Tuesday, January 29, 2013

Minang Trip 2013

Tuesday, January 29, 2013 Posted by rizka farizal 2 comments
Tepat tanggal 14 – 16 Januari 2013 saya, Iktri, dan Astrid melakukan first trip kami di tahun 2013. Minang trip yang juga kampong kelahiran saya dan Iktri merupakan first trip kami. Adapun itinerary kami adalah sebagai berikut:

Hari 1
Berangkat dari kosan Astrid di daerah Kuningan menuju Bandara Soetta jam 3 pagi. Flight kami sekitar jam 5.30. Pada waktu itu, flight-nya on time sehingga jam 7 sudah sampai di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Setelah itu, kami dijemput ibu saya. Jadi, langsung berangkat ke Bukittinggi. Dalam perjalanan tersebut, kami sempat berhenti di RM Kiambang (view-nya bagus banget), Lembah Anai, dan RM Nasi Kapau Uni Cah.
Sekitar jam 11 sampai di rumah saya. Setelah istirahat, shalat, dll saya, Iktri, dan Astrid berencana malala (bahasa Minang red). Adapun tempat yang kami kunjungi adalah:

Bandara Internasional Minangkabau (BIM)

View RM. Puncak Kiambang

Foto sama ibuku di Lembah Anai

Panorama
Panorama ini memiliki objek Lubang Jepang yang konon panjangnya sekitar 1400 m (tapi yang hanya dibuka untuk umum sekitar 500 m). Lubang ini dibangun tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan tentara Jepang dalam PD II dan perang Asia Timur Raya (Dai Tora Senso) atas perintah pemerintah militer Angkatan Darat Jepang untuk Sumatera berkedudukan di Bukittinggi dengan Komandan Tentara Pertahanan Sumatera Jend. Watanabe. Dengan mengunjungi Lubang Jepang, kita akan merasakan sensasi yang sangat unik. Didalamnya terdapat ruang makan, ruang minum, ruang penyiksaan, dapur, ruang pertemuan, ruang tidur, ruang amunisi, ruang sidang, dan ruang pekerja. Ada juga yang masih direncanakan pembangunannya tapi tidak tau kapan selesainya yaitu museum geologi, maket geologi dan tatakota, ruang patung akrilik, ruang lukisan dan foto, ruang istirahat, mini teater, mushala dan toilet. Pintu masuk Lubang Jepang ini terdapat dibeberapa tempat seperti  di tepi Ngarai Sianok, Taman Panorama, dan disamping Istana Bung Hatta atau Tri Arga. Tapi yang dibuka untuk umum hanya pintu yang ada di Taman Panorama. Adapun untuk memasuki Lobang Jepang ini, kami harus menuruni 132 anak tangga. Hmm, kalau turun mah nyantai aja tapi kalau balik kita kan ngos-ngosan naik si anak tangga ini.
Selain Lobang Jepang, kami juga dapat melihat view dari Ngarai Sianok yang konon katanya mirip dengan Grand Canyon di Amerika (hmmm).

Panorama Ngarai Sianok dan Lobang Jepang

Benteng Fort de Kock, Jembatan Limpapeh, Kebon Binatang, Rumah Adat Baanjuang
Semua objek tersebut terletak dalam satu komplek.
Benteng Fort de Kock merupakan benteng peninggalan kolonial Belanda. Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 pada masa Baron Hendrik Markus De Kock sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Karena itulah benteng ini terkenal dengan nama Benteng Fort De Kock. Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya perang Paderi pada tahun 1821-1837. Disekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Dari lokasi wisata ini kita dapat menikmati Kota Bukittinggi dan daerah sekitarnya. Misalnya kantor Walikota Bukittinggi, Gunung Merapi – Singgalang. Tempat ini menjadi favorit untuk anak muda macah (pacaran red). Karena itu saya agak males ke sana.
Jembatan Limpapeh menghubungkan Benteng Fort de Kock dengan Kebun Binatang. Jembatan ini berada di atas Jl. Ahmad Yani Bukittinggi.
Kebun Binatang Bukittinggi yang bernama Taman Marga Satwa Bukittinggi merupakan satu-satunya kebun binatang yang lengkap di Sumatera Barat. Kebun Binatang ini dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda sekitar tahuan 1900-an. Terdapat beraneka fauna di sana. Saat itu, kami tidak terlalu mengelilingi lokasinya karena sudah agak capek. Selain fauna, di kebun binatang ini juga terdapat museum zoology dan Rumah Adat Baanjuang.

Benteng Fort de Kock

Jembatan Limpapeh

View Gunung Singgalang dari Jembatan Limpapeh

Kebun Binatang dan Rumah Adat Baanjuang

Pasar Atas Bukittinggi
Pasar Atas Bukittinggi merupakan pasar tradisional yang menjual textile, aneka kerajinan, souvenir, mebel, makanan dan minuman, dll. Sebenarnya kalau kita turun dari Pasar Atas ini dan melalui Pasar Lereng, kita akan menjumpai Pasar Bawah. Tapi, Pasar Bawah mayoritas isinya bahan masakan dan makanan. Yaa, kita kan ga sempat masak-masak begitu. #ngeles hihihi.

Jam Gadang
Jam Gadang merupakan icon kota Bukittinggi. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazin Sutan Gigi Ameh, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.
Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda dan juga titik nol kota Bukittinggi. Adapun keunikan dari Jam Gadang adalah angka romawi IV ditulis IIII.

Jam Gadang

Hari 2
Berangkat dari rumah jam 8.00. Pada hari itu, kami ditemani sepupu saya plus satu orang driver tentunya. Drivernya agak aneh dan sedikit suka garing. So, perjalanan menjadi tidak begitu membosankan. Adapun tujuan kami adalah Payakumbuh - Tanah Datar - Padang Panjang – Padang

Ngalau Indah (Payakumbuh)
Ngalau Indah adalah nama sebuah goa yang berada di lereng perbukitan yang terdapat di Kota Payakumbuh. Di dalamnya terdapat batu stalagmit dan stalagtit yang terbentuk dari proses endapan kapur yang berlangsung ratusan tahun. Kedua jenis batu tersebut mempunyai ukiran beraneka macam bentuk, dengan ornamen-ornamen yang menakjubkan, seperti: gong, ruang kamar tidur, kursi, kelambu, rahang manusia dll.

Ngalau Indah

Lembah Harau (Payakumbuh)
Lembah Harau adalah tempat favorit Astrid selama trip di Sumatera Barat. Katanya struktur geologinya bagus. Gileee geologist abis.
Keindahan dan pesona pemandangan alam Lembah Harau ini sangat lengkap. Sejak awal memasuki kawasan wisata, kami dimanjakan dengan celah alam, air terjun, tebing, dan sawah. Selain wisata alam, dibangun pula fasilitas seperti tempat kemah, kolam dan jalan setapak yang dapat digunakan untuk hiking mengelilingi hutan di kawasan wisata. Kami sempat beberapa kali berhenti hanya untuk berfoto-fiti. :D
Lokasi wisata Lembah Harau dibagi menjadi dua tempat yang bisa kami pilih, yaitu Sarasah Boenta dan Akar Berayun. Jika memilih yang lebih alami bisa melalui Sarasah Boenta yang katanya memiliki beberapa buah air terjun dengan pemandangan yang masih asli. Sedangkan jika berharap mendapatkan fasilitas yang lebih lengkap, Akar Berayun pilihannya karena selain memiliki air terjun, Akar Berayun juga telah dibangun kolam renangnya serta cottage dan resort.
Tak hanya itu, di Akar Berayun Lembah Harau, kita juga bisa meilihat penangkaran kupu-kupu, melihat beberapa hewan di Kebun Binatang, dan mencoba menaiki alat transportasi tradisional Sumatera Barat, Bendi. Bagi yang ingin menaiki tebing juga bisa dilakukan dari Akar Berayun, dengan fasilitas menaiki tebing sudah dibangun dengan baik, sehingga kita dapat naik sampai dengan ke puncak dan menikmati keindahan pemandangan Lembah Harau dari atas bukit. (Menurut sepupu saya begitu).
Pada trip kali ini, kami memilih Sarasah Boenta karena menurut si driver kami lebih interest. Selain itu, saya juga sudah pernah sebelumnya ke Akar Berayun (pengen yang beda aja) dan Akar Berayun juga memiliki penangkaran kupu-kupu (mustahil lah bagi Astrid).

Lembah Harau

Batu Angkek-Angkek (Sungayang, Tanah Datar)
Perjalanan dari Lembah Harau ke Batu Angkek-angkek memakan waktu yang lama sekitar 2 jam. Lumayan untuk tidur. Lokasi Batu Angkek-angkek ini mungkin agak sulit ditemukan oleh tourist karena penunjuk arahnya ga user tourism. Misalnya: tidak ada di google map dan tidak ada rambu-rambu selama perjalanan. Hanya bermodalkan bertanya kepada penduduk sekitar saja kita dapat sampai di lokasinya. Setelah sampai ditujuan ternyata agak under expectation karena lokasinya hanya di dalam rumah. Yah wajarlah gada di google map.
Keunikan dari Batu Angkek-angkek ini adalah batunya tidak semua orang bisa mengangkatnya. Konon katanya, apabila kita mampu mengangkat batu tersebut maka doa yang kita panjatkan Insya Allah akan terkabul dan sebaliknya apabila kita tidak mampu mengangkatnya maka doa kita sulit terkabul. Oops, jangan bilang syirik dululah. Inikan just 4 fun aja. Terangkat/tidaknya ga usah dicemasin. Yah, kalau kita tidak bisa mengangkatnya anggap aja batunya sotoyyy (Iktri red).

Batu Angkek-Angkek

Istana Pagaruyuang (Batu Sangkar, Tanah Datar)
Lokasi dari Batu Angkek-angkek ke Istana Pagaruyung tidak begitu jauh. Kurang lebih 15 menit sudah sampai di Istana Pagaruyuang. Sebenarnya, sebelum ke Istana Pagaruyuang kami melewati Batu Batikam. Tapi kami hanya lewat saja.
Istana Pagaruyuang merupakan istana Raja Minangkabau. Istana yang kami kunjungi itu adalah replikanya saja karena istana aslinya sudah terbakar. Istana replikanya sajapun sudah beberapa kali terbakar. Terakhir sekitar tahun 2007. Pada saat mengunjunginya, kami hanya berfoto di bagian luar saja karena bagian dalamnya tidak terbuka. Mungkin belom selesai direnovasi atau mebelnya belom lengkap sepertinya yah.

Istana Pagaruyuang

Danau Singkarak (Tanah Datar -  Solok)
Danau Singkarak merupakan danau terbesar di Sumatera Barat. Menurut saya dibandingkan Danau Maninjau saya lebih suka Danau Maninjau. Karena bentuk Danau Maninjau pas gitu (panjang dan lebar tidak begitu signifikan). Selain itu, view-nya bisa dilihat dari atas karena untuk mengunjunginya dari arah Bukittinggi musti melalui kelok 44. Tapi, karena waktu trip kami hanya sebentar, kami tidak sempat ke sana.
Lokasi yang bagus untuk melihat Danau Singkarak adalah Tanjung Mutiara. Di sana banyak perahu yang tersedia apabila kita ingin berkeliling danaunya. Adapun makanan khas dari Danau Singkarak adalah ikan bilih yang kalau di Danau Maninjau namanya ikan bada.

Danau Singkarak

Explore Padang
Pada malam hari, kami berkeliling kota Padang tapi mayoritas hanya di kendaraan saja. Adapun yang kami lewati adalah Jembatan Siti Nurbaya, GOR, Masjid-masjid, dll. Tapi karena malam jadi ga begitu interest.

Hari 3
Seperti biasa kami berangkat jam 8.00. Tujuan kami adalah Painan dan balik lagi ke Padang karena flight kami jam 22.00. Saat itu, kami ditemani om, tante, dan sepupu Iktri selama trip.

Pantai Carocok (Painan, Pesisir Selatan)
Pantai ini bagus menurut kami. Pasirnya putih dan air lautnya lumayan jernih seperti danau. Keunikan pantai ini adalah adanya jembatan yang menghubungkan antar pulau seperti Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Jembatan di pantai Carocok yang bagus yaitu menghubungkan tepi pantai ke Pulau Kereta. Selain itu, ada Pulau Cingkuak tapi ditempuh dengan menggunakan boat. Pulau Cingkuak sebenarnya memiliki benteng peninggalan Portugis tapi waktu kami lihat tidak begitu interest sehingga tidak difoto. Tetapi view Pulau Cingkuak itu bagus buangettt menurut saya bagaikan lukisan gitu.
Sebenarnya, apabila kami mengunjunginya di saat weekend/holiday tersedia water sport yang harganya murehhhh banget. Tapi sayang water sport tidak ada di saat weekdays.

Pantai Carocok

Bukit Lengkisau (Painan, Pesisir Selatan)
Letaknya tidak jauh dari Pantai Carocok sekitar 5-10 menitlah apabila menggunakan kendaraan. View-nya bagus banget menurut kami. Kalau melihat ke kiri dapat melihat Pantai Carocok nan elok namun kalau melihat sebelah kanan dapat melihat bukit dan perumahan daerah Painan. Konon katanya, di Bukit Lengkisau sering diadakan Parahlayang. Wow, bener-bener membutuhkan nyali yang kuat tuh.

Bukit Lengkisau

Jembatan Akar (Pesisir Selatan)
Keunikannya adalah jembatannya dibuat dari akar pohon. Sebenarnya agak gamang waktu melintasinya karena menurut saya tidak begitu kokoh dan ditambah lagi saat kami mengunjungi lokasinya sedang ramai oleh wisatawan. So, sering goyang-goyang tuh jembatan. Apabila melihat ke bawah juga langsung ada sungai dengan arus yang lumayan deras. Mungkin kalau boleh usul, selain melihat jembatan dan sungai perlu ditambahkan olahraga rafting biar makin menarik wisatawan. Just my opinion.

Jembatan Akar

Air Terjun Bayang Sani (Pesisir Selatan)
Letaknya tidak jauh dari Jembatan Akar sekitar 10 menit apabila menggunakan kendaraan. Air terjun ini berbeda dari air terjun yang ada di Lembah Anai dan Lembah Harau. Air terjunnya lebih lebar dan bertingkat-tingkat jadi lumayan aseklah digunakan untuk maen aer. Konon katanya, air terjun ini sering digunakan none-none Belanda jaman kolonial. Sayangnya, kami tidak cukup waktu untuk ke sana sehingga hanya berfoto dari kejauhan saja.

Air Terjun Bayang Sani

Pantai Air Manis (Padang)
Pantai Air Manis merupakan icon kota Padang. Siapa seh yang ga tau cerita Malin Kundang? Udah taulah yah cerita anak yang dikutuk ibunya jadi batu karena kedurhakaannya.
Waktu kecil, saya agak kepo dengan nama tempatnya air manis. Pernah loh saya menyicip airnya terus rasanya ternyata tidak manis. CERDASSS.

Pantai Air Manis

Sampai di sana perjalanan kami dan kami harus mengejar pesawat jam 22.00
Ranah Minang memang excotic!!!
Reaksi:

2 comments:

  1. ayo ke lembah harau mas
    btw, kalo ke lembah harau jgn waktu musim panas dan kemarau. Karena air terjun cuma seupil mengalirnya
    hehe

    ReplyDelete