Wednesday, January 30, 2013

Ulang Tahun??? Makan Gratis dunk!!!

Wednesday, January 30, 2013 Posted by rizka farizal No comments
Ceritanya beberapa hari yang lalu, saya berulang tahun yg ke ** (*disensor karena umurnya dah tueee). Ternyata ada beberapa café di Bandung yang menyediakan paket makan gratis buat pengunjung yang berulang tahun. Karena ulang tahun saya di akhir bulan, maka gada salahnya saya manfaatkan. Gratisss ini. Tapi, sayangnya waktu ulang tahun kemaren, saya lagi ga enak badan. Ga nafsu makan. :((

Padahal, banyak loh café di Bandung yang ada paket gratisan untuk kamu yang berulang tahun. Cukup dengan menunjukan KTP, dikasih deh paket gratisannya.

Karena masalah kesehatan yang telah saya jelaskan tadi, saya hanya memanfaatkan 2 café dekat kosan saja. Adapun café-nya adalah:

Café Halaman
Café Halaman terletak di pertigaan Jl. Taman Sari dan Jl. Siliwangi. Di sini ada 4 paket yang dapat dipilih untuk kamu yang berulang tahun. Tapi saya hanya inget 2 paket karena keduanya menarik.

Paket a: Spagheti carbonara/bolognaise, ice cream, ice lemon/ice lemon tea
Paket b: *lupa
Paket c: *lupa
Paket d: Kakap asem manis, banana split, soft drink

Akhirnya, saya pilih paket a.
Hmm, kalo ditanya rasanya bagaimana? Definitely, very nice. Ya iya dunk kebanyakan orang juga sudah tau kalau café-nya memang recommended dalam hal cita rasa.

Pecel Lele LELA
Pecel Lele LELA terletak di Jl. Dipati Ukur seberang pom bensin. Di sini hanya ada 1 paket ulang tahunnya, yaitu:

Lele Original + nasi, es teh manis

Sebenarnya saya tidak begitu suka dengan lele. Karena bentuknya geli gitu. (oops liat bentuk fisik). Mungkin kalau disuruh pilih lele atau belut, saya pilih belut deh. Tapi, setelah cobain lele di pecel lele LELA, semuanya jadi berubah, Hmmm, maknyus banget. Gurih lagi. Oke, mule sekarang saya ga akan under estimated dengan lele deh. Enak ternyata…

Btw anyway busway, katanya kalo nama kamu LELA (tanpa embel-embel), kamu bisa makan gratis seumur hidup di tempat ini. Oke!!! Nanti kalo punya anak dikasih nama LELA aja deh. LOL

Sebenarnya masih ada lagi yang katanya menyediakan paket gratis untuk yang berulang tahun. Tapi, saya ga sempet ke sana. :(:( Contohnya:

Café Jimbaran
Café Jimbaran ini terletak di Jl. Taman Sari dan masih deket BALTOS. Kata teman saya, di sana juga ada paket makan gratis saat ulang tahun. Tapi, dia ga tau paketnya. Zzzz

Kuma Ramen
Kalau ini saya taunya dari hasil googling. Belom pernah ke sana dan tidak tau juga restonya yang mana. Kalau menurut orang yang nulis begini review-nya:

“Resto dengan menu ala masakan Jepang ini terletak di Jalan Cimanuk no 11a, Bandung. Menu yang tersedia dalam kedai ini terdiri dari ramen, udon, donburi (rice bowl), serta ocha yang bisa di–refill. Menurut teman yang ngajak makan di sini, kuah udon-nya rasanya lumayan mirip dengan udon di Jepang. Yang special di resto ini adalah untuk tiap menu masakan memiliki level pedas cabai mulai dari 0 hingga sesuai dengan selera pedas konsumen.”

Hmm, kalo dari review-nya seperti enak gitu. Entar deh dicari tempatnya. lalalala 

Saya baru menemukan itu saja café-nya. Adeuhhh.

Buat kamu yang berulang tahun, bisa dimanfaatkan tuh.

PS:
  • Jangan lupa bawa KTP
  • Jaga kesehatan pas hari ulang tahun supaya makannya lahap dan bisa nyicip semua café-nya :):):)

Tuesday, January 29, 2013

Review Rumah Makan dan Makanan Khas Padang

Tuesday, January 29, 2013 Posted by rizka farizal , 8 comments
Masakan Padang sudah terkenal ke pelosok nusantara dengan ciri khas pedas dan bersantan. Eits, jangan salah ga semua orang tau Rumah Makan dan Makanan yang hanya ada di Sumatera Barat. Tidak hanya Simpang Raya atau Sederhana aja loh yang worth it. Berikut saya ceritakan beberapa RM yang terkenal di Bukittinggi, Padang dan sekitarnya.

1.  Nasi Kapau Uni Cah
Menurut saya, ini adalah RM nasi kapau yang terlezat di Bukittinggi. Bahkan, sudah pernah dikunjungi Bapak Presiden SBY loh. Menu andalannya adalah tambunsu dan ayam rendang. Masih banyak lagi menunya seperti ayam balado, gulai ikan, kalio, gulai kapau jo jangek, dll. Porsi lauknya itu lumayan besar. Jadi, kalau ususnya kecil macem saya sedikit kewalahan menghabiskan satu porsi lauknya.

Tambunsu

2.  RM Puncak Kiambang
RM ini terletak di Jalan Padang – Bukittinggi sekitar 30 – 45 menit dari bandara BIM. Kelebihan dari rumah makan ini adalah view-nya yang langsung terlihat Gunung Tandikat. RM ini sudah dibuka dari pagi sampai malam tapi kalau pagi baru tersedia lontong sayur paku/pakis.

Katupek Gulai Paku

3.  Gulai Itik Lado Mudo Ngarai Sianok
Gulai itik atau bebek ini lezat banget loh. Bagi kamu yang ke Bukittinggi belum lengkap deh kalau tidak mencoba makanan ini. Rasanya sedikit pedas dan enakkk banget.

4.  RM Famili Benteng
RM ini terletak di depan pintu masuk Benteng Fort de Kock dan di Jl. Sudirman depan SD 04 Birugo (SD saya dulu loh). Menu andalannya adalah ayam pop. Beuh, lezat banget. Biasanya saya, keluarga termasuk sepupu saya sering nambah itu ayam popnya. Bahkan, sepupu saya pernah nambah 3 atau 4 gitu. Btw, RM ini punyanya teman SMP saya dulu. #bukanpromosi

5.  RM Selamat
RM ini terletak di kampong Cina Bukittinggi. Menu andalannya adalah rendang. Boleh dibilang masakan rendangnya yang paling enak di Bukittinggi.

6.  Sate Danguang-dangung
Sate ini paling enak di Bukittinggi. Sebenarnya di tempat ini juga tersedia martabak dan es tebak. Perbedaan sate ini dari sate lainnya adalah wangi aroma kapulaga yang menusuk hidung, bergantian dengan aroma kunyit dan merica. Selain itu, kuahnya berwarna agak kuning emas gitu.

7. RM Pak Datuak
RM ini banyak sekali cabangnya. Salah satunya di jalan Padang – Bukittinggi tidak jauh dari Lembah Anai. Makanannya variatif misalnya dendeng balado, ayam pop, belut goreng, dll.

8. Sate Mak Syukur
RM ini terletak di Padang Panjang tepatnya di Jalan Raya Padang -  Bukittinggi. Pada RM ini, kita dapat memilih penyajian yang sate dan ketupat+kuahnya dipisah. Jadi, kita dapat makan sesuai kebutuhan masing-masing. Makan sate tanpa kerupuk jangek (kerupuk kulit) yang gede belom lengkap rasanya kalau tidak dicoba. Hmmm.

9. RM Kiambang Raya
RM ini juga banyak cabangnya di Padang. Menu andalannya adalah ikan bakarnya. Ikan bakarnya, wooow, dari baunya yang tercium dari saat pembakaran sungguh, membuat air liur menetes. #lebaydotcom. Setelah dicicipi, rasa lezat ikan bakar dengan bumbunya yang terasa pedasnya langsung menendang lidah. Apalagi bagi yang suka kecap, dilumuri kecap dan percikan air asam bagi yang suka asam, akan terasa citarasa manis, asam dan pedas.

10. RM Lamun Ombak
RM Lamun Ombak yang disingkat LO ini juga ga kalah dengan RM Simpang Raya dan RM Sederhana dalam hal rasanya. Harganyapun juga lebih murah. Menu makanannya juga variatif tapi andalannya dalah ayam bakar. RM ini juga sudah memiliki banyak cabang di kota Padang.

11. Soto Padang di Jalan Pattimura Padang (*lupa namanya)
Pemiliknya adalah orang India. Soto padang ini terletak di Jalan Pattimura, Padang. Selain soto, di sana juga dijual lontong Padang, Sop Buntut, Katupek Pical, dll. Tapi, saya paling suka soto parunya.

12. Lapau Nasi Fuja
Lokasinya terletak di tepi laut muara Padang (Taplau). Menu seafoodnya serba dibakar dan khusus untuk ikannya bisa dipilih sendiri ikan mentahnya. Seperti di jimbaran gitu deh. Biasanya seafood yang tersedia hanya ikan, udang, dan cumi. Karena lokasinya di tepi pantai banget, rasa makanannya jadi tambah maknyusss.

13.  Martabak Kubang Hayuda
Martabak Kubang atau dikenal juga dengan martabak mesir ini mirip dengan martabak telor. Tapi, perbedaannya terdapat pada isinya yang dilumuri daging sapi yang banyakkk dan makannya pake kuah seperti kuah pempek yang asem-pedes gitu. Hmm, enak bangetlah. Biasanya kalo pulang kampong pasti saya makan ini minimal sekali maksimal bisa berkali-kali dan tidak pernak bosen. :D

Martabak Kubang

Hmmm, kalau tadi saya cerita Rumah Makannya sekarang saya cerita beberapa makanan khas yang ada di Sumatera Barat dan bisa dijadikan oleh-oleh. hihihi

1. Kerupuk Sanjai Balado
Kerupuk ini sudah familiar di nusantara. Biasanya ini menjadi oleh-oleh setiap orang yang pernah ke Sumatera Barat. Kerupuk Sanjai sendiri pertama kali dibuat di desa Sanjai, Bukittinggi. Untuk mengabadikan namanya diberilah nama kerupuk sanjai. Sayangnya, kerupuk sanjai balado yang terkenal sekarang dibuat oleh orang China misalnya Shirley, Christine Hakim, Mekar, dll. Kalau di Bukittinggi yang terkenal kerupuk sanjai Nitta dan pemiliknya orang Minang.

Karupuak Sanjai Balado

2. Karak Kaliang
Bentuknya seperti angka delapan. Rasanya bervariasi misalnya karak kaliang original, karak kaliang bawang, apa lagi yah???

Karak Kaliang (Sumber: Googling)

3. Pisang Kapik
Pisang kapik ini seperti pisang bakar. Tapi, setelah dibakar pisangnya dikapik/dipenyet dan ditaburi kelapa+manisan.

Pisang Kapik

4. Rinuak
Ini adalah makanan khas Danau Maninjau. Teman saya yang bernama Astrid suka banget dengan makanan ini dan ngeluh gitu kenapa ga dari dulu saya perkenalkan makanan tersebut. Bentuknya seperti perkedel tapi isinya ikan yang sangat mini.


5. Ikan Bada dan Ikan Bilih
Menurut saya ikan tersebut sama saja hanya beda produksi. Ikan bada berasal dari Danau Maninjau sedangkan ikan bilih dari Danau Singkarak.

Ikan Bilih atau Ikan Bada

6. Pensi
Pensi merupakan kerang versi mini. Bentuk penyajiannya bisa bervariasi misalnya dibuat sop pensi yang sering dijual di Danau Maninjau, pensi balado, dan gulai pensi.

Pensi

7. Pinyaram
Pinyaram merupakan salah satu kue basah di minang. Makanan ini banyak diproduksi di desa Kayu Tanam, Pariaman. Apabila kita melakukan perjalanan Padang-Bukittinggi pasti melewati daerah ini dan banyak warung yang menjual di tepi jalan.

Pinyaram

8. Bika
Bika ini mirip wingko babat di Semarang tapi versi gede. Bika ini dibuat dari tepung beras dan dimasak dengan cara dibakar di atas tembikar dan dibalut daun apabila dimasak. Bika paling banyak terdapat di Desa Koto Baru (Jl. Padang-Bukittinggi entah km berapa). Adapun, toko yang paling terkenal adalah Bika Simariana.

Bika

9. Galamai
Galamai adalah makanan khas Payakumbuh. Bentuknya seperti dodol yang warnanya coklat kehitaman.

Galamai

10. Bareh Randang
Bareh randang juga makanan khas Payakumbuh. Apabila mendengar katanya mungkin kita akan teringat dengan masakan orang minang yang berwarna hitam dan pastinya enak. Ya memang benar bareh randang adalah masakan orang minang dan rasanya enak, tapi tidak dengan warnanya hitam, bareh randang berwana putih. Nah loh!

Bareh Randang

11.  Batiah
Batiah adalah makanan yang terbuat dari ketan yang dikeringkan. Ketan tersebut sebelumnya ditanak kemudian dikeringkan dan digoreng. Jajanan ini telah menjadi icon dari kota payakumbuh yakni kota batiah.

Batiah

12. Rendang Telur
Rendang telur merupakan inovasi masakan rendang yang dipelopori oleh rang payakumbuh. Rendang telur berbeda dengan rendang biasa. Kompisisi utama pengganti daging adalah telur yang telah diolah menjadi seperti kerupuk. Kemudian dicampur dengan bumbu rendang yang tentu nikmat sekali.

Rendang Telur


13. Kipang Kacang
Makanan yang terbuat dari kacang tanah dan gula merah mirip noga atau ampyang yang biasa dibuat orang Jawa. Rasanya yang manis, gurih, dan renyah. Makanan ini menjadi cemilan sehari-hari bagi masyarakat Tanah Datar dan Balingka, Kabupaten Agam. Cocok dihidangkan degan secangkir teh atau kopi. Yang khas dari kipang kacang adalah dau pisang yang dijadikan alas pada setiap kemasannya.

Kipang Kacang

14. Palai Bada
Palai Bada adalah sebuah makanan tradisional masyarakat pesisir Selatan atau Painan, terbuat dari campuran ikan teri, kelapa parut, cabe dan bumbu-bumbu lainnya. Setelah itu dibungkus dengan daun pisang dan dibakar diatas bara tempurung. Tidak memakai penyedap rasa dan lain-lainnya yang berbau kimia. Betul-betul alami. Bagi orang Painan biasanya Palai Bada ini dijadikan sambal sebagai teman makan nasi.

Palai Bada

Itulah beberapa kuliner yang ada di daerah Sumatera Barat. Berdasarkan yang telah dijelaskan di atas tidak semua makanan di Sumatera Barat itu pedas loh ada yang manis, asem, dan crispy kan.

Selamat mencoba bagi yang ingin mencoba!!!

Minang Trip 2013

Tuesday, January 29, 2013 Posted by rizka farizal 2 comments
Tepat tanggal 14 – 16 Januari 2013 saya, Iktri, dan Astrid melakukan first trip kami di tahun 2013. Minang trip yang juga kampong kelahiran saya dan Iktri merupakan first trip kami. Adapun itinerary kami adalah sebagai berikut:

Hari 1
Berangkat dari kosan Astrid di daerah Kuningan menuju Bandara Soetta jam 3 pagi. Flight kami sekitar jam 5.30. Pada waktu itu, flight-nya on time sehingga jam 7 sudah sampai di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Setelah itu, kami dijemput ibu saya. Jadi, langsung berangkat ke Bukittinggi. Dalam perjalanan tersebut, kami sempat berhenti di RM Kiambang (view-nya bagus banget), Lembah Anai, dan RM Nasi Kapau Uni Cah.
Sekitar jam 11 sampai di rumah saya. Setelah istirahat, shalat, dll saya, Iktri, dan Astrid berencana malala (bahasa Minang red). Adapun tempat yang kami kunjungi adalah:

Bandara Internasional Minangkabau (BIM)

View RM. Puncak Kiambang

Foto sama ibuku di Lembah Anai

Panorama
Panorama ini memiliki objek Lubang Jepang yang konon panjangnya sekitar 1400 m (tapi yang hanya dibuka untuk umum sekitar 500 m). Lubang ini dibangun tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan tentara Jepang dalam PD II dan perang Asia Timur Raya (Dai Tora Senso) atas perintah pemerintah militer Angkatan Darat Jepang untuk Sumatera berkedudukan di Bukittinggi dengan Komandan Tentara Pertahanan Sumatera Jend. Watanabe. Dengan mengunjungi Lubang Jepang, kita akan merasakan sensasi yang sangat unik. Didalamnya terdapat ruang makan, ruang minum, ruang penyiksaan, dapur, ruang pertemuan, ruang tidur, ruang amunisi, ruang sidang, dan ruang pekerja. Ada juga yang masih direncanakan pembangunannya tapi tidak tau kapan selesainya yaitu museum geologi, maket geologi dan tatakota, ruang patung akrilik, ruang lukisan dan foto, ruang istirahat, mini teater, mushala dan toilet. Pintu masuk Lubang Jepang ini terdapat dibeberapa tempat seperti  di tepi Ngarai Sianok, Taman Panorama, dan disamping Istana Bung Hatta atau Tri Arga. Tapi yang dibuka untuk umum hanya pintu yang ada di Taman Panorama. Adapun untuk memasuki Lobang Jepang ini, kami harus menuruni 132 anak tangga. Hmm, kalau turun mah nyantai aja tapi kalau balik kita kan ngos-ngosan naik si anak tangga ini.
Selain Lobang Jepang, kami juga dapat melihat view dari Ngarai Sianok yang konon katanya mirip dengan Grand Canyon di Amerika (hmmm).

Panorama Ngarai Sianok dan Lobang Jepang

Benteng Fort de Kock, Jembatan Limpapeh, Kebon Binatang, Rumah Adat Baanjuang
Semua objek tersebut terletak dalam satu komplek.
Benteng Fort de Kock merupakan benteng peninggalan kolonial Belanda. Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 pada masa Baron Hendrik Markus De Kock sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Karena itulah benteng ini terkenal dengan nama Benteng Fort De Kock. Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya perang Paderi pada tahun 1821-1837. Disekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Dari lokasi wisata ini kita dapat menikmati Kota Bukittinggi dan daerah sekitarnya. Misalnya kantor Walikota Bukittinggi, Gunung Merapi – Singgalang. Tempat ini menjadi favorit untuk anak muda macah (pacaran red). Karena itu saya agak males ke sana.
Jembatan Limpapeh menghubungkan Benteng Fort de Kock dengan Kebun Binatang. Jembatan ini berada di atas Jl. Ahmad Yani Bukittinggi.
Kebun Binatang Bukittinggi yang bernama Taman Marga Satwa Bukittinggi merupakan satu-satunya kebun binatang yang lengkap di Sumatera Barat. Kebun Binatang ini dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda sekitar tahuan 1900-an. Terdapat beraneka fauna di sana. Saat itu, kami tidak terlalu mengelilingi lokasinya karena sudah agak capek. Selain fauna, di kebun binatang ini juga terdapat museum zoology dan Rumah Adat Baanjuang.

Benteng Fort de Kock

Jembatan Limpapeh

View Gunung Singgalang dari Jembatan Limpapeh

Kebun Binatang dan Rumah Adat Baanjuang

Pasar Atas Bukittinggi
Pasar Atas Bukittinggi merupakan pasar tradisional yang menjual textile, aneka kerajinan, souvenir, mebel, makanan dan minuman, dll. Sebenarnya kalau kita turun dari Pasar Atas ini dan melalui Pasar Lereng, kita akan menjumpai Pasar Bawah. Tapi, Pasar Bawah mayoritas isinya bahan masakan dan makanan. Yaa, kita kan ga sempat masak-masak begitu. #ngeles hihihi.

Jam Gadang
Jam Gadang merupakan icon kota Bukittinggi. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazin Sutan Gigi Ameh, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.
Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda dan juga titik nol kota Bukittinggi. Adapun keunikan dari Jam Gadang adalah angka romawi IV ditulis IIII.

Jam Gadang

Hari 2
Berangkat dari rumah jam 8.00. Pada hari itu, kami ditemani sepupu saya plus satu orang driver tentunya. Drivernya agak aneh dan sedikit suka garing. So, perjalanan menjadi tidak begitu membosankan. Adapun tujuan kami adalah Payakumbuh - Tanah Datar - Padang Panjang – Padang

Ngalau Indah (Payakumbuh)
Ngalau Indah adalah nama sebuah goa yang berada di lereng perbukitan yang terdapat di Kota Payakumbuh. Di dalamnya terdapat batu stalagmit dan stalagtit yang terbentuk dari proses endapan kapur yang berlangsung ratusan tahun. Kedua jenis batu tersebut mempunyai ukiran beraneka macam bentuk, dengan ornamen-ornamen yang menakjubkan, seperti: gong, ruang kamar tidur, kursi, kelambu, rahang manusia dll.

Ngalau Indah

Lembah Harau (Payakumbuh)
Lembah Harau adalah tempat favorit Astrid selama trip di Sumatera Barat. Katanya struktur geologinya bagus. Gileee geologist abis.
Keindahan dan pesona pemandangan alam Lembah Harau ini sangat lengkap. Sejak awal memasuki kawasan wisata, kami dimanjakan dengan celah alam, air terjun, tebing, dan sawah. Selain wisata alam, dibangun pula fasilitas seperti tempat kemah, kolam dan jalan setapak yang dapat digunakan untuk hiking mengelilingi hutan di kawasan wisata. Kami sempat beberapa kali berhenti hanya untuk berfoto-fiti. :D
Lokasi wisata Lembah Harau dibagi menjadi dua tempat yang bisa kami pilih, yaitu Sarasah Boenta dan Akar Berayun. Jika memilih yang lebih alami bisa melalui Sarasah Boenta yang katanya memiliki beberapa buah air terjun dengan pemandangan yang masih asli. Sedangkan jika berharap mendapatkan fasilitas yang lebih lengkap, Akar Berayun pilihannya karena selain memiliki air terjun, Akar Berayun juga telah dibangun kolam renangnya serta cottage dan resort.
Tak hanya itu, di Akar Berayun Lembah Harau, kita juga bisa meilihat penangkaran kupu-kupu, melihat beberapa hewan di Kebun Binatang, dan mencoba menaiki alat transportasi tradisional Sumatera Barat, Bendi. Bagi yang ingin menaiki tebing juga bisa dilakukan dari Akar Berayun, dengan fasilitas menaiki tebing sudah dibangun dengan baik, sehingga kita dapat naik sampai dengan ke puncak dan menikmati keindahan pemandangan Lembah Harau dari atas bukit. (Menurut sepupu saya begitu).
Pada trip kali ini, kami memilih Sarasah Boenta karena menurut si driver kami lebih interest. Selain itu, saya juga sudah pernah sebelumnya ke Akar Berayun (pengen yang beda aja) dan Akar Berayun juga memiliki penangkaran kupu-kupu (mustahil lah bagi Astrid).

Lembah Harau

Batu Angkek-Angkek (Sungayang, Tanah Datar)
Perjalanan dari Lembah Harau ke Batu Angkek-angkek memakan waktu yang lama sekitar 2 jam. Lumayan untuk tidur. Lokasi Batu Angkek-angkek ini mungkin agak sulit ditemukan oleh tourist karena penunjuk arahnya ga user tourism. Misalnya: tidak ada di google map dan tidak ada rambu-rambu selama perjalanan. Hanya bermodalkan bertanya kepada penduduk sekitar saja kita dapat sampai di lokasinya. Setelah sampai ditujuan ternyata agak under expectation karena lokasinya hanya di dalam rumah. Yah wajarlah gada di google map.
Keunikan dari Batu Angkek-angkek ini adalah batunya tidak semua orang bisa mengangkatnya. Konon katanya, apabila kita mampu mengangkat batu tersebut maka doa yang kita panjatkan Insya Allah akan terkabul dan sebaliknya apabila kita tidak mampu mengangkatnya maka doa kita sulit terkabul. Oops, jangan bilang syirik dululah. Inikan just 4 fun aja. Terangkat/tidaknya ga usah dicemasin. Yah, kalau kita tidak bisa mengangkatnya anggap aja batunya sotoyyy (Iktri red).

Batu Angkek-Angkek

Istana Pagaruyuang (Batu Sangkar, Tanah Datar)
Lokasi dari Batu Angkek-angkek ke Istana Pagaruyung tidak begitu jauh. Kurang lebih 15 menit sudah sampai di Istana Pagaruyuang. Sebenarnya, sebelum ke Istana Pagaruyuang kami melewati Batu Batikam. Tapi kami hanya lewat saja.
Istana Pagaruyuang merupakan istana Raja Minangkabau. Istana yang kami kunjungi itu adalah replikanya saja karena istana aslinya sudah terbakar. Istana replikanya sajapun sudah beberapa kali terbakar. Terakhir sekitar tahun 2007. Pada saat mengunjunginya, kami hanya berfoto di bagian luar saja karena bagian dalamnya tidak terbuka. Mungkin belom selesai direnovasi atau mebelnya belom lengkap sepertinya yah.

Istana Pagaruyuang

Danau Singkarak (Tanah Datar -  Solok)
Danau Singkarak merupakan danau terbesar di Sumatera Barat. Menurut saya dibandingkan Danau Maninjau saya lebih suka Danau Maninjau. Karena bentuk Danau Maninjau pas gitu (panjang dan lebar tidak begitu signifikan). Selain itu, view-nya bisa dilihat dari atas karena untuk mengunjunginya dari arah Bukittinggi musti melalui kelok 44. Tapi, karena waktu trip kami hanya sebentar, kami tidak sempat ke sana.
Lokasi yang bagus untuk melihat Danau Singkarak adalah Tanjung Mutiara. Di sana banyak perahu yang tersedia apabila kita ingin berkeliling danaunya. Adapun makanan khas dari Danau Singkarak adalah ikan bilih yang kalau di Danau Maninjau namanya ikan bada.

Danau Singkarak

Explore Padang
Pada malam hari, kami berkeliling kota Padang tapi mayoritas hanya di kendaraan saja. Adapun yang kami lewati adalah Jembatan Siti Nurbaya, GOR, Masjid-masjid, dll. Tapi karena malam jadi ga begitu interest.

Hari 3
Seperti biasa kami berangkat jam 8.00. Tujuan kami adalah Painan dan balik lagi ke Padang karena flight kami jam 22.00. Saat itu, kami ditemani om, tante, dan sepupu Iktri selama trip.

Pantai Carocok (Painan, Pesisir Selatan)
Pantai ini bagus menurut kami. Pasirnya putih dan air lautnya lumayan jernih seperti danau. Keunikan pantai ini adalah adanya jembatan yang menghubungkan antar pulau seperti Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Jembatan di pantai Carocok yang bagus yaitu menghubungkan tepi pantai ke Pulau Kereta. Selain itu, ada Pulau Cingkuak tapi ditempuh dengan menggunakan boat. Pulau Cingkuak sebenarnya memiliki benteng peninggalan Portugis tapi waktu kami lihat tidak begitu interest sehingga tidak difoto. Tetapi view Pulau Cingkuak itu bagus buangettt menurut saya bagaikan lukisan gitu.
Sebenarnya, apabila kami mengunjunginya di saat weekend/holiday tersedia water sport yang harganya murehhhh banget. Tapi sayang water sport tidak ada di saat weekdays.

Pantai Carocok

Bukit Lengkisau (Painan, Pesisir Selatan)
Letaknya tidak jauh dari Pantai Carocok sekitar 5-10 menitlah apabila menggunakan kendaraan. View-nya bagus banget menurut kami. Kalau melihat ke kiri dapat melihat Pantai Carocok nan elok namun kalau melihat sebelah kanan dapat melihat bukit dan perumahan daerah Painan. Konon katanya, di Bukit Lengkisau sering diadakan Parahlayang. Wow, bener-bener membutuhkan nyali yang kuat tuh.

Bukit Lengkisau

Jembatan Akar (Pesisir Selatan)
Keunikannya adalah jembatannya dibuat dari akar pohon. Sebenarnya agak gamang waktu melintasinya karena menurut saya tidak begitu kokoh dan ditambah lagi saat kami mengunjungi lokasinya sedang ramai oleh wisatawan. So, sering goyang-goyang tuh jembatan. Apabila melihat ke bawah juga langsung ada sungai dengan arus yang lumayan deras. Mungkin kalau boleh usul, selain melihat jembatan dan sungai perlu ditambahkan olahraga rafting biar makin menarik wisatawan. Just my opinion.

Jembatan Akar

Air Terjun Bayang Sani (Pesisir Selatan)
Letaknya tidak jauh dari Jembatan Akar sekitar 10 menit apabila menggunakan kendaraan. Air terjun ini berbeda dari air terjun yang ada di Lembah Anai dan Lembah Harau. Air terjunnya lebih lebar dan bertingkat-tingkat jadi lumayan aseklah digunakan untuk maen aer. Konon katanya, air terjun ini sering digunakan none-none Belanda jaman kolonial. Sayangnya, kami tidak cukup waktu untuk ke sana sehingga hanya berfoto dari kejauhan saja.

Air Terjun Bayang Sani

Pantai Air Manis (Padang)
Pantai Air Manis merupakan icon kota Padang. Siapa seh yang ga tau cerita Malin Kundang? Udah taulah yah cerita anak yang dikutuk ibunya jadi batu karena kedurhakaannya.
Waktu kecil, saya agak kepo dengan nama tempatnya air manis. Pernah loh saya menyicip airnya terus rasanya ternyata tidak manis. CERDASSS.

Pantai Air Manis

Sampai di sana perjalanan kami dan kami harus mengejar pesawat jam 22.00
Ranah Minang memang excotic!!!

Sunday, January 27, 2013

Lika Liku Sebelum Perjalanan Minang

Sunday, January 27, 2013 Posted by rizka farizal No comments
Ceritanya sekitar bulan November 2012, teman saya yang bernama Konsep mengajak saya untuk pergi ke Sumatera Barat a.k.a Ranah Minang karena saat itu ada tiket promo yang mureh banget (cumin 60K PP dunk). Awalnya, saya ga begitu interest karena selaen JKT-PDG juga ada promo tiket JKT-SG yang harganya juga sama. Yah, saya lebih milih Jakarta-SG lah karena belom pernah ke sana. Selain itu, kalau saya ke Padang males juga hanya 3 hari di sana. Tapi, setelah mengajak adek dan teman tidak ada yang mau ke SG krn pada sibuk dan ada juga yang sudah pernah ke sana. Alhasil, saya langsung confirm ke Konsep minta dibooking-in tiket pesawatnya. Alhamdulillah masih ada tiket promonya. Karena menurut Iktri, sore di hari yang sama web si “maskapai” tersebut sudah traffic. YESSS dapet tiketnya!!! Akhirnya, saya, konsep, iktri, dan astrid sudah memiliki tiket masing-masing dan akan melakukan Minang Trip. Setelah tiket didapat, saya dan iktri (orang Minang juga) minta restu kepada keluarga masing-masing. Dann, Alhamdulillah keluarga kami fine-fine saja. So, untuk masalah akomodasi dan breakfast amanlah yah. Beberapa hari setelahnya, Konsep mendapatkan tiket KA Bdg-Jkt yang harganya mureh juga. KA kelas bisnis 14rb dan KA kelas excecutive 19rb (kalau tidak salah).

Sebulan sebelum keberangkatan, si Iktri dapet kerja di Jakarta dan dia bilang mungkin dia ga jadi ke Sumatera Barat. Hiks. Konsep, si orang yang ngebet banget pengen ke Ranah Minang dah minta request itinerary. Dia request Rumah Songket Pandai Sikek, Pulau Sikuai, Istana Pagaruyuang, Pantai Air Manis, Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lembah Anai, dll. Yayaya anggap saja waktu itu dia tergoda karena googling ini itu.

Sekitar tiga minggu sebelum keberangkatan, saya nginap di kosan astrid. Kami membicarakan itinerary Minang Trip juga. Awalnya Astrid request Bukittinggi (Ngarai Sianok, Jam Gadang), Padang (Pantai Air Manis), Sawahlunto (Museum KA), Danau Singkarak, Mentawai. Hmmm, karena saya orang Minang, sudah lama tinggal di Bukittinggi, sering travelling ke beberapa daerah Sumatera Barat jaman kecil dan skulah dulu sayapun menjelaskan kpd astrid ttg pariwisata dan akses transportasi di Sumatera Barat. Sebenarnya, masing-masing Kota dan Kabupaten di Sumatera Barat itu memiliki objek wisata yang menarik. Tapiiiii, sayangnya untuk menjangkau objek dari suatu daerah ke daerah laen itu menempuh waktu yang tidak singkat. Topografi daerah Sumatera Barat yang banyak memiliki gunung-lembah-hutan dll menyebabkan banyak akses jalan yang berliku-liku (misalnya perjalanan dari Bukittinggi-Maninjau musti melalui kelok 44, perjalanan dari Solok-Padang musti melalui daerah Sitinjau Lauik yang berkelok dan lumayan curam, perjalanan Padang-Bukittinggi musti melalui daerah Silaiang yang berkelok dan lumayan curam juga, dll). Selain topografinya, transportasi umum antar Kota/Kabupaten di Sumatera Barat menurut saya juga musti diperbaiki.

Akhirnya, dengan melihat kodisi daerah Sumatera Barat dan waktu keberangkatan kami saat Weekdays maka saya dan Astrid membuat itinerary sebagai berikut:

Hari 1
Bandara BIM – Bukittinggi (mampir di Lembah Anai, Pandai Sikek), Bukittinggi (Ngarai Sianok, Lobang Jepang, Benteng Vort de Kock, Kebon Binatang, Pasar Atas, Jam Gadang, Museum Kelahiran Bung Hatta)
Kuliner: Nasi Kapau, Martabak Mesir

Hari 2
Arah timur yaitu Ngalau Indah (Payakumbuh), Lembah Harau (Payakumbuh), Batu Angkek-Angkek (Tanah Datar), Istana Pagaruyung (Tanah Datar), Danau Singkarak, Bukittinggi
Kuliner: Sate Mak Syukur

Hari 3
Arah barat yaitu Ngarai Sianok, Puncak Lawang, Danau Maninjau, Museum Kelahiran Buya HAMKA, Pantai Air Manis, Bandara BIM
Kuliner: Resto di tepi Sungai Batang Antokan

Sawahlunto tidak masuk dalam list karena daerahnya mayan jauh dan tidak ada kereta dari Padang Panjang - Sawahlunto saat weekdays. L

Keesokan harinya, saya dan Astrid bertemu dengan Iktri (saat itu acaranya jalan-jalan ke Bogor). Kata Iktri, dia bakal ke Padang. Yah, berarti bikin Plan baru lagi. Oke! No Problem! Tinggal ubah aja yang hari kedua tujuan akhirnya Padang. Sedangkan hari ketiganya explore Padang saja. Hmm, *sambil mikir* tapi di Padang sedikit objek wisatanya. Tetiba kepikiran Painan karena saya belom pernah ke sana dan banyak objek wisata di sana serta perjalanan Padang-Painan lebih singkat dibanding Padang-Sawahlunto. So, untuk itinerary sudah fix dan tinggal diemailin ke masing-masing.

Beberapa hari pasca bertemu Astrid dan Iktri, si Konsep menayakan budget. Perkiraan saya seh sekitaran 500rb. Tapi menurut Konsep itu mahal dan dia meminta diminimalisir. Menurut Konsep, Traveling isn’t destination, but traveling is journey. Zzzzzzz. Berdasarkan rencana biaya yang telah saya buat itu, mahalnya di transportasi. Maklumlah, tiga hari sewa mobil teros. Akhirnya, saya mencoba meminimalisirnya dengan mencari kendaraan umum saja pada hari pertama, hari kedua rental mobil, dan hari ketiga naek mobil pick up (usul Iktri). Adooh, agak gimana gitu yah naek pick up??? Dann, si Astrid sangat tidak setuju dengan alesan HSE.

Dua minggu kemudian, Astrid dan Iktri ke Bandung dalam rangka taon baruan. Kami membicarakan Minang Trip lagi dan lagi. Setelah pertimbangan ini itu didapatlah kesimpulan hari 1 naek mobil travel (dengan itinerary seperti dicantumkan sebelumnya tapi minus Lembah Anai dan Pandai Sikek), hari 2 rental mobil dan itinerary seperti dicantumkan sebelumnya, hari 3 explore Padang dengan menggunakan public transportation.

Seminggu sebelum keberangkatan, Ibu saya bilang dia akan izin sehari saat saya berada di Sumatera Barat dan Ibu saya menawari untuk memakai mobil pribadi saja di hari pertama. Alhamdulillah, memang ibuku itu the best pokoknya. I Love my mom. Tapi, sehari kemudian si Konsep mengabari kalau dia tidak jadi ke Sumatera Barat karena ada jadwal seminar Tesis dan beberapa hari setelah seminar akan ada Sidang Tesis. Yahh, padahal dia yang dulunya cariin tiket promo dan paling ngebet ke Sumatera Barat. Anyway, memang hidup itu pilihan dan pastinya kita lebih pilih untuk masa depan. Semangat deh untuk Konsep. Karena si Konsep ga jadi ikut, Itinerary-nya adalah Hari 1: BIM-Bukittinggi (mampir di Lembah Anai), Bukittinggi (Panorama+Ngarai Sianok+Lobang Jepang, Benteng Vort de Kock+Kebon Binatang, Pasar Atas, Jam Gadang), Hari 2: Ngalau Indah, Lembah Harau, Batu Angkek-Angkek, Istana Pagaruyung, Danau Singkarak, Padang), Hari 3: Painan (Pantai Carocok, Bukit Lengkisau, Jembatan Akar, Pantai Air Manis), BIM.

Sehari sebelum keberangkatan, saya naek kereta sendiri ke Jakarta (padahal Konsep dan Iktri juga punya tiket KA-nya, tapi rencana Allah berbeda). Agak was was juga naek kereta karena saya tidak tau perjalanan dari St. Gambir ke Kuningan (kosan Astrid). Akhirnya, setelah nanya Astrid dan nanya sana sini orang yang ada di sekitar St. Gambir sampe juga di kosan Astrid. Beberapa menit saya sampe di kosan Astrid, si Astrid masih ada beban kerjaan. Dia dikejar deadline. Setelah Iktri sampe di kosan Astrid dan saya baru selesai makan, Astrid mengajak saya dan Iktri ke kantornya karena dia masih kepikiran kerjaan. Akhirnya kita berangkat jam 9 malem ke kantor Astrid. FYI, saya dan Astrid berpakaian layaknya fashion disaster gitu. Astrid cuma pake celana pendek untuk tidur + baju kaos, saya pake daster + celana + jaket + pashmina, Iktri karena belom ganti baju jadi masih okelah penampilannya. Yaudahlah yah malem juga dan gada yang liat juga. Kami di kantor Astrid hampir 2 jam. Setelah itu, balik ke kosan Astrid. Iktri tidur di kamar temannya anak UKM, Astrid packing, saya memberikan komen pakaian yang bakal dibawa Astrid nanti. Beberapa menit setelahnya, saya dan Astrid tidur dan sebelumnya mengaktivkan alarm sekitar jam 2 pagi karena akan berangkat dari kosan Astrid ke Bandara Soetta jam 3 PAGI.
Benar-benar lika-liku perjalanan yang tidak mudah. Pesan moralnya “Kita hanya bisa berencana tapi yang terjadi setelahnya hanya Allah yang membuat rencana-Nya”.