Thursday, January 10, 2013

My First Posting

Thursday, January 10, 2013 Posted by rizka farizal No comments
Ini adalah posting pertama saya di dunia maya. Yak, setelah sekian banyak orang yang menyuruh untuk membuat blog akhirnya saya buat juga ini blog. 

Saya membuat blog karena pengen membuat suatu karya (semacem tulisan gitu) agar bermanfaat bagi orang lain. Walaupun, mungkin ke depannya isi blog ini semacam “nyampah” atau apalah kata orang tapi setidaknya saya sudah menuliskan sesuatu. Ada orang bilang “Sejarah manusia akan lenyap ketika tidak menulis. Sebaliknya, manusia akan dikenang dengan tulisan-tulisannya. Maka, menulis adalah bagian mengukir peradaban kita”. :)

Berkaitan dengan tulis menulis saya menemukan suatu artikel tentang urgensi peran tulisan. Berikut adalah artikel yang sudah saya edit. Sumber: menulislah kamu dan dunia akan berubah

"Di dalam Al Quran, Allah menjelaskan: “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis, Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.” (Al-Qalam: 1-2)

Jika Allah bersumpah dengan sesuatu di dalam Al-Quran, maka sesuatu itu pasti memiliki peran penting dan kedudukan tinggi dalam kehidupan manusia. Seperti halnya ketika Allah bersumpah demi masa, matahari, bumi, gunung dan seterusnya. Artinya, dengan bersumpah demi pena dan tulisan, Allah ingin menegaskan pentingnya pena dan tulisan itu dalam peradaban manusia.

Allah menurunkan wahyu pertamanya dengan “iqra’”; bacalah. Ini sekaligus menegaskan pentingnya tulisan. Sebab apa lagi yang kita baca kalau bukan tulisan. Dan, dari sinilah peradaban Islam itu dibangun. Disamping dihafal, Al-Quran juga dibukukan. Bersamaan dengan itu, Hadits-hadits Rasulullah juga dibukukan secara terpisah. Sejak saat itulah dunia Islam kemudian menjadi mercusuar peradaban karena hasil-hasil karya tulisannya dengan berbagai bidang ilmu; dari tafsir hingga filsafat, dari kedokteran hingga ilmu astronomi.

Pepatah Arab menyatakan, “Kecerdasan orang itu terletak di bawah penanya (tulisannya)” “Pena itu terlelap di hati tapi bangkit di lisan” “Tulisan itu ujung tombak setiap karya. Dengan tulisan, simpul pekerjaan bisa disempurnakan”

Adapun alasan pentingnya kita menulis adalah:

1. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya bahwa peradaban manusia itu ditandai dengan tulisan yang mereka tinggalkan. Sejarah manusia akan lenyap ketika tidak menulis. Sebaliknya, manusia akan dikenang dengan tulisan-tulisannya. Maka, menulis adalah bagian mengukir peradaban kita.

2. Menulis adalah bagian dari dakwah efektif. Menulis lebih dari sekadar menyalurkan hobi. Ia adalah bagian dari kerja dakwah, jihad bil qalam (pena). Sebagaimana ceramah atau khutbah adalah bagian dari jihad bil kalam (kata-kata). Di era internet saat ini, tulisan kita hampir bisa dipastikan tidak akan hilang. Ia akan dibaca oleh jutaan orang lintas agama dan negara.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An-Nisa’: 9)

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18)

3. “Menulis” menajamkan kepekaan rohani.

Sebelum menjadi nasehat bagi orang lain, tulisan adalah nasehat dan pencerahan buat si penulis sendiri. Tulisan kita adalah penasehat paling tulus menasehati kita sendiri. Ada sebagian penulis lupa tulisannya sendiri. Tapi tak sedikit perubahan diri justru berawal dari tulisan yang ia goreskan sendiri. Karena pada hakekatnya, seseorang lebih tahu tentang maksud dan tujuan tulisannya. Kadang sebuah tulisan juga sebuah pengalaman emas rohani seseorang yang dia ingin share kepada yang lain.

Hal paling bernilai bagi kehidupan seseorang adalah hidayah. Dengan kata lain yang lebih sederhana; ketika seseorang menemukan kesadaran dan jati dirinya untuk meniti jalan kebenaran. Namun kadang di perjalanan, “lampu penerang” itu melemah atau bahkan redup. Salah satu bahan bakar untuk menyalakan lampu hidayah itu adalah menasehati diri sendiri melalui sebuah tulisan.
(Tarmudli)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment