuh diri dengan meminum obat tidur di sebuah hotel di Banyuwangi.

Hajati meminta kesediaan Zainuddin untuk menerimanya sebagai apa saja, asalkan ia dapat bersama-sama serumah dengan Zainuddin. Permintaan itu tidak diterima baik oleh Zainuddin. Ia bahkan amat marah dan tersinggung karena lamarannya dulu pemah ditolak Hajati tapi sekarang Hajati ingin menjadi isterinya. la tidak dapat menerima perlakuan Hajati.

Dengan kapal Van Der Wijck, Hajati pulang atas biaya Zainuddin. Namun Zainuddin kemudian berpikir lagi bahwa ia sebenamya tidak dapat hidup bahagia tanpa Hajati. Oleh sebab itulah setelah keberangkatan Hajati, ia berniat menyusul Hajati untuk dijadikan isterinya. Zainuddin kemudian menyusul naik kereta api malam ke Jakarta. Harapan Zainuddin ternyata tak tercapai. Kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hajati tenggelam di perairan dekat Tuban.

Sepeninggal Hajati, kehidupan Zainuddin menjadi sunyi dan kesehatannya tidak terjaga. Akhirnya pengarang terkenal itu meninggal dunia dan dimakamkan di sisi makam Hajati.

Pesan Moral!!!



  1. Apabila ingin memilih jodoh jangan dilihat suku dan adatnya karena bagi Tuhan, semua manusia itu dipandang sama. Kita juga jangan memilihvjodoh dengan melihat harta kekayaannya karena itu semua hanyalah titipan Tuhan yang bersifat sementara. Yaaa, mungkin saja Tuhan akan mengambil kekayaan itu semua.
  2. Jangan memendam perasaan cinta. uhukhukhuk. Karena kita akan menyesali diri sendiri untuk melepaskan sesuatu yang telah ada dihadapan kita. Kalau kata orang "kesempatan itu tidak akan datang dua kali".
  3. Rejeki, jodoh, maut hanya Tuhan yang tau. Jadi tetap berusahalah dengan sungguh-sungguh.
  4. Jangan merusak diri sendiri karena tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Setiap manusia pasti mendapatkan nikmat dari Tuhan. Semua doa yang kita minta kepada Tuhan pasti akan dikabulkannya. Apabila tidak dikabulkan dalam waktu dekat, mungkin doa itu akan ditunda atau diganti dengan yang lebih baik atau bisa juga dikabulkan di akhirat kelak. So, fighting3x.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment