Sunday, January 27, 2013

Lika Liku Sebelum Perjalanan Minang

Sunday, January 27, 2013 Posted by rizka farizal No comments
Ceritanya sekitar bulan November 2012, teman saya yang bernama Konsep mengajak saya untuk pergi ke Sumatera Barat a.k.a Ranah Minang karena saat itu ada tiket promo yang mureh banget (cumin 60K PP dunk). Awalnya, saya ga begitu interest karena selaen JKT-PDG juga ada promo tiket JKT-SG yang harganya juga sama. Yah, saya lebih milih Jakarta-SG lah karena belom pernah ke sana. Selain itu, kalau saya ke Padang males juga hanya 3 hari di sana. Tapi, setelah mengajak adek dan teman tidak ada yang mau ke SG krn pada sibuk dan ada juga yang sudah pernah ke sana. Alhasil, saya langsung confirm ke Konsep minta dibooking-in tiket pesawatnya. Alhamdulillah masih ada tiket promonya. Karena menurut Iktri, sore di hari yang sama web si “maskapai” tersebut sudah traffic. YESSS dapet tiketnya!!! Akhirnya, saya, konsep, iktri, dan astrid sudah memiliki tiket masing-masing dan akan melakukan Minang Trip. Setelah tiket didapat, saya dan iktri (orang Minang juga) minta restu kepada keluarga masing-masing. Dann, Alhamdulillah keluarga kami fine-fine saja. So, untuk masalah akomodasi dan breakfast amanlah yah. Beberapa hari setelahnya, Konsep mendapatkan tiket KA Bdg-Jkt yang harganya mureh juga. KA kelas bisnis 14rb dan KA kelas excecutive 19rb (kalau tidak salah).

Sebulan sebelum keberangkatan, si Iktri dapet kerja di Jakarta dan dia bilang mungkin dia ga jadi ke Sumatera Barat. Hiks. Konsep, si orang yang ngebet banget pengen ke Ranah Minang dah minta request itinerary. Dia request Rumah Songket Pandai Sikek, Pulau Sikuai, Istana Pagaruyuang, Pantai Air Manis, Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lembah Anai, dll. Yayaya anggap saja waktu itu dia tergoda karena googling ini itu.

Sekitar tiga minggu sebelum keberangkatan, saya nginap di kosan astrid. Kami membicarakan itinerary Minang Trip juga. Awalnya Astrid request Bukittinggi (Ngarai Sianok, Jam Gadang), Padang (Pantai Air Manis), Sawahlunto (Museum KA), Danau Singkarak, Mentawai. Hmmm, karena saya orang Minang, sudah lama tinggal di Bukittinggi, sering travelling ke beberapa daerah Sumatera Barat jaman kecil dan skulah dulu sayapun menjelaskan kpd astrid ttg pariwisata dan akses transportasi di Sumatera Barat. Sebenarnya, masing-masing Kota dan Kabupaten di Sumatera Barat itu memiliki objek wisata yang menarik. Tapiiiii, sayangnya untuk menjangkau objek dari suatu daerah ke daerah laen itu menempuh waktu yang tidak singkat. Topografi daerah Sumatera Barat yang banyak memiliki gunung-lembah-hutan dll menyebabkan banyak akses jalan yang berliku-liku (misalnya perjalanan dari Bukittinggi-Maninjau musti melalui kelok 44, perjalanan dari Solok-Padang musti melalui daerah Sitinjau Lauik yang berkelok dan lumayan curam, perjalanan Padang-Bukittinggi musti melalui daerah Silaiang yang berkelok dan lumayan curam juga, dll). Selain topografinya, transportasi umum antar Kota/Kabupaten di Sumatera Barat menurut saya juga musti diperbaiki.

Akhirnya, dengan melihat kodisi daerah Sumatera Barat dan waktu keberangkatan kami saat Weekdays maka saya dan Astrid membuat itinerary sebagai berikut:

Hari 1
Bandara BIM – Bukittinggi (mampir di Lembah Anai, Pandai Sikek), Bukittinggi (Ngarai Sianok, Lobang Jepang, Benteng Vort de Kock, Kebon Binatang, Pasar Atas, Jam Gadang, Museum Kelahiran Bung Hatta)
Kuliner: Nasi Kapau, Martabak Mesir

Hari 2
Arah timur yaitu Ngalau Indah (Payakumbuh), Lembah Harau (Payakumbuh), Batu Angkek-Angkek (Tanah Datar), Istana Pagaruyung (Tanah Datar), Danau Singkarak, Bukittinggi
Kuliner: Sate Mak Syukur

Hari 3
Arah barat yaitu Ngarai Sianok, Puncak Lawang, Danau Maninjau, Museum Kelahiran Buya HAMKA, Pantai Air Manis, Bandara BIM
Kuliner: Resto di tepi Sungai Batang Antokan

Sawahlunto tidak masuk dalam list karena daerahnya mayan jauh dan tidak ada kereta dari Padang Panjang - Sawahlunto saat weekdays. L

Keesokan harinya, saya dan Astrid bertemu dengan Iktri (saat itu acaranya jalan-jalan ke Bogor). Kata Iktri, dia bakal ke Padang. Yah, berarti bikin Plan baru lagi. Oke! No Problem! Tinggal ubah aja yang hari kedua tujuan akhirnya Padang. Sedangkan hari ketiganya explore Padang saja. Hmm, *sambil mikir* tapi di Padang sedikit objek wisatanya. Tetiba kepikiran Painan karena saya belom pernah ke sana dan banyak objek wisata di sana serta perjalanan Padang-Painan lebih singkat dibanding Padang-Sawahlunto. So, untuk itinerary sudah fix dan tinggal diemailin ke masing-masing.

Beberapa hari pasca bertemu Astrid dan Iktri, si Konsep menayakan budget. Perkiraan saya seh sekitaran 500rb. Tapi menurut Konsep itu mahal dan dia meminta diminimalisir. Menurut Konsep, Traveling isn’t destination, but traveling is journey. Zzzzzzz. Berdasarkan rencana biaya yang telah saya buat itu, mahalnya di transportasi. Maklumlah, tiga hari sewa mobil teros. Akhirnya, saya mencoba meminimalisirnya dengan mencari kendaraan umum saja pada hari pertama, hari kedua rental mobil, dan hari ketiga naek mobil pick up (usul Iktri). Adooh, agak gimana gitu yah naek pick up??? Dann, si Astrid sangat tidak setuju dengan alesan HSE.

Dua minggu kemudian, Astrid dan Iktri ke Bandung dalam rangka taon baruan. Kami membicarakan Minang Trip lagi dan lagi. Setelah pertimbangan ini itu didapatlah kesimpulan hari 1 naek mobil travel (dengan itinerary seperti dicantumkan sebelumnya tapi minus Lembah Anai dan Pandai Sikek), hari 2 rental mobil dan itinerary seperti dicantumkan sebelumnya, hari 3 explore Padang dengan menggunakan public transportation.

Seminggu sebelum keberangkatan, Ibu saya bilang dia akan izin sehari saat saya berada di Sumatera Barat dan Ibu saya menawari untuk memakai mobil pribadi saja di hari pertama. Alhamdulillah, memang ibuku itu the best pokoknya. I Love my mom. Tapi, sehari kemudian si Konsep mengabari kalau dia tidak jadi ke Sumatera Barat karena ada jadwal seminar Tesis dan beberapa hari setelah seminar akan ada Sidang Tesis. Yahh, padahal dia yang dulunya cariin tiket promo dan paling ngebet ke Sumatera Barat. Anyway, memang hidup itu pilihan dan pastinya kita lebih pilih untuk masa depan. Semangat deh untuk Konsep. Karena si Konsep ga jadi ikut, Itinerary-nya adalah Hari 1: BIM-Bukittinggi (mampir di Lembah Anai), Bukittinggi (Panorama+Ngarai Sianok+Lobang Jepang, Benteng Vort de Kock+Kebon Binatang, Pasar Atas, Jam Gadang), Hari 2: Ngalau Indah, Lembah Harau, Batu Angkek-Angkek, Istana Pagaruyung, Danau Singkarak, Padang), Hari 3: Painan (Pantai Carocok, Bukit Lengkisau, Jembatan Akar, Pantai Air Manis), BIM.

Sehari sebelum keberangkatan, saya naek kereta sendiri ke Jakarta (padahal Konsep dan Iktri juga punya tiket KA-nya, tapi rencana Allah berbeda). Agak was was juga naek kereta karena saya tidak tau perjalanan dari St. Gambir ke Kuningan (kosan Astrid). Akhirnya, setelah nanya Astrid dan nanya sana sini orang yang ada di sekitar St. Gambir sampe juga di kosan Astrid. Beberapa menit saya sampe di kosan Astrid, si Astrid masih ada beban kerjaan. Dia dikejar deadline. Setelah Iktri sampe di kosan Astrid dan saya baru selesai makan, Astrid mengajak saya dan Iktri ke kantornya karena dia masih kepikiran kerjaan. Akhirnya kita berangkat jam 9 malem ke kantor Astrid. FYI, saya dan Astrid berpakaian layaknya fashion disaster gitu. Astrid cuma pake celana pendek untuk tidur + baju kaos, saya pake daster + celana + jaket + pashmina, Iktri karena belom ganti baju jadi masih okelah penampilannya. Yaudahlah yah malem juga dan gada yang liat juga. Kami di kantor Astrid hampir 2 jam. Setelah itu, balik ke kosan Astrid. Iktri tidur di kamar temannya anak UKM, Astrid packing, saya memberikan komen pakaian yang bakal dibawa Astrid nanti. Beberapa menit setelahnya, saya dan Astrid tidur dan sebelumnya mengaktivkan alarm sekitar jam 2 pagi karena akan berangkat dari kosan Astrid ke Bandara Soetta jam 3 PAGI.
Benar-benar lika-liku perjalanan yang tidak mudah. Pesan moralnya “Kita hanya bisa berencana tapi yang terjadi setelahnya hanya Allah yang membuat rencana-Nya”.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment